(FF Oneshoot) The Story From The Past

The Story From The Past

 

Author            : Azurama

Cast                : Lee Donghae, Choi Younha

Genre             : Romance

Length            : Oneshoot

Disclaimer      : FF ini asli pemikiran saya. Ini FF perdana saya, banyak sekali kekurangan didalamnya, alur gaje, kecepetan, ceritanya sinetron banget, gampang ditebak dan typo yang bertebaran serta bahasa yang ‘aneh’ dan kurang bisa dimengerti. Mohon maaf bila kurang berkenan dan membosankan. Oke selamat membaca ^^.. FF ini pertama kali dipost pada blog www.riikuclouds.wordpress.com

*****

 

Younha POV

Disekolah ini kami berbagi asa, cita, dan harapan. Menatap pintu gerbang menuju tingkat kedewasaan. Berbagi luka yang membekas tajam dalam setiap lorong hati. Aku kembali menjejakkan kaki disini, sekolah kami. Dengan luasnya lapangan serta teras-teras yang membingkainya.

Atmosfer yang ditimbulkan masih sama dengan waktu lampau, tapi mungkin sekarang.. aku merasa sedikit sesak. Seperti ada bongkahan batu yang menghimpit dadaku. Mataku kembali bergerilya menerawangi setiap sudut sekolah ini. Ah, rasanya baru kemarin aku meninggalkan sekolah ini. Hari ini aku datang sebagai seorang perawat di sebuah rumah sakit besar di Seoul.

Aku masih bergerilya berjalan pada setiap lorong sekolah ini, berharap kepingan memori ini dapat kembali menyatu utuh. Tanpa ada yang perlu disembunyikan atas nama seorang sahabat. Kau tahu, tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi. Sekarang, aku sudah hidup dalam duniaku.

Masa lalu yang telah berlalu dan selesai, pergilah. Tenggelamlah seperti mataharimu. Tapi kali ini, aku seakan diseret kembali dalam pusaran waktu lampau. Nostalgia ini kembali menyeretku dalam gempita yang menyesakkan. Tiba-tiba suara handphoneku berbunyi, mengembalikan ku dalam sebuah realita sekarang ini.

“Yeobseo, hum.. Miwoo-ah, kau sudah di aula? Ne, aku akan segera kesana.”

Aku segera menderapkan kaki ku menuju ruang aula, ruang dimana diadakan reuni akbar tahun ini. Dengan segera aku melangkahkan kaki menuju tempat itu. Tampak meja tamu dengan hiasan manis menyambut datangnya diri ku. Aku tersenyum tipis pada setiap orang yang aku temui, aku tidak mengenal mereka semua, mengingat ini adalah pertemuan dari angkatan pertama hingga tahun lalu. Hingar bingar menyambutku masuk kedalam, sedikit mengganggu indera pendengaranku.

“Younha-ya.” Tegur seseorang.

Aku menolehkan kepala mencari sumber suara itu. Yup, Shin Miwoo.

“Miwoo-ah.” Aku memeluknya erat, melepas segala kerinduan yang tertahan selama ini. Kami sahabat yang sangat dekat, tapi karena kesibukannya yang bekerja di kepolisian dengan suaminya -Jongwoon-, kami jarang sekali bertemu.

“Younha-ya, kajja kita kesana. Disana sudah ada Jongwooon dan teman-teman kita yang lain.” Ajak Miwoo menarik tanganku.

Aku menuruti langkah Miwoo. Dari kejauhan aku melihat suaminya –Jongwoon sedang bercakap santai dengan seseorang. Kami mendekat, dan siluet itu tampak jelas sekarang.

Donghae POV

Kembali, aku terseret dalam pusaran memori lampau. Kepingan puzzle ini kembali menyatu, ketika aku menjejakkan kaki di sekolah kami. Ada sedikit rasa ngilu yang menggigit setiap memandangi kelas yang tertata rapi disini.

Kami menghabiskan tawa disini sampai kedua belah pipi kami pegal. Disudut ruang kelas itu, kami berbagi mimpi, berbagi prinsip, berbagi pemikiran. Sampai suatu ketika.. waktu tak lagi mengijinkan kami bersama, karena mimpi seorang sahabat, kami tidak lagi bersama. Karena kami sendiri memiliki mimpi yang harus diwujudkan. Dan, menggelindinglah aku dalam rotasi bumiku.

