EPILEPSI

SISTEM SARAF

1.      Pengertian

Epilepsi merupakan gangguan serebral kronik dengan berbagai macam etiologi yang ditandai oleh timbulnya serangan paroksimal yang berkala akibat lepas muatan listrik neuron-neuron serebral secara berlebihan ( Widagdo, wahyu. 2008).

Epilepsi merupakan sindrom klinis yang ditandai dengan dua atau lebih bangkitan. Sebagian besar timbul tanpa provokasi akibat kelainan abnormal primer di otak dan bukan sekunder oleh penyebab sistemik

( Dewanto, George. 2009).

Epilepsi adalah gejala kompleks dari banyak gangguan berat dari fungsi otak dengan karakteristik kejang berulang. Keadaan ini dapat dihubungkan dengan kehilangan kesadaran, gerakan berlebihan, hilangnya tonus otot atau gerakan, serta gangguan perilaku, alam perasaan, sensasi dan persepsi. Sehingga epilepsi bukan penyakit tetapi suatu geala. (Arif, Muttaqin. 2011)

Berdasarkan beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa epilepsi adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat sementara.

 

2.      Anatomi fisiologi sistem persyarafan

Sistem saraf adalah serangkaian organ yang kompleks dan bersambungan serta terdiri terutama dari jaringan saraf yang berfungsi untuk menyelenggarakan kerjasama yang rapi dalam organisasi dan koordinasi kegiatan tubuh.

Sistem saraf terdiri atas sel saraf (neuron) dan sel penyokong (neuroglia dan sel schwann). Kedua jenis sel tersebut berkaitan erat satu sama lain sehingga bersama-sama berfungsi sebagai suatu unit.

Susunan saraf pusat manusia terdiri atas sekitar 100 miliar neuron. Neuron adalah suatu sel saraf dan merupakan unit anatomi dan fungsional sistem persarafan.

Gambar 1.1 Struktur Neuron

STRUKTUR NEURON 

Sumber: Ensiklopedi Tubuh Manusia 

Neuron terdiri dari:

  • Badan sel

Secara relatif badan sel lebih besar dan mengelilingi nukleus yang didalamnya terdapat nukleolus. Disekelilingnya terdapat perikarion yang berisi neurofilamen yang berkelompok yang disebut neurofibril. Diluarnya terhubungkan dengan dendrit dan akson yang memberikan dukungan terhadp proses-proses fisiologis.

  • Dendrit

Dendrit adalah tonjolon yang menghantarkan informasi menuju badan sel. Dendrit merupakan bagian yang menjulur keluar dari badan sel dan menjalar kesegala arah. Khususnya dikorteks serebri dan serebellum, dendrit mempunyai tonjolan-tonjolan kecil bulat, yang disebut tonjolan dendrit. Neuron tertentu juga mempunyai akson fibrosa yang panjang yang berasal dari daerah yang agak tebal dibadan sel yaitu akson hilok (bukit akson).

  • Akson

Tonjolan tunggal dan panjang yang menghantarkan informasi keluar dari badan sel disebut akson. Dendrit dan akson secara kolektif sering disebut sebagai serabut saraf atau tonjolan saraf. Kemampuan untuk menerima, menyampaikan dan menerusakan pesan-pesan neural disebabkan saraf khusus membran sel neuron yang mudah dirangsang dan dapat menghantarkan pesan elektrokimia. Serangan epilepsi akan muncul apabila sekelompok kecil neuron abnormal mengalami depolarisasi yang berkepanjangan berkenaan dengan cetusan potensial aksi secara tepat dan berulang-ulang. Secara klinis serangan epilepsi akan tampak apabila cetusan listrik dari sejumlah besar neuron abnormal muncul secara bersamaan.

