Ensefalitis

 

  1. Pengertian

Ensefalitis adalah infeksi virus yang mengenai sistem saraf pusat (SSP) yang disebabkan oleh virus atau mikroorganisme lain yang nonpurulen. (Arif Mutaqqin, 2011)

Ensefalitis adalah peradangan pada parenkim otak akibat infeksi dari bakteri atau virus. (Wahyu Widogdo, 2006)

Ensefalitis adalah peradangan akut otak yang disebabkan oleh infeksi bakteri.

Ensefalitis adalah radang pada otak yang dapat disebabkan oleh bakteri, protozoa, ricketsa atau virus. (Mansjoer, 2000)

Ensefalitis adalah infeksi jaringan otak oleh berbagai mikroorganisme

Ensefalitis adalah suatu penyakit yang menyerang susunan saraf pusat di medulla spninalis dan meningen yang disebabkan oleh jappanese ensefalitis virus yang ditularkan oleh nyamuk. (Soedarmo dkk, 2008)

Ensefalitis merupakan infeksi intrakranial dapat melibatkan jaringan otak .(Dongoes, 2000)

Jadi dapat disimpulkan bahwa ensefalitis adalah penyakit yang bermula dari infeksi jaringan otak sehingga menyebabkan peradangan akut pada SSP di medulla spinalis dan meningen dan disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, protozoa, ricketsa atau virus) yang bersifat purulen.

2.      Anatomi dan Fisiologi Sistem Saraf

Struktur dan Fungsi Sistem Saraf

Sistem neurologik terdiri dari dua bagian utama, sistem saraf pusat (SSP) dan sistem saraf perifer. Sistem saraf otonom (SSO) terdiri dari dua elemen pusat dan perifer.

 

1)      SSP terdiri dari otak dan medulla spinalis

  1. Otak

Otak terletak dirongga kranium (tengkorak) dan dilindungi oleh tulang tengkorak serta tiga lapis selaput penutup (meningen) yaitu : duramater, arachnoid, dan piamater. Berat otak manusia kira-kira 2 % dari total berat badan orang dewasa. Otak menerima 20 % darah dari curah jantung dan memerlukan sekitar   20 % pemakaian O2dari  tubuh, atau sekitar 400 kilo kalori energi setiap harinya. Otak manusia mengandung hampir 98% jaringan saraf tubuh. ( Arif Muttaqin, 2008 : 4 )

Otak merupakan jaringan yang paling banyak menggunakan energi dalam seluruh tubuh manusia, yang terutama berasal dari proses metabolisme oksidasi glukosa. Jaringan otak sangat rentan dan kebutuhan akan oksigen dan glukosa melalui aliran darah adalah konstan. Metabolisme otak merupakan proses tetap dan kontinu, tanpa ada masa istirahat. Bila aliran darah berhenti selama 10 detik saja, maka kesadaran mungkin sudah akan hilang, dan penghentian dalam beberapa menit saja dapat menimbulkan kerusakan yang tidak ireversibel. Aktivitas otak yang tidak pernah berhenti ini berkaitan dengan fungsinya yang kritis sebagai pusat integrasi dan koordinasi organ-organ sensorik dan system efektor perifer tubuh, disamping berfungsi sebagai pengatur informasi yang masuk, simpanan pengalaman, impuls yang keluar, dan tingkah laku (Arif Muttaqin, 2011)

Secara garis besar otak terbagi menjadi tiga bagian utama yaitu :

(1).  Serebrum, merupakan bagian otak yang paling besar dan paling menonjol. Disini terletak pusat-pusat saraf yang mengatur semua kegiatan sensorik dan motorik, juga mengatur proses penalaran, memori, dan intelegensi. Hefismer serebri kanan mengatur bagian tubuh sebelah kiri dan hemisfer serebri kiri mengatur bagian tubuh kanan. ( Arif Mutaqin, 2011 )

(2). Serebellum, lokasinya pada fossa posterior. Serebellum mengkoordinasikan keseimbangan pergerakan aktifitas kelompok otot, juga mengontrol pergerakan halus. ( Wahyu Widagdo, dkk, 2008 : 9 )

(3).   Batang otak, terdiri dari : otak tengah, pons dan medulla oblongata. ( Wahyu Widagdo, dkk, 2008 : 9 )

(a) Otak tengah, mengandung inti (nuclei) dari saraf cranial III dan IV juga mengandung jalur motorik dan sensorik dan saling berhubungan dengan batang otak, kortek dan medulla spinalis.

