Sexualitas

2.1.      Pengertian Seksual Dan Sexuality

Pengertian seksual secara umum adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat kelamin atau hal-hal yang berhubungan dengan perkara-perkara hubungan intim antara laki-laki dengan perempuan (Hurlock, 1991).

Seks suatu perbedaan yang mendasar berhubungan dengan reproduksi berkaitan dengan konsep seksualitas yang melibatkan karakteristik dan perilaku merupakan perilaku seksual dengan kecenderungan pada interaksi heteroseksual.

Idealnya, seks adalah tindakan alamiah, spontan yang meningkatkan kenikmatan kepuasan dari kedua pasangan. Setelah aktifitas seksual, harus ada periode “perasaan senang” di mana kedua pasangan mengalami kehangatan, sejahtera, dan kedekatan.

2.2.      Dimesnsi Seksual

Seksualitas memiliki beberapa dimensi yaitu dimensi sosiokultural, etika, psikologis dan biologis. Antara lain:

  • Dimensi Sosiokultural

Seksualitas dipengaruhi oleh norma dan peraturan kultural. Keragaman kultural secara global menciptakan variabilitas yang sangat luas dalam norma seksual dan menghadirkan spektrum tentang keyakinan dan nilai yang luas.

  • Dimensi Etika / Agama

Seksualitas juga berkaitan dengan standar pelaksanaan agama dan etik. Spektrum sikap yang ditujukan pada seksualitas direntang dari pandangan tradisional tentang hubungan seks hanya dalam perkawinan sampai sikap yang memperbolehkan individu menentukan apa yang benar bagi dirinya. Keputusan seksual yang melewati batas kode etik individu dapat mengakibatkan konflik internal.

  • Dimensi Psikologis

Banyak dari keyakinan dan sikap kita mengenai perkembangan psikologis, moral, dan psikoseksual wanita dan pria. Seksualitas bagaimanapun mengandung perilaku yang dipelajari. Orangtua biasanya mempunyai pengaruh signifikan pertama pada anak-anaknya. Mereka sering mengajarkan tentang seksualitan melalui komunikasi yang halus dan nonverbal. pesannya sering berbeda sesuai jender.

Contoh : Orangtua cenderung untuk memprelakukan anak-anak perempuan dan laki-laki secara berbeda, mendekorasi kamar mereka secara berbeda dan berespons terhadap mereka pun berbeda. Mereka memberikan dorongan kepada anak laki-laki yang melakukan eksplorasi dan yang mandiri. Anak perempuan sering didorong untuk menjadi penolong dan meminta bantuan (Denney & Quadagno, 1992).

2.3.      Perkembangan Seksual

  • Masa Bayi

Genetalia bayi sensitif terhadap sentuhan sejak lahir. Sengan stimulasi bayi laki-laki berespon dengan ereksi penis dan bayi perempuan dengan lubrikasi vaginal. Perilaku dan respon ini tidak berhubungan dengan kontak psikologis erotik seperti ini tidak berhubungan dengan kontak psikologis erotik seperti pada masa pubertas atau masa dewasa dewasa tetapi lebih pada perilaku pembelajaran normal dalam membentuk rasa diri.

  • Masa Usia Bermain dan Prasekolah

Anak dari usia 1 sampai 5 atau  6 tahun menguatkan identitas jender dan mulai membedakan perilaku sesuai jender yang didefinisikan secara sosial. Proses pembelajaran ini terjadi dalam perjalanan interaksi normal orang dewasa mulai dari anak yang diberikan boneka, pakaian yang dikenakan, permainan yang dimainkan, dan respon yang dihargai.

  • Masa Usia Sekolah

Bagi anak-anak dari usia 6 sampai 10 tahun, edukasi dan penekanan tentang seksualitas datang dari orangtua dan gurunya tetapi lebih signifikan dari kelompok teman sebayanya.

