Selaksa Lirih Rindu

tumblr_m6xldnSyX61rodbuso1_1280

 

 

Ketika aku berada dipenghujung senja, oranye kehitaman mulai bergerak. Memang degradasi warna selalu menjemput malam.

Selaksa tulip mekar, mungkin rindu takkan bisa terus memuncak. Setiap harinya selalu bertambah sampai aku mencapai pelabuhan akhir.

Sejatinya para pejuang, merelakan asa… mungkin menjadi opsi yang dapat dipertimbangkan. Sembari menjajal ketajaman intuisi.

Segagahnya para pemimpin, ambil alih arah perahu… menuju tempat yang tidak akan menjanjikan kepastian. Tetapi menjanjikan sebuah kehidupan baru.

Selaras melodi yang sering kali aku dengar, kehidupan jauh telah beranjak sebelum aku menyadari hidup.

Hari ini, hidup dalam damba terdengar sulit. Apalagi dalam lirih rindu yang terkadang menjadikannya dewa. Kisah umum tentang orang dewasa muda usia 20 tahunan, tidak jauh beda. Mungkin ada yang lebih parah.

Tak mengapa, jika itu datang dengan frekuensi yang jarang. Atasi. Meski harus mematikan dengan segera api yang tersulut rindu itu. Tak mengapa, itu membuat dirimu menjadi lebih hidup.

Kemarin pagi, beberapa orang mengakhiri hidup dalam damba. Damba itu nyata sekarang. Realistis.

Pertanyaannya, kapankah kau akan mengakhiri hidup dalam damba?

 

Sukabumi, 25 Agustus 2013

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s