Diet Penyakit Saluran Cerna

2.1 Pengertian Traktus Gastrointestinal

Sistem pencernaan atau sistem gastrointestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh.

Saluran pencernaan terdiri dari mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.

 PENCERNAAN

2.2 Gangguan Traktus Gastrointestinal

Penyakit pencernaan adalah semua penyakit yang terjadi pada saluran pencernaan. Penyakit ini merupakan golongan besar dari penyakit pada organ esofagus, lambung, duodenum bagian pertama, kedua dan ketiga, jejunum, ileum, kolon, kolon sigmoid, dan rektum.

     Penyakit-penyakit yang timbul pada saluran cerna, selain disebabkan oleh adanya faktor organik (kelainan struktur saluran cerna, infeksi) ternyata 40-60 % merupakan sindrom fungsional. Penderita dapat mengalami gangguan pencernaan walaupun penyebab dan mekanisme terjadinya gangguan tersebut secara pasti belum diketahui secara pasti, namun gangguan tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis.

Sindrom fungsional pada gangguan saluran cerna tersebut, antara lain adalah gastritis (upper abdominal syndrome), sindrom fungsional hipogastrium (lower abdominal syndrome), dan aerofagi.

        Gastritis (Upper Abdominal Syndrome)

     Gangguan pencernaan bagian atas yang secara umum dikenal sebagai penyakit “maag” merupakan gangguan saluran cerna yang cukup sering dikeluhkan. Selain disebabkan oleh faktor organik seperti adanya luka/peradangan pada saluran cerna bagian atas (lambung), gangguan ini juga dihubungkan dengan faktor psikologis mendasarinya. Gangguan ini ditandai antara lain oleh adanya rasa sakit dan atau rasa penuh di daerah epigastrium (ulu hati), kanan atau kiri di bawah lengkung iga.

Rasa sakit bersifat membakar atau samar-samar, tidak jarang menjalar, intensitasnya sedang, menghebat karena makanan atau langsung setelah makan, tidak ada hubungannya dengan kejadian tertentu. Gejala-gejala lain yang timbul antara lain gangguan menelan, eruktasi (bersendawa), pirosis (merasa terbakar dan rasa asam atau pahit), mual dan muntah, kembung (meteorismus), dan lain-lain.

Penderita gastritis biasanya menunjukkan perubahan yang cukup mencolok yaitu sikap depresi. Seringkali penderita menyalahkan lingkungan atau makanannya, tetapi ternyata dengan diet (makanan) juga tidak mengurangi rasa sakitnya. Keseimbangan yang rapuh yang mudah menjadi runtuh dapat terlihat ketika penderita mengalami keluhan pada saluran cernanya dan jelas terlihat adanya ketergantungan pada objek yang memanjakannya.

        Sindrom Fungsional Hipogastrium (Lower Abdominal Syndrom)

     Gangguan pencernaan yang mengenai saluran cerna bagian bawah ini juga dikenal sebagai spastic colon, irritable colon, colitis nervosa, dan obstipasi spastic. Penderita penyakit ini akan mengeluhkan rasa sakit pada perut, biasanya di bawah pusat, diare atau obstipasi (sembelit). Bila terjadi obstipasi, feses penderita dapat keluar berbentuk seperti potlot atau tahi kambing (obstipasi spastik).

     Faktor psikologis yang berperan pada penderitanya yaitu adanya harapan-harapan untuk meminta lebih banyak lagi dari orang lain karena mereka telah memberi banyak pada orang tersebut.

      Aerofagi

     Gejala yang timbul dari gangguan saluran cerna ini adalah berupa rasa sakit perut dan perut dirasakan penuh dan membengkak, hal ini dibuktikan dengan bersendawa (belching) yang keras bertubi-tubi. Simtom ini terutama ditemukan pada meraka yang bergantian menelan dan mengeluarkan udara. Bila tidak dapat bersendawa, maka perut akan terasa kembung (meteorismus) dan kentut (flatus) yang tidak berbau.

Karena penyebab yang mendasari gangguan ini adalah faktor psikologis (setelah hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya penyebab organik yang mendasari nya) dari penderitanya maka selain memberikan pengobatan yang dapat mengurangi gejala yang dialami penderitanya maka psikoterapi juga dibutuhkan untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi gangguan ini.