  • Pubertas dan Masa remaja

Awalan pubertas pada anak gadis biasanya ditandai dengan perkembangan payudara. Setelah pertumbuhan awal jaringan payudara, putting dan areola ukurannya meningkat. Proses ini yang sebagian dikontrol oleh hereditas, mulai pada paling muda usia 8 tahun dan mungkin tidak komplet sampai akhir usia 10 tahunan.

Pada anak laki-laki selama pubertas ditandai dengan peningkatan ukuran penis, testis, prostat dan vesikula seminalis. Ejakulasi pada anak laki-laki tidak terjadi sampai organ seksnya matur, yaitu sekitar usia 12 atau 14 tahun.

Masa ini mungkin merupakan usia dalam mengidentifikasi orientasi seksual. Banyak remaja mempunyai setidaknya satu pengalaman homoseksual dengan seorang individu atau satu kelompok.

  • Masa Dewasa

Dewasa telah mencapai maturasi tetapi terus untuk mengeksplorasi dan menentukan maturasi emosional dalam hubungan. Dewasa muda secara tradisional dipandang sebagai berperan dalam melahirkan atau membesarkan anak.

Pada akhir dewasa, individu menyesuaikan diri terhadap perubahan sosial dan emosi sejalan dengan anak-anak mereka meninggalkan rumah.

  • Masa Dewasa Tua (Lansia)

Seksualitas dalam usia tua beralih dari penekanan pada prokreasi menjadi penekanan pada pertemanan, kedekatan fisik, komunikasi intim, dan hubungan fisik mencari kesenangan (Ebersole & Hess, 1994).

2.4.      Faktor Yang Mempengaruhi Seksualitas

  • Faktor Fisik

Aktivitas seksual dapat menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan, bahkan hanya membayangkan bahwa seks dapat menyakitkan itu sudah menurunkan keinginan seks.

  • Faktor Hubungan

Masalah dalam berhubungan dapat mengalihkan perhatian seseorang dari keinginan seks. Setelah kemesraan hubungan telah memudar, pasangan mungkin mendapati bahwa mereka dihadapkan pada perbedaan yang sangat besar dalam nilai atau hidup mereka. Tingkat seberapa jauh mereka masih merasa dekat satu sama lain dan berinteraksi pada tingkat intim bergantung pada kemampuan mereka untuk bernegosiasi dan berkompromi.

  • Faktor Gaya Hidup

Faktor gaya hidup, seperti penggunaan atau penyalahgunaan alkohol atau tidak punya waktu untuk mencurahkan perasaan dalam berhubungan, dapat mempengaruhi keinginan seksual.

  • Faktor Harga Diri

Tingkat harga diri juga dapat menyebabkan konflik yang melibatkan seksualitas. Jika harga diri seksual tidak pernah dipelihara dengan mengembangkan perasaan yang kuat tentang seksual diri dan dengan mempelajari keterampilan seksual, seksualitas mungkin menyebabkan perasaan negatif atau menyebabkan tekanan perasaan seksual.

2.5.      Siklus Respon Seksual

Masters dan Johnson(1966) mendefinisikan siklus respon seksual dengan fase-fase excitement, plateu, orgasmus, dan resolusi. Fase-fsae ini adalah akibat dari vasokonstriksi dan miotonia, yang merupakan respon fisiologis dasar dari rangsangan seksual. Vasokongesti adalah pengumpulan darah dalam alat genetal dan payudara selama rangsangan seksual. Pada wanita reaksi ini menyebabkan lubrikasi vaginal, tumescence ( pembengkakan) klitoris dan labia mayora dan minora, dan pembesaran sepertiga bagian luar vagina. Pada pria, vasokongesti menyebabkan ereksi penis. Miotonia , atau tensi neuro muskular, secara bertahap meningkat diseluruh tubuh selama fase perangsangan dan plateu. Miotonia memuncak selama orgasmus, sehingga menyebabkan kontraksi involunter vagina wanita dan duktus deferens serta uretra pada pria.