(b) Pons, mengandung inti saraf cranial V sampai ke VII. Pons membentuk suatu jembatan untuk jalur saraf antara otak tengah, serebellum dan medulla oblongata.

(c) Medulla oblongata, adalah lanjutan dari medulla spinalis, berhubungan dengan pons dan serebellum. Mengandung inti saraf cranial VII dan XII.

 

Cairan serebrospinal merupakan cairan yang jernih, tak berwarna, yang merupakan bantalan cairan pelindung di sekitar SSP. CSS terdiri dari air, elektrolit, gas oksigen, dan karbondioksida yang terlarut, glukosa, beberapa leukosit (terutama limposit) dan sedikit protein. Volume total CSS di seluruh rongga serebrospinal sekitar 125 ml (Price, 1995 dalam Arif Mutaqqin, 2011)

Cairan serebrospinal (CSS) dibentuk dalam ventrikel lateral, yaitu di pleksus koroid piameter. CSS mengalir melalui foramen Monro ke ventrikel ketiga, kemudian melalui aqueductus Sylvius menuju ventrikel keempat. CSS keluar dari ventrikel keempat melalui foramenmagendie dan dua foramen luska. CSS kemudian mengalir kedalam meana sisterna, dan akhirnya bersirkulasi kedalam subaraknoid medulla spinalis, merendam otak dan medulla spinalis. Cairan diabsorbsi oleh membrane araknoid. (Mary E. Muscari, 2005)

Otak dan medulla spinalis dilindungi oleh tulang tengkorak dan tulang belakang serta tiga lapisan jaringan penyambung atau meningen, yaitu piameter, araknoid, dan dura meter. Masing-masing merupakan suatu lapissan yang terpisah dan kontinu.

  1. Pia Mater

Pia mater langsung berhubungan dengan otak dan jaringan spinal dan mengikuti kontur stuktur eksternal otak dan jaringan spinal. Pia mater merupakan lapisan vascular, tempat pembuluh-pembuluha darah berjalan menuju struktur dalam SSp unt k memberi nutrisi pada jaringan saraf. (Arif Mutaqqin, 2011)

  1. Arakhnoid

Arakhnoid merupakan suatu membrane fibrosa yang tipis, halus, dan avaskular. Arakhnoid meliputi otak dan medulla spinalis. Daerah antara arakhnoid dan piamater disebut ruang subarachnoid dimana terdapat arteri, vena serebri, dan trabekula arakhnoid, serta cairan serebrospinal yang membasahi SSP.

  1. Dura Mater

Dura mater merupakna suatu jaringan ikat, tidak elastic, dan mirip kulit sapi yang terdiri atas dua lapisan-bagian luar yang disebut duraendosteal dan bagian dalam yang disebut dura meningeal.

Dibagian batang otak terdapat nukleus saraf-saraf kranial yang mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Susunan saraf kranial dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 1.1 Susunan dan Fungsi Saraf Kranial

Saraf Kranial

Komponen

Fungsi

Olfaktorius (Nervus I)

Sensorik

Penciuman

Optikus

(Nervus II)

Sensorik

Penglihatan

Okulomotorius (Nervus III)

Motorik

  • Mengangkat kelopak mata atas
  • Kontriksi pupil
  • Sebagaian besar gerakan ekstraokuler

Troklearis (Nervus IV)

Motorik

Gerakan mata ke bawah dan kedalam

Abdusens

(Nervus V)

Motorik

Deviasi mata ke lateral

Trigeminus (Nervus VI)

Motorik

Otot temporalis dan maseter (menutup rahang dan mengunyah) ; gerakan rahang ke lateral

Sensorik

Kulit wajah, dua pertiga depan kulit kepala; mukosa mata; mukosa hidung dan rongga mulut, lidah dan gigi.

Fasialis

(Nervus VII)

Motorik

  • Otot-otot ekspresi wajah termasuk otot dahi, sekeliling mata serta mulut.
  • Lakrimasi dan salivasi.