Mencret (Diare)

Diare terjadi karena adanya rangsangan yang berlebihan pada mukosa usus sehingga gerakan otot usus meningkat dan makanan kurang terserap secara sempurna. Diare termasuk gangguan perncernaan yang paling sering muncul terutama pada anak-anak.

Diare akut kalau anak mencret lebih dari 4 kali sehari. Penyebabnya bisa infeksi, bisa juga hanya karena salah makan, sebagai contoh makanan yang tidak sesuai dengan usia anak, misalnya sudah diberikan makan padat sebelum waktunya.

Faktor kebersihan juga menjadi sebab diare. Diare yang disebabkan bakteri atau salah makan adalah penyebab utama gangguan pencernaan pada anak di bawah 5 tahun (Balita). Selain itu, ada juga diare akibat cacingan.

Heartburn

Heartburn adalah nyeri akut yang dirasakan di daerah epigastrium, yang dirasakan dapat menyebar ke bagian lain dari dada atau lengan. Heartburn ini biasanya timbul setelah makan dan disebabkan oleh refluks isi lambung ke esofagus.

Esofagitis

Esofagitis adalah peradangan kronik esofagus. Kelainan ini sering terjadi akibat refluks kronik isi lambung ke dalam esofagus. Apabila hal ini terjadi, lapisan mukosa esofagus dapat mengalami tukak oleh asam. Kerusakan lapisan mukosa dapat menyebabkan peradangan kronik, spasme otot, dan pembentukan jaringan parut di esofagus, yang dapat menyebankan terhambatnya makanan. Gejala klinis:

  • Nyeri seperti terbakar di epigastrium
  • Muntah
  • Disfagia (kesulitan menelan)

Peritonitis

Peritonitis adalah peradangan peritoneum, suatu membran yang melapisi rongga abdomen. Perionitis biasnya terjadi akibat masuknya bakteri dari saluran cerna atau organ-organ abdomen ke dalam ruang peritoneum melalui perforasi usus atau rupturnya suatu organ. Gejala klinis:

  • Nyeri, terutama di atas daerah yang meradang
  • Peningkatan kecepatan denyut jantung akibat hipovolemia karena perpindahan cairan ke dalam perinium
  • Mual dan muntah
  • Abdomen yang kaku

Sembelit (Konstipasi)

Konstipasi adalah kelainan pada sistem pencernaan dengan gejala mengalami pengerasan feses yang sulit untuk dibuang yang dapat menyebabkan kesakitan pada penderitanya. Konstipasi dapat disebabkan oleh pola makan, hormon, efek samping obat-obatan, dan juga karena kelainan anatomis. Biasanya, konstipasi disebabkan karena defekasi yang tidak teratur sehingga feses mengeras dan sulit dikeluarkan.

Pengobatan konstipasi dapat dilakukan dengan mengubah pola makan, obat pencahar (laksatif), terapi serat, dan pembedahan, walaupun pilihan terakhir jarang dilakukan. Konstipasi hebat disebut juga dengan obstipasi. Gangguan pada sistem pencernaan juga bisa disebabkan karena stres. Sebab stres dapat mempengaruhi sistem saraf dalam tubuh. Sementara penanganan untuk yang susah BAB, harus dilihat dulu apa penyebabnya.

Wasir atau hemoroid

Wasir atau hemoroid adalah pelebaran pembuluh darah balik (vena) di dalam anyaman pembuluh darah. Keluhan pertama kali yaitu darah segar menetes setelah buang air besar (BAB). Biasanya tanpa disertai rasa nyeri dan gatal di anus. Pencegahannya adalah perlu diet tinggi serat dengan makan sayur sayuran dan buah-buahan yang bertujuan membuat volume tinjanya besar, tetapi lembek, sehingga saat BAB, karena tidak perlu mengejan dapat merangsang wasir.

Kanker usus

Kanker usus merupakan penyakit ketiga yang menjadi penyebab kematian di seluruh dunia. Studi pada manusia juga menunjukan keseluruhan jumlah kalsium yang dikonsumsi sangat positif dalam mengurangi tingkat dari resiko kanker susu ini. Setiap kenaikan 1.000 miligram kalsium sehari atau lebih akan mempu mengurangi 15% resiko dari kanker usus pada wanita dan 10% pada pria. Konsumsi susu dan kalsium bisa mengurangi resiko terkena kanker usus. Keju dan yoghurt juga merupakan hasil olahan dari susu.