Perbandingan siklus respon seksual pada wanita dan pria

Keterangan

Wanita

Pria

Excitement: peningkatan bertahap dalam rangsangan seksual Lubrikasi pada vagina: dinding vagina “berkeringat”,Ekspansi dua pertiga bagian dalam lorong vagina Ereksi penis: penebalan dan elevasi skrotum. Elevasi dan perbesaran moderat pada testis.
Plateu: penguatan respon fase excitement Retraksi klitoris dibawah topi klitoral, pembentukan platfrom orgasmus: pembengkakan sepertiga bagian luar vagina dan labia minoraElevasi serviks dan uterus: efek “tenting”, “kulit seks” : perubahan warna kulit yang tampak hidup pada labia minora Peningkatan ukuran glands(ujung) penis, peningkatan itensitas warna glands, evelasi dan peningkatan 50% ukuran testis, emisi mukoid kelenjar cowper, kemungkinan oleh sperma, peningkatan tegangan otot dan pernapasan.
Orgasme: penyaluran kumpulan darah dan tegangan pada otot Kontraksi involunter platfrom orgasmik, uterus, rektal dan sfingter uretral, dan kelompok otot lain Penutupan sfingter urinarius internal, sensasi ejakulasi yang tidak tertahankan, kontraksi duktus deferensi vesikel seminalis prostat dan duktus ejakulatori
Resolusi: fisiologi dan psikologis kembali pada keadaan tidak terangssang Relaksasi bertahap dinding vagina, perubahan warna yang cepat pada labia minora, berkeringat, bertahap kembali pada pernapasan normal, frekuensi jantung, tekanan darah, dan tegangan orot normal. Kehilangan ereksi penis, periode refraktori ketika dilanjutkan stimulasi menjadi tidak nyaman, reaksi berkeringat, penurunan testis, pernapasan, frekuensi jantung, tekanan darah, dan tegangan otot normal.

2.6.      Orientasi Sexual

Orientasi seksual adalah prefensi yang jelas, persisten dan erotik seseorang untuk jenis kelaminnya atau orang lain. Sebagian besar orang berkelompok di dekat ujung kontinum heteroseksual atau gay, lesbian; namun sebaliknya, sebagian orang adalah biseksual dan merasa nyaman melakukan hubungan seksual dengan kedua jenis kelamin.

Variasi dalam ekspresi seksual

  1. Transeksual adalah orang yang identitas seksual atau jendernya berlawanan dengan seks biologisnya. Seorang pria mungkin berpikir tentang dirinya sebagai seorang wanita dalam tubuh pria, atau seorang wanita mungkin menggambarkan dirinya sebagai pria yang terperangkap dalam tubuh wanita. Perasaan terperangkap itu disebut “disforia jender”.
  2. Transvestite, biasanya adalah pria heteroseksual yang secara periodik berpakaian seperti wanita untuk pemuasan psikologis dan seksual. Transvestite umumnya melakukan hal ini dalam lingkup pribadi dan bersifat rahasia bahkan dari orang yang sangat dekat dengan mereka sekali pun.

2.7.      Disfungsi Seksual

Disfungsi sexual adalah ketidakmampuan untuk menikmati scara penuh hubungan sex. Scara khusus disfungsi sexual adalah gangguan yang terjadi pada salah satu atau lebih dari keseluruhan siklus respon sexual yang normal (Elvira, 2006). Disfungsi sexual dapat terjadi apabila ada gangguan dari salah satu siklus respon sexual.

Penyebab disfungsi seksual mungkin fisiologis dan psikologis. Kadang penebab disfungsi mungkin tidak teridentifikasi atau penyebabnya merupakan kombinasi dari beberapa faktor. Sekitar 10% sampai 20% disfungsi seksual disebabkan oleh faktor fisiologis(Kolodny, Masters dan Johnson, 1979).

  • Faktor Fisiologis

Disfungsi orgasmus pada wanita yang disebabkan oleh faktor fisiologis. Namun demikian , penyakit kronis yang berat(misal diabetes melitus). Penyakit ginjal, alkoholisme, masalah neurologis, defisiensi hormon dan beberapa kelainan pelviks yang diakibatkan infeksi atau pembedahan ddapat merusak atau menghambat kenikmatan seksual atau orgasmus.