“Donghae-ah, bagaimana pekerjaanmu di Mokpo?” Tanya Jongwoon.

“Hum, baik Hyung.. tapi mulai besok aku akan bekerja di Seoul Hospital.” Jawabku.

“Jinja?! Kau akan tinggal disini berarti?” Tanya Jongwoon antusias.

“Ne, aku mendapatkan rekomendasi dari salah seorang dokter yang ada di Mokpo untuk bekerja di Seoul Hospital.” Jelasku.

Jongwoon masih diam untuk menyimak kelanjutan ceritaku. “Kata beliau, aku pantas untuk bekerja disana. Selain karena nanti aku dapat mengembangkan kemampuanku lagi, beliau juga menyuruhku untuk mengambil spesialis.” Paparku.

“Chukkae.” Aku tersenyum mendengar Jongwoon memberikan selamat padaku.

Aku kembali menenggak minumanku, sampai mataku menangkap bayang yang begitu familiar. Ya, bayang itu mendekati kami. Dan nampak jelas sekarang. Kembali, waktu mempermainkan kami. Waktu kembali memutar kaset rekaman potongan memori lampau. Menyeretku dengan pusarannya yang dahsyat.

Kembali, rasa sesak bercampur ngilu merambat pada setiap relung hatiku. Kenapa disaat aku mulai menata kekacauan hati, bayang itu malah menjadi nyata.. Apa tadi aku bilang? Menata kekacauan hati? Ya.. Sekian lama ini aku belum bisa menata sistem pemerintahan hatiku lagi akibat kekacauan ini.

“Donghae-ah. Lihat.. aku bertemu dengan siapa?” Tanya Miwoo menggodaku.

Aku menatapnya, dengan perasaan kacau. Rindu, nyeri, sesak, senang. Ah.. rasanya ingin sekali memeluknya erat dan mengatakan, aku sangat merindukanmu.

Author POV

Gegap gempita ruangan itu benar-benar semarak. Dengan banyak percakapan memekakkan, menjadikannya sebuah gelombang suara dengan puluhan desible yang tertangkap oleh indera pendengaran. Miwoo dan Jongwoon bercakap-cakap dengan teman-teman yang lainnya. Donghae sesekali menambahinya dengan gurauan dan senyum.

Donghae sedang mencoba mengalihkan pandangan matanya pada gadis yang sekarang ada dihadapannya. Younha sedang bebicang asyik dengan Miwoo dan para gadis lainnya. Sesekali Younha tersenyum dan berbicara antusias. Younha sama sekali tidak menyangka bahwa sekarang siluet laki-laki itu nyata. Younha dapat menjangkaunya dalam setiap edaran pandangnya. Tapi Younha menyadari kekikukannya dan Donghae. Mereka sama-sama kikuk, setelah sekian lama tidak bertemu, hanya sesekali bertukar kabar melalui pesan singkat. Tentunya atas nama agungnya ‘sahabat’.

Mereka belum tahu bagaimana cara mengungkap rindu, mungkin ketika kerinduan telah membumbung tinggi dan siap meledak, mereka baru tahu bagaimana cara menggungkap rindu yang sebenarnya. Sampai waktunya tiba, semoga mereka tidak akan menyesal pada akhirnya.

“Younha-ya.. aku dengar kau bekerja di Seoul Hospital?” Tanya Donghae tiba-tiba.

“A..ah, ne. aku bekerja disana, Donghae-ah. Bagaimana keadaan di Mokpo sana?” Tanya Younha.

“Hum, Mokpo ya.. baik sekali.” Jawab Donghae dengan mata menerawang.

Donghae tersenyum ke arah Younha, mata mereka bertemu. Kembali, setelah sekian lama setiap bayang itu absen dari pandangan mereka masing-masing. Younha tersenyum lembut menanggapi pernyataan Donghae.

“Besok kau bekerja?” Tanya Donghae.

“Tentu saja, apa besok kau mengambil cuti dokter?” Younha balik bertanya dengan senyum jenaka.

“Ya! Jangan bawa-bawa profesiku.” Protes Donghae lucu. Younha hanya tersenyum menggoda teman baiknya itu yang sedang merengut kesal. Mereka kembali dalam pikiran, dan saling melempar ke acuhan pada masing-masing pihak.