Cara terbaik untuk mencegah dan mengurangi risiko kanker usus adalah dengan mengkonsumsi makanan yang seimbang antara buah, sayuran, dan kalori. untuk mengurai proses penimbunan lemak.

2.3 Gizi Gangguan Traktus Gastrointestinal

     Gizi dipengaruhi oleh intake makanan sehari-hari dan komposisi makanan itu sendiri. Adanya gangguan GIT akan menyebabkan gangguan pada pencernaan dan penyerapan nutrisi. Akibatnya adalah  penurunan status gizi. Akibat dari gangguan GIT terhadap status gizi seseorang dipengaruhi oleh:

  • Cara pemberian makanan
  • Tempat gangguannya
  • Asal
  • Luasnya penyakit

Tujuan terapi diet untuk penderita gangguan GIT adalah :

  • Mengistirahatkan organ dimaksukan untuk memberikan kesempatan bagi GIT untuk

Sembuh.

  • Mencegah progresivitas (mencegah penyakit semakin berlanjut) dengan

mengoreksi efek apa yang terjadi. Disesuaikan dengan makanan yang cocok.

  • Mencegah kekambuhan

2.4 Diet Gangguan Traktus Gastrointestinal

Gangguan pencernaan dan absorpsi dapat terjadi pada proses menelan, mengosongkan lambung, absorpsi zat-zat gizi dan proses buang air besar (defekasi). Gangguan ini antara lain terjadi karena infeksi atau peradangan, gangguan motilitas, perdarahan atau hematemesis-melena, kondisi saluran cerna pasca bedah dan tumor atau kanker. Penyakit-penyakit saluran cerna yang terjadi antara lain stenosis esofagus, gastritis akut atau kronik, hematemesis-melena, ulkus peptikum, Gastroesophageal Reflux Diseasa (GERD) Sindroma Dumping, Divertikulosis, Inflammatory Bowel Disease (IBD), hemoroid, diare dan konstipasi.

. Menurut lokasinya, penyakit saluran cerna dibagi dalam dua kelompok yaitu penyakit saluran cerna atas dan penyakit saluran cerna bawah.

1.    Diet Saluran Cerna Atas

Diet Disfagia

Disfagia adalah kesulitan menelan karena adanya gangguan aliran makanan pada saluran cerna. Hal ini dapat terjadi karena kelainan sistem saraf menelan, pascastoke dan adanya massa atau tomor yang menetupi saluran cerna.

Tujuan diet disfagia adalah :

(1)      Menurunkan risiko aspirasi akibat masuknya makanan ke dalam saluran pernapasan.

(2)      Mencegah dan mengoreksi defisiensi zat gizi dan cairan.

Syarat-syarat diet disfagia adalah:

(1)      Cukup energi, protein dan zat gizi lainnya.

(2)      Mudah dicerna, porsi makanan kecil dan sering diberikan.

(3)      Cukup cairan.

(4)      Bentuk makanan bergantung pada kemampuan menelan,. Diberikan secara bertahap,dimulai dari makanan cair penuh atau cair kental, makanan saring dan makanan lunak.

(5)      Makanan cair jernih tidak diberikan karena sering menyebabkan tersedak atau aspirasi.

(6)      Cara pemberian makanan dapat per oral atau melalui pipa (selang) atau sonde.

Disfagia dapat terjadi pada lansia, adanya gangguan saraf menelan, tumor esofagus dan pascastoke. Bentuk makanan bergantung pada cara pemberian. Bila diberikan melalui pipa, makanan diberikan dalam bentuk makanan cair penuh, bila diberikan per oral maka makanan diberikan dalam bentuk makanan cair kental, saring, atau lunak.

Diet Pasca-Hematemesis-Melena

Hematemesis-melena adalah keadaan muntah dan buang air besar berupa darah akibat luka atau kerusakan pada saluran cerna.