Disfungsi erektil pada pria termasuk kelainan neurologis seperti cedera medula spinalis atau sklerosis multiple, masalah insufiensi vaskular, defisiensi hormonal dan infeksi genital atau cedera genital.

  • Faktor Psikologis

Pada banyak kasus, disfungsi seksual dapat dilacak dari kurangnya pengetahuan tentang seksualitas, mengabaikan teknik seksual, atau kesalahan informasi umum tentang seksualitas. Misalnya, ketidakpuasan dalam senggama dapat diakibatkan oleh kurangnya informasi tentang anatomi seksual. Beberapa sekmen dari masyarakat masuh menempatkan larangan yang kuat tentng diskusi prilaku.masalah psiologis jarang menyebabkan ejakulasi prematur,tetapipenundaan ejakulasi kadang di akibatkan oleh kelainan neurologis.

Perbedaan antara penyebab psiologis dan psikologis disfungsi seksual tidak terlalu jelas. Intervensi psiologis kadang menyelesikan masalah.tetapi kadang masalah psikologis telah di samarkan oleh kondisi psiologis.

2.3.      Pengkajian Seksual

  • Riwayat Keperawatan

Banyak perawat merasa tidak nyaman membicarakan tentang sexualitas dengan klien,tetapi mereka dapat mengurangi rasa ketidaknyamanan dengan menggunakan beberapa metode.pertama,mereka dapat membangun dasar pengetahuan dan pemahaman yang wajar tentang dimensi sexualitas sehat dan area yang paling umum dari perubahan atau dispensi sexual.kedua perawat dapat mengkaji tingkat kenyamanan dan keterbatasan mereka sendiri dalam mendiskusikan sexualitas dan fungsi sexual.memprktikan pelapalan tentang istilah yang berhubungan dengan sex dan sexualitas,.baik dalam bahasa profesional atau bahasa awam adalah  salah1 cara meningktkan tingkat keyamanan.

  • Faktor  Yang Mempengaruhi Sexualitas

a)      Faktor Fisik

b)      Faktor Hubungan

c)      Faktor Gaya Hidup

d)     Faktor Harga Diri

  • Disfungsi Sexual

Disfungsi sexual yang umum pada pria

Deskrpsi sexual

Kemungkinan penyebab

Intervensi

Disfungsi erktil primer:Ketidak mampuan pria untuk melakukan penetrasi selama kontak sexual dan untuk menahan ereksi untuk penetrasi(pria mungkin melakukan masturbasi untuk ejakulasi) Larangan keagamaan yang extrim,kegagalan awal yang traumatis,ansietas dan ketakutan pelaksanaan hubungan sex Redakan tekanan tentang pelaksanaan sexual yang berorientasi pada tujuan,diskusikan tentang larangan dan pantangan sexual,berikan informasi yang akurat
Disfungsi erktil sekunder:Ketidakmampuan pria untuk mempetahankan atau bahkan mungkin mengalami ereksi tetapi dengan riwayat penetrasi setidaknya 1 kali.(pria mengalami kegagalan ereksi selama setidanya 25% dari kesempatan sexual)

Ejakulasi prematur:

Ejakulasi prematur konsisten

Gangguan pada sistem saraf pusat yang di sebakan oleh obat-obatan,alkohol,stress,keletihan,penyakit,atau prosedur pembedahan,pola ejakulasi cepat selama masa remaja,kurang kesadarn diri sensual Redakan tegangan tentng pelaksanaan sexual yang berorientasi pada tujuan,ajarkan latihan yang berfokus pada sensasi,melakukan rujukan pada ahli urologi
Penundaan ejakulasi:ketidakmampuan untuk berejakulasi selama penetrasi Batasan keagamaan,ketakutan akan menghamili,kurngnya minat secara fisik,ketidaksukaan aktif terhadap pasangannya,peristiwa sexual traumatis pda masa lalu Diskusikan tentang larangan dan pandangan sexual berikan informasi yang akurat,lakukan rujukan kepada tenaga perawatan kesehatan mental atau ahli terapi sex