Sensorik

Pengecapan dua pertiga depan lidah (rasa manis, asam dan asin).

Vestibulokoklearis (Nervus VIII)

  • Cabang vestibularis
  • Cabang koklearis

Sensorik

Sensorik

Keseimbangan

Pendengaran

Glosofaringeus

(Nervus IX)

Sensorik

  • Faring : menelan, refleks muntah.
  • Parotis : salivasi.

Motorik

Faring, lidah posterior, termasuk rasa pahit.

Vagus

(Nervus X)

Sensorik

Faring, laring :menelan, refleks muntah, fonasi, visera abdomen.

Motorik

Faring, laring : refleks muntah, visera leher, toraks dan abdomen.

Asesorius

(Nervus XI)

Motorik

Otot sternokleido- mastoideus dan bagian atas dari otot trapezius : pergerakan kepala dan bahu.

Hipoglosus (Nervus XII)

Motorik

Pergerakan lidah.

( Sumber : Arif Mutaqin, 2011 )

Medulla spinalis terletak dari medula oblongata sampai kebawah vertebra lumbal pertama. Medulla spinalis terdiri dari berjuta-juta serat saraf, dan terdiri dari 31 saraf-8 servikal, 12 torakal, 5 lumbal, dan 5 sakral.

3.      Perkembangan Sistem Neurologik

Usia

Struktur dan Fungsi

Perkembangan Janin

SSP berasal dari tuba neural selama perkembangan embrionik. Pada minggu keempat gestasi, tuba neural mengalami perkembangan. Antara minggu kedelapan dan kedua belas, serebelum mulai berkembang. Dua periode perkembangan saraf  yang cepat terjadi antara minggu kelima belas dan kedua puluh kehamilan sampai tahun pertama kehidupan intrauteri. Selama tahun pertama kehidupan intrauteri jumlah neuron otak meningkat dengan cepat.

Bayi (0-1 tahun)

Sistem saraf belum matang selama masa bayi, tetapi tumbuh secara cepat ditandai dengan perubahan perkembangan bayi yang cepat.

Todler/ usia pra sekolah (1-6 tahun)

Otak mencapai 80% ukuran dewasa pada usia 2 tahun. Sejumlah besar hubungan antara neuron-neuron meningkat kompleksitasnya.

Usia sekolah (6-12 tahun)

Otak mencapai 90% ukuran orang dewasa pada usia 7 tahun, setelah itu pertumbuhan otak melambat dan mencapai ukuran orang dewasa pada usia 12 tahun. Transmisi impuls saraf meningkat.

Remaja (12-21 tahun)

Pertumbuhan otak terus melanjut. Neuron tidak meningkat jumlahnya, tetapi terdapat peningkatan jumlah sel pendukung yang member nutrisi bagi neuron.

 4.      Etiologi

Penyebab ensefalitis ada berbagai macam yaitu:

  1. Ensefalitis Supurativa

Ensefalitis ini disebabkan oleh bakteri yaitu staphylococcus aures, streptococcus, E. coli, M. tuberkulosa

  1. Ensefalitis Siphylis

Ensefalitis ini disebabkan oleh troponema pallidium

  1. Ensefalitis Virus

1)      Virus DNA

(a)    Herpes virus: herpes simplex, herpes zoster, sitomegali virus, virus Epstein-Barr,

(b)   Pox virus: variola, vaksinia

(c)    Retrovirus: AIDS

2)      Virus RNA

(a)    Paramikso virus: virus parotitis, virus morbili

(b)   Rabdovirus: Arbovirus (virus yang dipindahkan melalui gigitan serangga kepada manusia seperti rabies, st. Louis, rocky mountain fever)

(c)    Togavirus: virus rubella flavivirus (virus ensefalitis jepang B, virus dengue)

(d)   Picornavirus: enterovirus (virus polio, coxsackie A, B, enchovirus)

  1. Ensefalitis Parasit

1)      Malaria Serebral

Disebabkan oleh plasmodium falsifarum

2)      Toxoplasmosis

Disebabkan oleh toxoplasma gondii

3)      Amebiasis

Disebabkan oleh amoeba

4)      Sistiserkosis

Disebabkan oleh cysticercus cellulosae (larva taenia)

