Perubahan Post Mortem

2.1 KEMATIAN SEL

            Kematian sel(nekrosis sel)  terjadi apabila suatu rangsangan terlalu kuat dan berkepanjangan. Nekrosis sel dapat bersifat luas didalam tubuh sehingga menyebabkan kematian individu.

kematian1

Beberapa ahli mengatakan bahwa mendatarnya EEG(electroencephalogram), yang berarti berhentinya fungsi otak dapat dianggap saat kematian, tanpa menghiraukan fungsi alat tubuh lainnya. Kematian tubuh disebut juga sebagai stomatic death, adalah suatu kematian sel (nekrosis) yang terjadi secara umum. Sebab-sebab kematian sel:

  • Trauma

Terjadi apabila suatu sel tidak lagi dapat beradaptasi dengan baik terhadap rangsangan. Berat ringan trauma akan menentukan apakah sel terseut dapat pulih lagi atau terjadi kematian

  • Hipoksia lama

Hipoksia adalah penurunan konsentrasi oksigen di dalam darah. Oksigen diperlukan oleh mitokondria untuk fosforilasi oksidatif dan pembentukan ATP. Pada saat sel-sel kekurangan ATP, maka mereka tidak dapat lagi mempertahankan fungsinya.

  • Infeksi

Adalah kerusakan yang terjadi secara langsung atau tidak langsung akibat reaksi imun dan peradangan yang muncul sebagai respon terhadap mikroorganisme

  • Akibat kematian sel

Sel-sel yang mati akan mengalami pencairan atau koagulasi kemudian dibuang atau diisolasi dari jaringan yang baik oleh sel-sel imun. Apabila dapat terjadi mitosis dan daerah nekrosisnya tidak terlalu luas, maka sel-sel baru dengan jenis yang sama akan mengisi ke kosongan ruang yang ditinggalkan sel mati. Pada ruang yang kosong tersebut akan timbul jaringan parut apabila pembelahan sel tidak terjadi atau apabila daerah nekrosis terlalu luas.

 

2.2 PENGERTIAN POST MORTEM

  • Post mortem adalah meninggal/setelah kematian.
  • Perubahan-perubahan yang timbul setelah kematian dinamakan post mortem.

 

2.3 PERUBAHAN POST MORTEM

Perubahan-perubahan post mortem  ini juga dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor. Diantaranya, suhu sekitar, suhu tubuh pada saat terjadi kematian dan adanya infeksi umum.

1.      Algor Mortis

Adalah perubahan suhu badan, sehingga suhu badan menjadi kurang lebih sama dengan suhu sekitarnya. Algor mortis merupakan salah satu perubahan yang dapat kita temukan pada mayat yang sudah berada pada fase lanjut post mortem. Perubahan ini terjadi karena metabolisme yang terhenti. Terdapat dua hal yang mempengaruhi cepatnya penurunan suhu yakni:

Faktor internal

  • Suhu tubuh saat mati

Sebab kematian, misalnya perdarahan otak dan septikemia, mati dengan suhu tubuh tinggi. Suhu tubuh yang tinggi pada saat mati ini akan mengakibatkan penurunan suhu tubuh menjadi lebih cepat. Sedangkan, pada hypothermia tingkat penurunannya menjadi sebaliknya.

  • Keadaan tubuh mayat

Pada mayat yang tubuhnya kurus, tingkat penurunannya menjadi lebih cepat.

Faktor eksternal

  • Suhu medium

Semakin besar selisih suhu antara medium dengan mayat maka semakin cepat terjadinya penurunan suhu. Hal ini dikarenakan kalor yang ada di tubuh mayat dilepaskan lebih cepat ke medium yang lebih dingin.

  • Keadaan udara di sekitarnya

Pada udara yang lembab, tingkat penurunan suhu menjadi lebih besar. Hal ini disebabkan karena udara yang lembab merupakan konduktor yang baik. Selain itu, Aliran udara juga makin mempercepat penurunan suhu tubuh mayat

  • Jenis medium

Pada medium air, tingkat penurunan suhu menjadi lebih cepat sebab air merupakan konduktor panas yang baik sehingga mampu menyerap banyak panas dari tubuh mayat.

  • Pakaian mayat

Semakin tipis pakaian yang dipakai maka penurunan suhu mayat semakin cepat. Hal ini dikarenakan kontak antara tubuh mayat dengan suhu medium atau lingkungan lebih mudah.