Disfungsi sexual yang umum pada wanita

  • Deskrpsi

    Kemungkinan penyebab

    Intervensi

    Disfungsi orgasmik preorgasmik(primer):Kerusakan kemampuan wanita untuk mengalami orgasmus Larangan keagamaan,lingkungan pembelajaran yang terbatas,ketakutan tentang kehilangan kontrol,komunikasi dengan pasangan yang tidak terlalu baik Brikan informasi tentang larangan dan batasan sexual,sarankan permainan genital,melakuakn rujukan kepada ahli terapi sex
    Disfungsi orgasmik sekunder:Kerusakan kemampuan wanita untuk mengalami orgasmus saat ini tetap mempunyai riwayat kemampuan untuk mengalami orgasmus Minat sexual rendah,sikapyang di tujukan kepada pasangan Diskusikan sikap yang di tujukan kepada pasangan,sarankan hubungan sex tanpa tuntuan
    Vaginismus:Kontriksi involuntr dari sepertiga bagian luar vagina,sehingga menyebabkan penetrasi kedalam vagina menjadi tidak mungkin Larangan kegamaan,larangan sexual pengalaman pelecehan sexual Sarankan pengunaan dilator vaginal dengan ukuran yang bertahap.dorng perbaikan dan komunikasi pasangan 
    Dispareumia:Hubungan senggama yang sangat nyeri Sikap negatif yang di tunjukan kepada pasangan larangan keagamaan yang ketat,sensitifitas genital,kurang rangsangan,kekerasan selama hubungan sexual Atasi maslah fisik,beriakn lubrikasi yang cukup,diskusikan tentang sikap sexual
    Kurang gairah:Kehilangan minat dalam melakukan hubungan sexual Emosi negatif yang kuat,penyakit,keletihan,defresi,riwayat penganiayaan sexual Ajarkan latihan yang berfokus pada sensasi,berikan dorongan nuntuk permainan genetal

Pengkajian Fisik

Pemeriksaan fisik penting dalam mengevaluasi penyebab kekuatiran atau masalah seksual dan mungkin merupakan kesempatan terbaik untuk menyuluh klien tentang seksualitas. Teknik inspeksi dan palpasi dapat digunakan dalam pemeriksaan ini. Perawat dapat memilih untuk mengajarkan dan mengkaji reaksi klien serta memberikan informasi tentang pemeriksaan atau unsur anatomis dan fisiologis.

2.9.      Diagnosa Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Fungsi Seksual

Perubahan pola seksualitas dan disfungsi seksual dikenal sebagai diagnosa keperawatan yang telah disetujui (Kim, Mcfarland dan Mclane, 1995). Perbedaan dalam mendiagnosis disfungsi seksual atau perubahan pola seksualitas bergantung pada apakah klien merasakan masalah dalam pencapaian kepuasan seksual atau mengekspresikan kekuatiran mengenai seksualitas. Jika kekuatiran klien diekspresikan, maka diagnosanya adalah perubahan pola seksual, perawat harus mengkaji masalah anatomis, fisiologis, sosiokultural, etik, dan situasi. Dengan mengelompokkan batasan karakteristik menunjukkan diagnosa keperawatan yang akurat.

Contoh diagnosa keperawatan NANDA:

Perubahan pola seksualitas yang berhubungan dengan:

  1. Ketakutan tentang kehamilan
  2. Efek anti hipertensif
  3. Konflik atau stressor perkawinan
  4. Depresi terhadap kematian atau perpisahan dari pasangan.