  1. Ensefalitis Fungus

Ensefalitis ini disebabkan oleh fungi yang dapat menyebabkan radang antara lain candida albicans, cryptococcus neoformans, coccidiosis, aspergillus, fumagatus dan mucor mycosis

  1. Riketsiosis Serebri

Disebabkan oleh riketsia yang dapat masuk ke tubuh melalui gigitan kutu dan dapat menyebabkan ensefalitis

Factor pemicu seseorang terkena ensefalitis:

  1. Sistem kekebalan tubuh yang buruk
  2. Tinggal di daerah dimana nyamuk mudah berkembang biak

5.      Patofisiologi

Setelah mikroorganisme masuk ke tubuh manusia yang rentan, melalui kulit, saluran napas, dan saluran cerna. Virus menuju sistem getah bening dan berkembang biak. Virus akan menyebar melalui aliran darah dan menimbulkan viremia pertama. Melalui aliran darah virus akan menyebar ke sistem saraf pusat dan organ eksterneural. Kemudian virus dilepaskan dan masuk ke dalam peredaran darah menyebabkan viremia ke dua yang bersamaan dengan penyebaran infeksi penyakit sistemik.

Setelah terjadinya viremia, virus menembus dan berkembang biak pada endotel vascular dengan cara endositosis. Sehingga dapat menembus sawan otak. Setelah mencapai susunan saraf pusat virus berkembang biak dalam sel dengan cepat pada reticulum endoplasme serta badan golgi yang menghancurkan mereka. Akibat infeksi virus tersebut maka permeabilitas sel neuron, glia, dan endotel meningkat. Sehinggga cairan di luar sel masuk ke dalam dan timbulah edema sistoksik. Adanya edema dan kerusakan pada susunan saraf pusat inimemberikan manifestasi berupa ensefalitis. Dengan masa prodmoral berlangsung 1-4 hari. Area otak yang terkena dapat pada thalamus, ganglia basal, batang otak, hipotalamus, dan korteks serebra (Soedarmo dkk, 2008)

6.      Manifestasi Klinis

Setelah terjadi penyebaran ke otak terjadi manifestasi klinis yaitu:

  1. Tanda neurologis: penurunan kesadaran, aphasia, hemiparesis, ataksia, paralisis saraf otak
  2. Kejang
  3. Anak tampak gelisah, rewel
  4. Demam
  5. Fotofobia (respon nyeri terhadap sinar)
  6. Sakit kepala
  7. Pusing
  8. Muntah-muntah
  9. Nyeri tenggorokan,
  10. Malaise
  11. Nyeri ekstremitas
  12. Letargi, kadang disertai kaku kuduk apabila infeksi mengenai meningen
  13. Gangguan penglihatan, pendengaran, dan bicara
  14. Perubahan pada perilaku
  15. Nistagmus

7.      Penatalaksaanaan Medis

Penatalakanaan medis bersifat etiologi dan perawat perlu menyesuaikan dengan satndar pengobatan susuai dengan tempat bekerja yang berguna sebagai bahan kolaborasi dengan tim medis.

  1. Antipiretik: parasetamol 10 mg/kgbb
  2. Antikonvulsi: diazepam 0,2-0,5 mg/kgbb, atau rectal 0,4-0,6 mg/kgbb, atau fenitoin 5 mg/kgbb/24jam, 3 x sehari atau fenobarbital 5-7 mg/kgbb/24jam, 3x sehari
  3. Antiedema serebri: manitol 1-2 gr/kgbb selama ±15 menit diulangi 8-12 jam apabila diperlukan

8.      Komplikasi

    1. Gangguan pernapasan
    2. Koma
    3. Kerusakan otak yang permanen sehingga dapat menyebabkan menurunnya kemampuan untuk mengingat, sensoris, atau gangguan bicara
    4. Retardasi mental
    5. Ketidakmampuan permanen atau meninggal (Corwin, 2001)

9.      Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik

    1. Pemeriksaan cairan serebrospinal
    2. Pemeriksaan EEG untuk memperlihatkan proses inflamasi
    3. Pemeriksaan laboratorium klinik rutin (Hb, leukosit, LED, tromboosit, retikulosit, glukosa)
    4. Pemeriksaan CT scan atau MRI untuk mengevaluasi derajat pembengkakan dan tempat mekrosis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s