Wahai waktu yang terus berjalan, kau adalah sebuah misteri. Terlalu banyak kau menyimpan dokumen-dokumen bersejarah bagi setiap orang. Menggurainya kembali atau tetap menyimpannya menjadi arsip pribadi mu. Sampai ketika takdir menginterupsi mu untuk membuka pilinan yang sempat terjalin itu. Kali ini, kau mengurai kisah lampau yang hampir dikubur oleh mereka.

“Donghae-ah.” Panggil Jongwoon.

“Ne hyung. Ada apa?” Tanya Donghae.

“Aku dan Miwoo akan pulang ke rumah umma ku. Kau masih ingin disini?” Tanya Jongwoon.

“Eoh, aku juga mungkin akan pulang hyung.” Jawab Donghae sambil melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Jam 10.30 malam, batinnya.

“Kalau begitu, kami pulang dulu ya, oh kau antar Younha ke rumahnya ya.. kami tidak bisa mengantarnya pulang.” Kata Jongwoon memerintah.

Donghae terkesiap mendengarnya. Mengantar Younha pulang, Donghae mengerjap.

“Younha-ya, malam ini aku dan Jongwoon akan ke rumah umma Jongwoon dan menginap disana, kami tidak bisa mengantarmu pulang. Jadi kau pulang dengan Donghae saja ya.” Kata Miwoo panjang lebar mengoceh.

Younha kaget mendengarnya. “Bukannya Donghae akan pulang ke Mokpo?” Tanya Younha heran.

“Kau belum diberitahu olehnya ya.. mulai hari ini dia tinggal di daerah gangnam.” Ujar Jongwoon.

“Eh..” Younha terhenyak.

“Dia sekarang akan bekerja disini Younha-ya.” Tambah Jongwoon lagi.

Younha semakin membulatkan matanya tidak percaya.

“Kau keterlaluan sekali tidak memberitahunya, Donghae-ah.” Lanjut Jongwoon sambil berpamitan kepada Donghae dan Younha.

Donghae POV

Jongwoon Hyung benar-benar menyebalkan. Aku berniat memberitahunya nanti, tapi malah si kepala besar itu seenaknya saja membuat opini.

“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau sekarang kau akan bekerja disini?” Tanya Younha setelah kami berada dimobil.

“Hum, aku berencana akan memberitahumu nanti, Younha-ya.” Jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari jalan dihadapanku. Aku cukup hapal rumah Younha yang setelah sekian lama tak aku kunjungi.

“Eoh.. kalau kau tidak memberitahuku juga tidak apa-apa. Memangnya siapa aku.” Pernyataan retoris dari Younha. “Aku kan hanya teman mu saja.” Lanjutnya.

Ada rasa ngilu yang timbul akibat perkataannya itu. Aku memejamkan mata menahan ngilu dan sesak yang tiba-tiba menjalari ruang kosong hatiku. Apakah memang harus seperti ini? Tanyaku dalam hati.

Aku melirik Younha yang diam menunduk, tatapannya nelangsa seperti seseorang yang menahan rindu berkepanjangan namun tidak pernah tersampaikan. Ah, apakah dia juga merasakan apa yang aku rasakan.. bukannya tadi dia seperti mengacuhkan keberadaanku? Tapi benarkah? Atau dia malu atau kikuk atau bingung bersikap karena merindukan aku. Aku kembali berspekulasi. Coba ulangi yang terakhir tadi.. bingung bersikap karena merindukan aku? Huh, pecaya diri sekali kau Lee Donghae, rutukku.

Aku kembali menatap Younha, menyelidik diantara pencaran kedua matanya. Mencari setiap kebenaran fakta, masih adakah aku dalam sinar matanya. Mungkin aku terlalu pengecut mengungkapkan rindu ini, dan merangkai kata-kata cinta untuk seorang gadis ‘remaja’ disampingku ini. Hingga kami tersesat dalam labirin cinta yang tidak berujung, kecuali aku atau dia yang memutuskan rantai labirin ini. -Ralat- aku yang seharusnya memutus rantai labirin ini. Aku yang seharusnya membuang jaringan-jaringan egois dan pengecut ini agar kami tidak akan melukai satu sama lain.

Younha POV

Malam ini, hujan turun mengiringi laju mobil Donghae yang tengah mengantarku pulang. Bulan ini, langit jarang membiarkan tanah kering. Aku suka! Karena tembang rindu ini akan berevaporasi bersama air yang jatuh. Karena itu.. membuat rasa rindu yang menguar berkurang. Apalagi siluet yang aku rindukan ada dalam jarak pandangku dan nyata.