 

3.      Etiologi

Penyebab pasti dari epilepsi belum dikaetahui (idiopatik) dan masih menjadi banyak spekulasi. (Arif, Muttaqin. 2011)

Faktor predisposisi yang mungkin menyebabkan epilepsi adalah:

  1. Pasca trauma kelahiran, asfiksia neonatorum, pasca cedera kepala.
  2. Riwayat bayi dari ibu yang menggunakan obat antikonvulsi yang digunakan sepanjang kehamilan.
  3. Riwayat ibu-ibu yang mempunyai risiko tinggi (tenaga kerja, wanita dengan latar belakang sukar melahirkan, pengguna obat-obatan, diabetes atau hipertensi).
  4. Adanya riwayat penyakit infeksi pada masa kanak-kanak (campak, penyakit gondongan (mumps).
  5. Adanya riwayat keracunan, riwayat gangguan sirkulasi serebral.
  6. Riwayat demam tinggi, riwayat ganggguan metabolisme, dan nutrisi/gizi.
  7. Riwayat intoksikasi obat-obatan atau alkohol.
  8. Riwayat tumor otak, abses, kelainan bawaan dan keturunan epilepsi.

 

4.      Patofisiologi

Bagan 1.2 Patofisiologi Epilepsi

Faktor predisposisi:

  1. Pasca trauma kelahiran, asfiksia neonatorum, pasca cedera kepala
  2. Riwayat bayi dari ibu yang menggunakan obat antikonvulsi
  3. Adanya riwayat penyakit infeksi pada masa kanak-kanak
  4. Adanya riwayat keracunan, riwayat gangguan sirkulasi serebral
  5. Riwayat demam tinggi, riwayat ganggguan metabolisme, dan nutrisi/gizi
  6. Riwayat intoksikasi obat-obatan atau alkohol
  7. Riwayat tumor otak, abses, kelainan bawaan dan keturunan epilepsi
Gangguan pada sistem listrik dari sel-sel saraf pusat pada suatu bagian otak

Sel-sel memberikan muatan listrik yang abnormal, berlebihan, secara berulang dan tidak terkontrol

Periode pelepasan impuls yang tidak diinginkan

Aktivitas kejang umum lama akut, tanpa perbaikan penuh diantara serangan

Status epileptikus

Kebutuhan metabolik besar

Gangguan pernapasan

Hipoksia otak

Kerusakan otak permanen

Edema serebral

Kejang parsial

Kejang umum

Gangguan perilaku, alam perasaan, sensasi, dan persepsi

Peka rangsang

Kejang berulang

Resiko tinggi cedera

Penurunan kesadaran

Respon pasca kejang (postikal

Respons fisik: Konfusi dan sulit bangun, Keluhan sakit kepala atau sakit otot

Nyeri akut, defisit perawatan diri

Respons psikologis:Ketakutan,respons penolakan,penurunan nafsu makan,depresi

Ketakutan, koping individu tidak epektif

Sumber: Arif, Muttaqin.2011

 

 

 

  1. 5.      Klasifikasi Kejang 

Ada dua golongan utama epilepsi, yaitu serangan parsial (gejala motorik dan sensorik) atau fokal (tonik-klonik) yang mulai pada suatu tempat tertentu di otak, biasanya didaerah korteks serebri dan serangan umum yang yang mencakup seluruh korteks serebri dan diensefalon (Arif, Muttaqin. 2011).

 

6.      Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala pada epilepsi menurut Smeltzer, S.C & Bare, B.G. (2002) adalah:

  1. Manifestasi klinik dapat berupa kejang-kejang, gangguan kesadaran atau gangguan penginderaan.
  2. Kelainan gambaran EEG.
  3. Bagian tubuh yang kejang tergantung lokasi dan sifat fokus epileptogen.
  4. Dapat mengalami aura yaitu suatu sensasi tanda sebelum kejang epileptik (aura dapat berupa perasaan tidak enak, melihat sesuatu, mencium bau-bauan tidak enak, mendengar suara gemuruh, mengecap sesuatu, sakit kepala dan sebagainya).
  5. Napas terlihat sesak dan jantung berdebar.
  6. Raut muka pucat dan badannya berlumuran keringat.
  7. Individu terdiam tidak bergerak atau bergerak secara otomatis, dan terkadang individu tidak ingat kejadian tersebut setelah episode epileptikus tersebut lewat.
  8. Di saat serangan, penyandang epilepsi terkadang juga tidak dapat berbicara secara tiba-tiba.
  9. Kedua lengan dan tangannya kejang, serta dapat pula tungkainya menendang-menendang.
  10. Gigi geliginya terkancing.
  11. Terkadang keluar busa dari mulut dan diikuti dengan buang air kecil.