Tujuan diet pasca-hematomesis-melena adalah:

(1)      Memberikan makanan secukupnya yang memungkinkan istirahat pada saluran cerna, mengurangi risiko perdarahan tulang dan mencegah aspirai.

(2)      Mengusahakan keadaan gizi sebaik mungkin.

Diet pasca-hematemesis-melena diberikan dalam bentuk makanan cair jernih, tiap 2-3 jam pasca perdarahan. Nilai gizi makanan ini sangat rendah, sehingga diberikan selama 1-2 hari saja.

Diet Penyakit Lambung

Penyakit lambung atau gastrointestinal meliputi gastritis akut dan kronis. Ulkus peptikulum, pasca-operasi lambung sering diikuti dengan “Dumping Sindrom” dan kanker lambung. Gangguan gastrointestinal sering dihubungkan dengan emosi atau psikoneurosis dan atau makanan terlalu cepat karena kurang dikunyah serta terlalu banyak merokok.

Gangguan pada lambung umumnya berupa sindroma dispepsia, yaitu kumpulan gejala yang terdiri dari mual, muntah, nyeri epigastrium, kembung, nafsu makan berkurang dan rasa cepat kenyang.

Tujuan diet penyakit lambung adalah untuk memberikan makanan tidak memberatkan lambu dan cairan secukupnya yang tidak memberatkan lambung serta mencegah dan menetralkan sekresi aasam lambung yang berlebihan.

Syarat-syarat diet penyakit lambung adalah:

(1)      Mudah dicerna, porsi kecil dan sering diberikan.

(2)      Energi dan protein cukup, sesuai kemampuan pasien untuk menerimanya.

(3)      Lemak rendah, yaitu 10-15 % dari kebutuhan energi total yang ditingkatkan secara bertahap hingga sesuai dengan kebutuhan.

(4)      Rendah serat, terutama serat tidak larut ait yang ditingkatkan secara bertahap.

(5)      Cairan cukup, terutama bila ada muntah.

(6)      Tidak mengandung bahan makanan atau bumbu yang tajam, baik secara termis, mekanis, maupun kimia (disesuaikan dengan daya terima perorangan).

(7)      Laktosa rendah bila ada gejala intoleransi laktosa, umumnya tidak dianjurkan minum susu terlalu banyak.

(8)      Makan secara perlahan di lingkungan yang tenang.

(9)      Pada fase akut dapat diberikan makanan parenteral saja selama 24-48 jam untuk memberi istirahat pada lambung.

Diet lambung diberikan pada pasien dengan gastritis, ulkus peptikum, tifus abdomenalis dan pasca bedah saluran cerna atas.

  • Diet Lambung I

Diet lambung I diberikan pada pasien gastritis akut, ulkus peptikum, pasca pendarahan dan tifus abdomenalis berat. Makanan diberikan dalam bentuk saring dan merupakan perpindahan dari diet pasca-hematemesis-melena atau setelah fase akut teratasi. Makanan diberikan setiap 3 jam selama 1-2 hari saja karena membosankan serta kurang energi, zat gizi, tiamin dan vitamin C.

  • Diet lambung II

Diet lambung II diberikan sebagai perpindahan dari diet lambung I, kepada pasien dengan ulkus peptikum atau gastritis kronis dan tifus abdominalis ringan. Makanan berbentuk lunak, porsi kecil serta diberikan berupa 3 kali makanan lengkap dan 2-3 kali makanan selingan.

Bahan Makanan Sehari

Bahan Makanan

Berat (g)

Ukuran

Beras 90 31/2 gls bubur
Roti 40 2 iris
Maizena 20 4 sdm
Daging 100 2 ptg sdg
Telur ayam 100 Btr
Tempe 100 4 ptg sdg
Sayuran 250 21/2 gls
Buah 200 2 sdg ptg pepaya
Margarin 35 31/2 sdm
Gula pasir 65 61/2 sdm
Susu 300 11/2 gls

 Nilai Gizi

Energi 1942 kkal Besi 28,5 mg
Protein 75 g Vitamin A 15369 RE
Lemak 79 g Tiamin 0,8 mg
Karbohidrat 241 g Vitamin C 205 mg
Kalsium 817 mg

