Memoar Tiga Tahun Lalu

4180085149_b3a29449d9_o

Sudah lama berlalu ya, sekitar tiga tahun lalu. Ketika sebuah album usang itu merekam sebuah memori pahit. Tentang dirimu yang terluka karena takdir.

Ketika itu, takdir dan waktu berkonspirasi mengenai sebuah skenario. Dia, mengatur segalanya.

Kau masih ingat ketika Dia menghempaskan mu dalam lubang pesakitan, menurut mu saat itu. Kau hancur. Selaksa cermin yang dilempari batu.

Kau merasa dipecundangi. Seketika itu, mengabur semua. Kau seperti zombie disana.

Salahkan hati nurani yang masih memiliki ‘angel’. Lalu kau merasa kecil. Terseok diantara sebuah rimba dunia.

Salahkan akal mu yang masih berfungsi normal. Ia mengetuk diri dan hati mu.

Kau luluh. Akhirnya, sebuah dinamika akal dan hati mu kembali mengambil peran. Kau kembali mendapatkan ruh mu yang hilang.

Kau kembali bergairah menjala takdir-takdir Nya. Mendengar, dan mencerna semua yang kau dapat dengan baik.

Lalu, kau menjadi pengagum sunset di ufuk barat sana. Dimana kau berteman dengan seluruh anggota hari. Berdamai dengan selorohan yang kadang kala membuat nyeri epigastrium.

Kau berteman dan berdamai dengan takdir mu sekarang. Sesuatu yang seharusnya kau lakukan sejak tiga tahun yang lalu.

Bojonggede, 26 September 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s