 

7.      Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diagnostik pada epilepsi menurut Batticaca,B.Fransiscaa. 2012, Arif, Muttaqin. 2011 adalah:

a)      CT Scan dan Magnetik resonance imaging (MRI) untuk mendeteksi lesi pada otak, fokal abnormal, serebrovaskuler abnormal, gangguan degeneratif serebral.

b)      Elektroensefalogram (EEG) untuk mengklasifikasi tipe kejang, waktu serangan.

c)      Pemeriksaan radiologis

Foto tengkorak untuk mengetahui kelainan tulang tengkorak, destruksi tulang, kalsifikasi intrakranium yang abnormal, tanda peninggian TIK seperti pelebaran sutura, erosi sela tursika dan sebagainya.

d)     Kimia darah: hipoglikemia, meningkatnya BUN, kadar alkohol darah.

e)      Mengukur kadar gula, kalsium dan natrium dalam darah.

f)        Menilai fungsi hati dan ginjal.

1)      Menghitung jumlah sel darah putih (jumlah yang meningkat menunjukkan adanya infeksi).

2)      Fungsi lumbal utnuk mengetahui apakah telah terjadi infeksi Otak.

 

8.      Penatalaksanaan Medis

Penatalaksanaan medis pada epilepsi adalah:

a.    Farmakoterapi

Beberapa obat antikonvulsi diberikan untuk mengontrol kejang,. Tujuan dari pengobatan adalah untuk mencapai pengontrolan kejang dengan efek samping minimal.

Pemberian obat membutuhkan waktu yang lama disesuaikan dengan penyakit yang terjadi, perubahan BB atau peningkatan stress.

Menghentikan pengobatan antikonvulsan dengan tiba-tiba dapat menyebabkan kejang lebih sering terjadi atau dapat menimbulkan status epileptik. Efek samping dari medikasi ini dapt dibagi menjadi tiga kelompok yaitu:

1)      Gangguan idiosinkratik atau alergik, yang muncul dalm bentuk reaksi kulit primer.

2)      Toksisitas akut, yang terjadi bila obat-obatan dimulai.

3)       Toksisitas kronik, yang terjadi pada akhir pemberian terapi obat. ( Arif, Muttaqin. 2008 ).

 

Pemberian terapi obat yang sering digunakan antara lain:

1)      Carbamazepine (Tegretol), KI jika ada glaukoma, penyakit jantung, hati da ginjal.

2)      Clonazepam (Klonopim), KI jika ada glaukoma, perlu memonitor hitung darah lengkap.

3)      Diazepam (Valium), diberikan untuk menghentikan aktifitas motorik yang dikaitkan dengan status epileptikus, ika diberikan secara IV perawat perlu memonitor adanya trespiratori distress.

4)      Ethosuximide (Zarotin), KI jika ada penyakit ginjal atau hati, monitor hitung darah lengkap dan pemeriksaan fungsi hati.

5)      Phenobarbital (Luminal), menurunkan absorpi warfarin dan metabolisme digoxin.

6)      Phentolyn (Dilantin), digunakan untuk mengontrol kejang, perawat perlu memonitor sel darah dan kadar kalsium.

7)      Promidone (Myidone.

8)      Valproic acid (Depakene), meningkatkan kadar serum phenobarbital dan prubahan serum phenytoin, monitor hitung sel darah. (Widagdo, wahyu. 2008).

 

b.   Pembedahan untuk epilepsi

Pembedahan diindikasikan untuk klien yang mengalami epilepsi akibat tumor intrakranial, abses, kista, atau adanya abnormali vaskular. (Arif, Muttaqin. 2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s