Disfungsi seksual yang berhubungan dengan:

  1. Cedera medulla spinalis
  2. Penyakit kronis
  3. Nyeri
  4. Ansietas mengenai penempatan di rumah perawatan atau panti

Sindrom trauma-perkosaan yang berhubungan dengan:

  1. Ketidakmampuan untuk mendiskusikan pengalaman perkosaan masa lalu

Gangguan citra-tubuh yang berhubungan dengan:

  1. Efek mastektomi atau kolostomi yang baru dilakukan
  2. Disfungsi seksual
  3. Perubahan pasca persalianan

2.10.  Perencanaan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Fungsi Seksual

Ketika merencanakan intervensi yang sesuai dengan kebutuhan klien, perawat harus memilih diagnosa yang sesuai. Rujukan kepada dokter mungkin diperlukan seperti pada ahli ginekologis atau ahli urologi untuk kesukaran fisik terhadap fungsi seksual. Perawat juga harus melibatkan klien dan pasangan seks bila diijinkan. Klien harus mempunyai keinginan untuk mencapai tujuan karena sifat interpersonal dari seksualitas maka tujuan harus dievaluasi kembali secara teratur untuk menentukan apakah tujuan tersebut tetap realistik dan menjadi minat bersama.

Klien dapat berbagi cerita tentang kekuatiran dan keberhasilan yang berhubungan dengan semua aspek termasuk konsekuensi seksual. Ekspresi, pengenalan nilai dan kesukaan dari kedua pasangan sangat penting untuk mencapai intervensi. Tujuan tidak akan dicapai jika intervensi yang direkomendasikan tidak berhasil dan memenuhi seksualitas klien.

2.11.  Implementasi Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Fungsi Seksual

Peran perawat mencakup promosi kesehatan seksual sebagai komponen kesejahteraan menyeluruh. Perawat dapat meningkatkan kesehatan seksual dengan membantu klien mendapatkan wawasan mengenai masalah mereka dan menggali metode untuk menghadapi masalah tersebut secara efektif.

  • Promosi kesehatan

Menggali dan mendiskusikan nilai dan tingkat kepuasan serta memberikan pendidikan seks. Lingkungan dan waktu harus terstruktur untuk memberikan privasi, waktu yang tidak terganggu, dan kenyamanan klien. Pendidikan yang diberikan dapat dijadikan pedoman untuk perkembangan normal misalnya anak usia sekolah mengenai tumbuhnya rambut pubis.

  • Perawatan akut

Intervensi keperawatan yang menunjukan perubahan klien pada pasangan seksual atau disfungsi seksual umumnya menimbulkan kesadaran, membantu klarifikasi masalah atau kekuatiran, dan memberikan informasi.

Intervensi awal sering mencakup penggalian bersama klien tentang praktik seksual saat ini. Klien harus diberi dorongan untuk menyelidiki dan mengenali nilai sosial dan etik serta menganalisis peran seksualitas dalam konsep diri. Ketika ada perbedaan yang signifikan antara nilai dan praktik pada masa lalu atau saat ini, maka klien mungkin membutuhkan rujukan konseling yang lebih mendalam.

  • Perawatan restoratif

Ketika disfungsi seksual teridentifikasi dan menimbulkan masalah gaya hidup dan kesehatan, perawat harus memberikan rujukan yang sesuai. Agar efektif untuk setiap intervensi, perawat harus merasa nyaman dengan seksualitas dan mewaspadai nilai dan bias pribadi.

2.12.  Evaluasi Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Fungsi Seksual

Pengungkapan klien atau pasangan menentukan apakah tujuan dan hasil telah dicapai. Seksualitas dirasakan lebih dari yang dapat diamati, dan ekspresi seksual membutuhkan keintiman dan bukan suatu yang hanya diamati. Klien dapat diminta untuk mengungkapkan kekuatiran, berbagi aktifitas dan kepuasan, dan menunjukan faktor resiko. Perawat kemudian dapat mengamati isyarat perilaku seperti kontak mata, postur, dan gerakan tangan yang berlebihan yang menandakan kenyamanan atau menunjukkan berlanjutnya ansietas atau kekuatiran.

Ketika hasil dievaluasi, klien, pasangan dan perawat mungkin harus mengubah harapan atau menetapkan kerangka waktu yang lebih sesuai untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Semua orang yang terlibat mungkin perlu diingatkan tentang sifat ekspresi seksual individuali dan berbagai faktor yang mempengaruhi presepsi dan respons.

 

DAFTAR PUSTAKA

Patricia A, Potter dan Griffin Perry, Anne. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta:  EGC.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s