“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau sekarang kau akan bekerja disini?” Tanyaku setelah kami berada dimobil.

“Hum, aku berencana akan memberitahumu nanti, Younha-ya.” Jawab Donghae tanpa mengalihkan pandangan dari jalan dihadapannya.

“Eoh.. kalau kau tidak memberitahuku juga tidak apa-apa. Memangnya siapa aku.” Pernyataan retoris dariku. “Akukan hanya teman mu saja.” Lanjutku lagi dengan suara yang semakin mengecil.

Ya, aku hanya sebatas temannya sajakan. Ada serpihan hati yang seakan-akan menusuk jantung ini. Rasa ngilu yang amat sangat dan perasan sesak yang menembus dada kiriku. Apakah ini serangan angina pectoris.. bukan yang pasti, ini hanya serangan dari ucapanku tadi yang mengakibatkan fungsi tubuhku kacau.

Aku menunggu Donghae mengeluarkan kalimatnya, tapi.. dia hanya diam menatap jalan lurus didepannya. Ah, sudahlah memang semua ini akhir dari segalanya. Kami akan tetap berlindung dari kata agung ‘sahabat’. Aku juga tidak berani mengatakan apapun kepadanya, karena aku menghormati kata agung itu.

Mobil Donghae akhirnya menepi di depan rumahku. Aku menatapnya sekilas, lalu keluar dari mobilnya dengan diam. Entahlah, aku bingung harus berkata apa padanya. Tapi terimakasih sepertinya cukup.

“Donghae-ah, gomawo.. kau sudah mengantarku pulang.” Kataku lalu mulai membuka pintu pagar rumahku.

“Younha-ya..” panggil Donghae. Aku menghentikan langkahku dan berbalik kearahnya.

“Selamat malam Younha-ya.” Kata Donghae tersenyum simpul.

“Ah, selamat malam juga.” Kataku kikuk. Aku masih menungggunya untuk berkata lebih, tapi dia tak kunjung mengatakan apapun. Aku menghela napas pendek, sungguh aku berharap dia mengatakan sesuatu yang lebih. Setidaknya ‘semoga harimu menyenangkan esok’ itu cukup bagiku. Aku masih menatapnya tanpa bergeming, sampai dia berkata.

“Masuklah, sudah malam. Aku akan pulang setelah melihatmu masuk ke dalam rumah.” Perintah Donghae kepadaku.

“Ye, aku akan segera masuk.” Jawabku patuh.

Sejujurnya aku masih ingin menatapnya, memuaskan indera penglihatanku atas bayang yang sudah lama absen dari pandanganku. Hatiku masih berat untuk meninggalkannya masuk ke dalam rumah. Aku takut bila bayang itu tak pernah aku temui lagi, apalagi ketika tadi kami bertemu, tidak banyak hal yang kami bicarakan. Sungguh, aku cangung sekali tapi aku tidak memungkiri bahwa hormone feromon ini menguasai diriku, membawa perasaan senang dan denyut jantung aritmia. Ah, apakah semua ini harus berakhir seperti ini.

Aku memegang kenop pintu dan siap untuk memutarnya tapi insting memaksaku untuk berbalik menatapnya yang masih setia menungguku masuk ke dalam rumah. Samar, aku melihatnya tersenyum ke arahku. Aku memuaskan hasrat penglihatanku yang sebetulnya tidak puas, untuk menatapnya yang terakhir kali sebelum aku masuk ke rumah. Akhirnya aku memutar kenop pintu, membukanya dan menghilangkan diriku di dalamnya.

Donghae POV

Aku menepikan mobil di depan rumah Younha. Aku meliriknya yang sudah keluar dari mobilku. Aku mengikutinya keluar.

“Donghae-ah, gomawo.. kau sudah mengantarku pulang.” Katanya lalu mulai membuka pintu pagar rumahnya.

“Younha-ya..” panggilku. Younha menghentikan langkahnya dan berbalik kearahku.

“Selamat malam Younha-ya.” Kataku tersenyum simpul. Sejujurnya aku ingin mengatakan kata-kata yang lain, tapi anehnya lidahku menjadi kelu, otak ku sukar memproses sepotong kalimat dan mengirimkannya pada lidah untuk aku ucapkan.

“Ah, selamat malam juga.” Kata Younha dengan kikuk.