 

2.      Rigor Mortis

Kaku mayat atau rigor mortis adalah kekakuan yang terjadi pada otot yang kadang-kadang disertai dengan sedikit pemendekan serabut otot. Rigor mortis terjadi karena penipisan ATP pada otot. Hal ini disebabkan karena terjadinya perubahan kimiawi pada protein yang terdapat pada serabut-serabut otot. Menurut Szen-Gyorgyi di dalam pembentukan kaku mayat peranan ATP adalah sangat penting. Seperti diketahui bahwa serabut otot dibentuk oleh dua jenis protein, yaitu aktin dan myosin, dimana kedua jenis protein ini bersama dengan ATP membentuk suatu masa yang lentur dan dapat berkontraksi Bila kadar ATP menurun, maka akan terjadi pada perubahan pada akto- miosin, dimana sifat lentur dan kemampuan untuk berkontraksi berkurang.

Kaku mayat mulai terdapat sekitar 2 jam post mortem dan mencapai puncaknya setelah 10-12 jam pos mortem, keadaan ini akan menetap selama 24 jam dan setelah 24 jam kaku mayat mulai menghilang sesuai dengan urutan terjadinya, yaitu dimulai dari otot-otot wajah, leher, lengan, dada, perut, dan tungkai.

Faktor-Faktor yang mempengaruhi kaku mayat:

  • Kondisi otot
  • Persediaan glikogen

Cepat lambat kaku mayat tergantung persediaan glikogen otot. Pada kondisi tubuh sehat sebelum meninggal, kaku mayat akan lambat dan lama, juga pada orang yang sebelum mati banyak makan karbohidrat, maka kaku mayat akan lambat.

  • Kegiatan Otot

Pada orang yang melakukan kegiatan otot sebelum meninggal maka kaku mayat akan terjadi lebih cepat. Pergerakan yang banyak sebelum kematian, misalnya prajurit. Demam yang tinggi, kecapaian dan suhu sekeliling yang tinggi, mempercepat terjadinya kaku mayat. Sebaliknya pada penderita yang sakit lama, kaku mayat lebih lama.

  • Gizi

Pada mayat dengan kondisi gizi jelek saat mati, kaku mayat akan cepat terjadi.

  • Usia

Pada orang tua dan anak-anak lebih cepat dan tidak berlangsung lama. Pada bayi premature tidak terjadi kaku mayat, kaku mayat terjadi pada bayi cukup bulan yaitu17,18 bulan.

  • Keadaan Lingkungan

Keadaan kering lebih lambat dari pada panas dan lembab. Pada mayat dalam air dingin, kaku mayat akan cepat terjadi dan berlangsung lama. Pada udara suhu tinggi, kaku mayat terjadi lebih cepat dan singkat, tetapi pada suhu rendah kaku mayat lebih lambat dan lama. Kaku mayat tidak terjadi pada suhu dibawah 10 derajat celcius.

  • Cara Kematian

Pada mayat dengan penyakit kronis dan kurus, kuku mayat lebih cepat terjadi dan berlangsung tidak lama. Pada mati mendadak, kaku mayat terjadi lebih lambat dan berlangsung lebih lama.

  • Waktu terjadinya rigor mortis (kaku mayat)
  • Kurang dari 3 – 4 jam post mortem : belum terjadi rigor mortis
  • Lebih dari 3 – 4 jam post mortem : mulai terjadi rigor mortis
  • Rigor mortis maksimal terjadi 12 jam setelah kematian
  • Rigor mortis dipertahankan selama 12 jam
  • Kaku mayat bisanya menetap sampai 2-3 hari, dan kemudian menghilang

 

3.      Livor Mortis

Livor mortis merupakan perubahan warna yang terjadi karena sel-sel darah merah mengalami hemolisis dan darah turun ke bawah, sehingga mengakibatkan lebam-lebam mayat pada bagian terbawah. Lebam mayat terbentuk bila terjadi kegagalan sirkulasi darah dalam mempertahankan tekanan hidrostatik yang menggerakan darah mencapai capillary bed dimana pembuluh–pembuluh darah kecil afferent dan efferent saling berhubung.

Adanya eritrosit di daerah yang lebih rendah akan terlihat di kulit sebagai perubahan warna biru kemerahan. Oleh karena pengumpulan darah terjadi secara pasif maka tempat–tempat di mana mendapat tekanan lokal akan menyebabkan tertekannya pembuluh darah di daerah tersebut sehingga meniadakan terjadinya lebam mayat yang mengakibatkan kulit di daerah tersebut berwarna lebih pucat.