Pembagian Bahan Makanan Sehari

Pagi

Pukul 10.00

Beras 30 g = 11/2  gls bubur Maizena 20 g = 4 sdm
Telur ayam 50 g = 1 btr Gula pasir 25 gr = 21/2sdm
Sayuran 50 g = 1/ 2gls Susu 100 g =1 /2 gls
Gula pasir 1 sdm
Margarin 1/ sdm

Siang

Pukul 16.00

Beras 30 g = 11 / 2 gls bubur Roti 40 g = 2 iris
Daging 50 g = 1 ptg sdg Margarin 10 g = 1 sdm
Tempe 50 g = 2 ptg sdg Telur 50 g = 1 btr
Sayuran 100 g = 1 gls Gula pasir 10 g = 1 sdm
Pepaya 100 g = 1 ptg sdg
Gula pasir 10 g = 1 sdm
Margarin 10 g = 1 sdm

Malam

Pukul 20.00

Beras 30 g = 11/2 gls bubur Susu 200 g = 1 gls
Daging 50 g = 1 ptg sdg Gula pasir 10 g = 1 sdm
Tempe 50 g = 2 ptg sdg
Sayuran 100 g = 1 gls
Pepaya 100 g = 1 ptg sdg
Margarin 10 g = 1 sdm

 Bahan Makanan yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan

Bahan Makanan

Dianjurkan

Tidak Dianjurkan

Sumber karbohidrat Beras dibubur atau ditim ; kentang dipure ; makaroni direbus ; roti dipanggang ; biskuit ; krekers ; mie, bihun, tepung-tepungan dibuat bubur atau puding. Beras keta,  beras tumbuk, roti whole wheat, jagung ; ubui, singkong,  tales ; cake, dodol dan berbagai kue yang terlalu manis dan berlemak tinggi.
Sumber protein hewani Daging sapi empuk, hati,  ikan, ayam digiling atau dicincang dan direbus, disemur, ditim, dipanggang ; telur ayam direbus, didadar, ditim,  diceplok air dan dicampur dalam makanan ; susu. Daging, ikan, ayam yang diawet, digoreng ; daging babi ; telur diceplok atau digoreng.
Sumber protein nabati Tahu, tempe, direbus, ditim, ditumis ; kacang hijau direbus  dan dihaluskan. Tahu, tempe digoreng ; kacang tanah ; kacang merah ; kacang tolo.
Sayuran Sayuran yang tidak banyak serat dan tidak menimbulkan gas ketika dimasak : bayam, bit, labu siam, labu kuning, wortel, tomat direbus dan ditumis. Sayuran mentah ; sayuran berserat tinggi dan menimbulkan gas seperti daun singkong, kacang panjang, kol, lobak, sawi dan asparagus.
Buah-buahan Pepaya ; pisang ; jeruk manis ; sari buah ; pir dan peach dalam kaleng. Buah yang tinggi serat dan atau dapat menimbulkan gas seperti jambu biji, nanas, apel, durian, nangka; buah yang dikeringkan.
Lemak Margarin dan mentega ; minyak untuk menumis dan santan encer. Lemak hewan, santan kental.
Minuman Sirup, teh. Minuman yang mengandungsoda dan alkohol, kopi, ice cream.
Bumbu Gula, garam, vetsin, kunci, kencur, jahe, kunyit, terasi, laos, salam dan sereh. Lombok, bawang, merica, cuka dan sebagainya yang tajam.
  • Diet Lambung III

Diet lambung III diberikan sebagai perpindahan dari Diet Lambung II pada pasien dengan ulkus peptikulum, gastritis kronik atau tifus abdominalis yang hampir sembuh. Makanan berbentuk lunak atau biasa tergantung pada toleransi pasien.