Younha menatapku dengan tatapan yang sulit aku mengerti. Tuhan.. sungguh aku bingung harus bagaimana. Seorang Lee Donghae, dokter yang selalu berwibawa tidak berdaya menghadapi seorang gadis mungil di hadapannya ini. Sungguh ini sangat memalukan.

“Masuklah, sudah malam. Aku akan pulang setelah melihatmu masuk ke dalam rumah.” Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutku, setelah sekian lama aku mengobrak-abrik kosakata yang ada di otakku.

“Ye, aku akan segera masuk.” Jawab Younha patuh.

Younha berbalik dan mulai berjalan menuju rumahnya. Aku menatap tampak belakang dirinya yang sangat aku rindukan. Aku tidak ingin melewatkan satu detikpun mengawal dirinya masuk ke rumah, menatap seorang gadis yang membawa kepingan masa laluku. Berharap dirinya memang membawa kepingan yang cocok dengan kepingan yang aku pegang ini.

Aku tersenyum kecil ketika Younha berbalik melihatku lagi. Lalu dia kembali berjalan meraih kenop pintu, membukanya dan menghilang dibaliknya. Aku tersenyum kecil dapat mengawalnya menghilang dibalik pintu rumahnya, walau dengan pandangan mata ini. Tapi.. aku sangat senang. Aku pikir, sudah cukup aku berdiri didepan rumah gadis itu. Semoga ketika matahari esok datang, aku masih bisa melihat siluet dirimu kembali, Younha-ya.

*****

Seoul Hospital

Neurological Room 11.00 KST

Seorang laki-laki paruh baya dengan mengenakan jas putih berjalan menuju nurse station dengan memperlihatkan kewibawaan dan kebijaksanaannya. Disampingnya seorang pemuda yang berpenampilan sama –mengunakan jas putih, mengikutinya dengan senyum merekah.

“Selamat pagi.” Sapa laki-laki paruh baya tersebut setelah sampai pada nurse station.

“Oh, selamat pagi dokter Park, silahkan duduk dulu dok.” Seru laki-laki yang memakai seragam –perawat, berwarna biru.

Laki-laki paruh baya yang dipanggil dokter Park pun duduk diikuti oleh seorang pemuda yang sedari tadi menyertai dokter Park.

“Dokter Park, apakah dia dokter baru disini?” Tanya laki-laki dengan seragam perawat tersebut sambil melirik ke arah pemuda disamping dokter Park.

“Ye, dia dokter baru disini dan sedang mengambil spesialis neurologi.” Jelas dokter Park.

“Ne, Lee Donghae imnida. Mulai sekarang saya akan bertugas disini. Mohon bantuannya.” Kata Donghae menganggukkan kepala kepada laki-laki yang menggunakan seragam perawat itu.

“Oh, Lee Sungmin imnida. Sama-sama, kami juga mohon bantuannya. Saya harap kita dapat bekerja sama dengan baik.” Pemuda dengan seragam perawat itu –Lee Sungmin, balik memperkenalkan diri.

*****

Mereka saling melempar senyum sampai akhirnya para perawat lain memasuki nurse station. Seorang wanita tampak terkejut melihat seorang pemuda yang duduk disamping dokter Park sambil menyunggingkan senyum manis ketika mereka masuk, setelah berkeliling mengobservasi setiap keadaan pasien.

Wanita itu seakan tertarik kembali dalam masa lalu yang coba dia lupakan. Wanita itu tampak shock melihat siluet bayang itu kembali tertangkap dalam retina matanya, rangsang itu disampaikan ke otak, diproses disana dan menghasilkan sebuah persepsi penglihatan yang mengantarkannya pada memori jangka panjang yang tersimpan rapi pada kotak ingatan.

Sementara yang ditatap hanya tersenyum manis, seakan semuanya baik-baik saja. Namun suara dari suster ahjumma itu menyerap kembali ruhnya pada keadaan sekarang ini.

“Dokter Park sudah datang?!” kata seorang perawat senior yang bernama Park Eunjae.

“Ah, Eunjae-ah. Aku sudah menunggu dari tadi. Ayo kita mulai visit.” Ajak dokter Park.

“Ye, dokter Park.” Kata Suster Eunjae dengan mata yang seolah-olah berkata pada juniornya –persiapkan-data-rekam-medic-setiap-pasien-.

“Oh sebelumnya aku ingin memperkenalkan seseorang. Ini adalah Lee Donghae, dia akan bertugas disini, membantuku mulai sekarang.” Kata dokter Park tersenyum kepada Donghae.