Fenomena lebam mayat yang menetap ini sifatnya lebih bersifat relatif. Perubahan lebam ini lebih mudah terjadi pada 6 jam pertama sesudah kematian. Akan tetapi waktu yang pasti untuk terjadinya pergeseran lebam ini adalah tidak pasti, ada beberapa pendapat yaitu  Polson mengatakan “ untuk menunjukan tubuh sudah diubah dalam waktu sampai 12 jam”, sedangkan Camps memberi patokan kurang lebih 10 jam.

 

4.      Pembekuan darah

Pembekuan darah terjadi segera setelah penderita meninggal. Dapat pula terjadi pada masa agoni (agonal clots). Beku darah yang terjadi setelah orang meninggal disebut postmortem clot, warnanya merah elastic atau seperti agar-agar(cruor clot) dan beku darah ini tidak melekat pada dinding pembuluh darah jantung.

Bila beku darah terbentuk lambat, maka beku darah  nampak berlapis-lapis, sel darah merah karena lebih berat maka menempati lapisan terbawah disebut juga sebagai cruor clot diantara leukosit. Lapisan teratas terdiri dari plasma darah dan sedikit leukosit yang berwarna kuning disebut juga sebagai chiken fat clot. Beku darah semacam ini terdapat dalam jantung dan dapat ditemukan pada bedah mayat.

 

5.      Pembusukan (putrefaction) dan autolisis

Pembusukan terjadi akibat pengaruh fermen-fermen pada tubuh, jaringan mengalami autodigestion. Pada jaringan tertentu seperti mukosa lambung, kantung empedu, autolisis cepat terjadi. Karena itu biasanya tidak dapat diperoleh sediaan mikroskopik yang baik. Pada umumnya makin tinggi diferensiasi jaringan, makin cepat autolisis. Pembusukan terjadi akibat masuknya kuman saprofitik. Biasanya kuman ini berasal dari usus.

  • Secara garis besar terdapat 17 tanda pembusukan pada jenazah, yaitu:
  1. Wajah membengkak
  2. Bibir membengkak
  3. Mata menonjol
  4. Lidah terjulur
  5. Lubang hidung keluar darah
  6. Lubang mulut keluar darah
  7. Lubang lainnya keluar isinya seperti feses (usus), isi lambung, dan partus (gravid)
  8. Badan gembung
  9. Bulla atau kulit ari terkelupas
  10. Aborescent pattern / morbling yaitu vena superfisialis kulit berwarna kehijauan
  11. Pembuluh darah bawah kulit melebar
  12.  Dinding perut pecah
  13. Skrotum atau vulva membengkak
  14.  Kuku terlepas
  15.  Rambut terlepas
  16. Organ dalam membusuk
  17. Larva lalat

Autolisis adalah perlunakan dan pencairan jaringan secara spontan yang terjadi dalam tubuh setelah kematian  dalam keadaan steril melalui proses kimia yang disebabkan oleh enzim- enzim intraseluler, sehingga organ-organ yang kaya dengan enzim- enzim akan mengalami proses autilisis lebih cepat daripada organ-organ yang tidak memiliki enzim, dengan demikian pankreas akan mengalami autolisis lebih cepat dari pada jantung. Proses autolisis ini tidak dipengaruhi oleh mikroorganisme

Proses auotolisis terjadi sebagai akibat dari pengaruh enzim yang dilepaskan pasca mati. Mula-mula yang terkena adalah nukleoprotein yang terdapat pada kromatin dan sesudah itu sitoplasmanya, kemudian dinding sel akan mengalami kehancuran sebagai akibatnya jaringan akan menjadi lunak dan mencair. Autolisis mengacu pada pancernaan jaringan oleh substansi yang dilepaskan, seperti enzim dan lisosom.

DAFTAR PUSTAKA 

  • dr. Tambayong, Jan. 2000. Patofisiologi Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran: EGC.
  • Himawan, Sutisna. 1990. Patofisiologi. Bagian Patologi Anatomik FK UI.
  • Hartanto, Huriawati dkk. 2009. Kamus Saku Mosby: Kedokteran, Keperawatan, dan Kesehatan Edisi 4. Penerbit Buku Kedokteran: EGC.
  • Corwin, J Elizabeth. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Penerbit Buku Kedokteran: EGC.
  • http://www.scribd.com/doc/36186712/Post-Mortem-Changes-and-Time-of-Death on May 28, 2011 at 3.22 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s