Bahan Makanan Sehari

Bahan Makanan

Berat

Ukuran

Beras 200 4 gls tim
Maizena 15 3 sdt
Biskuit 20 2 buah
Daging 100 2 ptg sdg
Telur ayam 50 1 btr
Tempe 100 4 ptg sdg
Ssayuran 250 21 / 2 gls
Buah 200 2 ptg sdg pepaya
Minyak 25 21/2 sdm
Gula pasir 40 4 sdm
Susu 200 1 gls

Nilai Gizi

Energi 2054 kkal Besi 26 mg
Protein 70 g Vitamin A 29103  RE
Lemak 69 g Tiamin 0,8 mg
Karbohidrat 290 g Vitamin C 204 mg
Kalsium 653 mg  

Pembagian Bahan Makanan Sehari

Pagi

Pukul 10.00

Beras 50 g = 1 gls tim Maizena 15 g = 3 sdm
Telur ayam 50 g = 1 btr Gula pasir 20 g = 2 sdm
Sayuran 50 g =1 /2 gls
Gula pasir 10 g = 1 sdm
Minyak 5 g = 1 /2  sdm

Siang dan Malam

Pukul 16.00

Beras 75 g = 11 / 2 gls tim Biskuit 20 g = 2 bln
Daging 50 g = 1 ptg sdg Susu 200 g = 1 gls
Tempe 50 g = 2 ptg sdg Gula pasir 10 g = 1 sdm
Sayuran 100 g =m1 gls
Pepaya 100 g = 1 ptg sdg
Minyak 10 g = 1 sdm

Bahan Makanan yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan

Bahan Makanan

Dianjurkan

Tidak Dianjurkan

Sumber karbohidrat Beras tim, nasi ; kentang direbus, dipure ; makaroni, mie, bihun direbus ; roti, biskuit, krekers ; tepung-tepungan dibuat puding atau dibubur. Beras ketan, beras tumbuk, roti whole wheat, jagung ; ubi, singkong, teles, kentang digoreng, dodol dan sebagainya.
Sumber protein hewani Daging sapi empuk, hati, ikan, ayam direbus, disemur, ditim, dipanggang ; telur ayam direbus, ditim, didadar, diceplok air dan dicampur dalam makanan ; susu. Daging, ikan, ayam yang dikaleng, dikeringkan, diasap, diberi bumbu-bumbu tajam ; daging babi, telur goreng.
Sumber protein nabati Tahu, tempe direbus, ditim, ditumis ; kacang hijau direbus. Tahu, tempe goreng; kacang tanah, kacang merah, kacang tolo.
Sayuran Sayuran yang tidak banyak serat dan tidak menimbulkan gas seperti : bayam, buncis, kacang panjang, labu siam, wortel, tomat, labu kuning, direbus, ditumis, disetup dan diberi santan. Sayuran dikeringkan.
Buah-buahan Pepaya, pisang, sawo, jeruk manis, sari buah, buah dalam kaleng. Buah yang tinggi serat dan atau dapat menimbulkan gas seperti jambu biji, nanas, kedongdong, durian, nangka dan buah yang dikeringkan.
Lemak Margarin, minyak dan santan encer. Lemak hewan dan santan kental.
Minuman Sirup, teh encer. Kopi, teh kental, minuman yang mengandung soda dan alkohol, ice cream.
Bumbu Garam, gula, vetsin, dalam jumlah terbatas ; jahe, kunyit, kunci, kencur, laos, sarlam, sereh, terasi dan sebagainya. Lombok, merica, cuka dan bumbu lainnya yang tajam.

Contoh Menu Sehari

Pagi

Siang

Malam

Nasi tim / nasi Nasi tim / nasi Nasi tim / nasi
Telur dadar Semur ayam Ikan bumbu tomat
Setup wortel Tahu bumbu tomatSayur bening bayam

Pepaya

Tim tempeSayur lodeh

Pisang

Pukul 10.00

Pukul 16.00

 
Puding maizena / agar-agar + saos susuSusu Bubur kacang hijau   

2.      Diet Penyakit Saluran Cerna Bawah

Diet Penyakit Usus Inflamatorik (Inflammatory Bowel Disease)

        Penyakit usus inflamatorik adalah peradangan terutama pada ileum dan usus besar dengan gejala diare, disertai darah, lendir, nyeri abdomen, berat badan berkurang, demam dan kemungkinan terjadi streatorea (adanya lemak dalam feses). Penyakit ini dapat berupa Kolitis Ulseratif dan Chron’s Disease.

Tujuan diet penyakit inflamatorik adalah:

(1)   Memperbaiki ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.

(2)   Mengganti kehilangan zat gizi dan memperbaiki status gizi kurang.

(3)   Mencegah iritasi dan inflamasi lebih lanjut.

