Saya, Mursi dan Ikhwanul Muslimin

#Egypt

Journey of Sinta Yudisia

Apa yang membuat kita bisa demikian peduli pada Mesir, pada Muhammad Mursi padahal sama sekali tak ada “hubungan dekat” antara kita dan mereka?

Saya mengenal nama Ikhwanul Muslimin sekitar tahun 1990an. Waktu remaja saat itu, kehidupan pribadi dan keluarga tengah dilanda kemelut hebat. Saat penuh ujicoba, manusia biasanya lebih dekat kepada Tuhan. Ketika itu, pengajian tasawwuf menjadi pilihan. Saya bisa menghabiskanw aktu berjam-jam di jamaah tasawwuf, berdzikir dengan mata terpejam dan airmata berlinangan hingga tersedu-sedu. Bahan bacaan saya saat itu sangat beragam. Mulai kita tasawwuf , kitab klenik sampai sebuah buku yang saya lupa judulnya dan berapa halaman. Tapi tokohnya saya sangat-sangat ingat : Zainab Al Ghazali. Entah mengapa, sosoknya yang terdzalimi seketika menggantikan idola saya yang saat itu masih berputar-putar di Tommy Page dan Richard Marx ( A Shoulder to Cry On ; Right Here Waiting).

Tommy Page yang keren dan cool, Marx yang romantic man kok rasanya jadi…

View original post 1,110 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s