(4)   Mengistirahatkan usus pada masa akut.

Syarat-syarat diet penyakit usus inflamatorik adalah:

(1)      Pada feses akut dipuasakan dan diberi makanan secara parenteral saja.

(2)      Bila fase akut teratasi, pasien diberi makanan secara bertahap, mulai dari bentuk cair (peroral maupun enteral), kemudian meningkat menjadi siet sisa rendah dan serat rendah.

(3)      Bila gejal ahilang dapat diberikan makanan biasa.

(4)      Kebutuhan gizi, tyaitu :

(a)    Energi dan protein tinggi.

(b)   Suplemen vitamin dan mineral antara lain vitamin A, C, D asm folat, vitamin B12,  kalsium, zat besi, magnesium dan seng.

(5)   Makanan enteral rendah atau bebas laktosa dan mengandung asam lemak rantai sedang (medium chain trygliceride = MTC) dapat diberikan karena sering terjadi intoleransi laktosa dan malabsorpsi lemak.

(6)   Cukup cairan dan elektrolit.

(7)   Menghindari makanan yang mengandung gas.

(8)   Sisa rendah dan secara bertahap kembali ke makanan biasa

Diet Penyakit Divertikular

                        Penyakit divertikular terdiri atas penyakit Divertikulosis dan Divertikulitis. Penyakit Divertikulosis yaitu adanya kantong-kantong kecil yang terbentuk pada dinding kolon yang terjadi akibat tekanan intrakolon yang tinggi pada konstipasi kronik. Hal ini terutama terjadi pada usia lanjut yang makanannya rendah serat. Penyakit Divertikulitis terjadi bila penumpukan sisa makanan pada divertikular menyebabkan peradangan. Gejala-gjalanya antar alain kram pada bagian kiri bawah perut, mual, kembung, muntah, konstipase atau diare, menggigil dan demam.

Tujuan Diet Penyakit Divertikulosis

(1)   Meningkatkan volume dan konsistensi fees.

(2)   Menurunkan tekanan intra luminal.

(3)   Mencegah infeksi.

Syarat-syarat Diet Penyakit Divertikulosis

(1)      Kebutuhan energi dan zat-zat gizi normal.

(2)      Cairan tinggi, yaitu 2-2,5 liter sehari.

(3)      Serat tinggi.

Tujuan Diet Penyakit Divertikulitis

(1)   Mengistirahatkan usus untuk mencegah perforasi.

(2)   Mencegah akibat laksatif dari makanan berserat tinggi.

Syarat-syarat Diet Penyakit Divertikulitis

(1)   Mengusahakan asupan energi dan zat-zat gizi cukup sesuai dengan batasan diet yang ditetapkan.

(2)   Bila ada pendarahan, dimuali dengan makanan cair jernih.

(3)   Makanan diberikan secara bertahap, dimulai dari diet sisa rendah I kediet sisa rendah II dengan konsistensi yang sesuai.

(4)   Hindari makanan yang abanyak mengandung biji-biji kecil, seperti tomat, jambu biji dan stroberi yang dapat menumpuk dalam divertikular.

(5)   Bila perlu diberi makanan enteral rendah atau bebas laktosa.

(6)   Untuk mencegah konstipasi, minum minimal 8 gelas sehari.

2.5    Pencegahan Gangguan Traktus Gastrointestinal

Sayur dan buah memegang peranan yang penting dalam tubuh manusia. Karena itu, orang yang sering mengonsumsi keduanya, khususnya kaum vegetarian, memiliki prevalensi terkena penyakit lebih kecil dibandingkan mereka yang tidak suka mengonsumsi sayur dan buah.

Sayur merupakan sumber serat, vitamin, dan mineral. Juga mengandung zat yang bukan gizi tapi sangat dibutuhkan bagi kesehatan tubuh manusia. Karena itu, mengonsumsi sayur dan buah sangat penting. Dengan rajin mengonsumsi sayur dan buah, buang air besar (BAB) menjadi lancar. Serat yang terdapat di dalam keduanya bisa mendorong tinja untuk keluar. Karena itu, anak atau orang dewasa yang kurang mengonsumsi buah dan sayur biasanya akan mengalami kesulitan dalam buang air besar.

 

Daftar Pustaka 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s