“Ne, Lee Donghae imnida. Mulai sekarang saya akan bertugas disini, mohon bantuan rekan-rekan semua.” Kata Donghae sopan sambil membungkukkan badan.

Mata dokter muda yang memperkenalkan diri dengan nama Lee Donghae itu melirik kearah perempuan yang mematung disudut seberang sana, dan dokter muda itu tersenyum tipis kearahnya.

“Oke, ku rasa cukup. Mari kita mulai pekerjaan kita yang sempat tertunda.” Ajak Dokter Park.

*****

Iring-iringan dokter dan para perawat mulai berjalan ke ruang rawat inap pasien. Dokter Park dengan ramah menyapa pasien yang dirawat disana dan memeriksanya sambil memperkenalkan Donghae sebagai dokter baru disana. Donghae selalu tersenyum ramah dan mulai untuk menjalin trust dengan pasien-pasien disana. Para perawat mencatat berbagai advise dari dokter dan berdiskusi tentang kebutuhan setiap pasien.

“Dokter Park, luka dekubitus Tuan Cho Muno tampaknya belum ada perubahan setelah kita lakukan perawatan selama hampir satu minggu dengan kompres dengan antiobiotik. Bagaimana jika membersihkannya tetap menggunakan antibiotic dan mengompresnya dengan menggunakan madu asli? Saya membaca sebuah artikel penelitian yang dilakukan oleh Universitas Kyunghee, penelitian tersebut menjelaskan bahwa didalam madu asli ada semacam zat yang mempercepat proses pengeringan luka.” Papar seorang wanita.

“Eoh, seperti itukah Younha-ya? Aku baru mendengarnya, apakah itu seperti pengobatan herbal?” Tanya dokter Park kapada seorang wanita yang dipanggilnya Younha.

“Ne dokter Park. Jadi bagaimana, bisakah kita coba itu? Penelitian itu mengatakan bahwa madu itu tidak ada efek samping yang akan ditimbulkan karena berasal dari alam. Saya pikir itu tidak ada salahnya kita coba dok.” Jelas seorang wanita yang dipanggil Younha itu.

Dokter Park terdiam sebentar dan mulai berkata.

“Oke, baiklah. Kita coba. Younha-ya aku serahkan pada mu perawatan Tuan Cho ini, dan jangan lupa untuk mengubah posisinya setiap dua jam sekali.” Titah dokter Park tersenyum kepada Younha.

“Ne, saya mengerti dok.” Jawab Younha.

*****

“Bagaimana pendapatmu tentang pekerjaan disini Donghae-ah?” Tanya dokter Park di nurse station setelah mereka semua selesai melakukan visit ke ruangan pasien.

“Hmm, cukup menguras tenaga dok. Tapi sangat menyenangkan.” Kata Donghae tersenyum simpul.

“Ah, dokter Park.. aku belum mengenal perawat-perawat disini.” Tambah Donghae.

“Oh benar. Sungmin-ah..” panggil dokter Park kepada Sungmin yang tengah menulis asuhan keperawatan ruang laki-laki.

“Ye dokter?” sambut Sungmin.

“Kemana yang lain? Mereka belum berkenalan langsung dengan Donghae.” Tanya dokter Park melihat sekeliling ruang besar nurse station yang terisi 8 orang termasuk dirinya dan Donghae.

“Ah, ye.. hanya kurang dua orang lagi dokter Park. Younha dan Jinki.” Kata Sungmin sambil melihat rekan-rekannya tengah menulis asuhan keperawatan pasien pegangannya masing-masing.

Suster Eunjae yang mendengar hal tersebut langsung dengan lantangnya bersuara. “Dokter Lee, biar aku saja yang memperkenalkan teman-teman cilikku ini.” Kata Eunjae semangat.

“Ya! Ahjumma kau pikir kami apa, kami sudah besar. Seenaknya saja memanggil kami cilik.” Kata Sungmin protes.

“Ya! Bicaralah yang sopan kepada orang dewasa, anak kecil.” Protes Eunjae.

“Ahjumma itu bukan masuk kategori dewasa lagi, tapi lansia!” kata Sungmin dengan menekan kata ‘lansia’ pada akhirnya.

“Ya! Kau!” teriak Eunjae.

Dokter Park hanya melihat kelakuan teman satu Tim-nya dengan senyum tanpa berniat melerai perdebatan beda usia itu.

“Sudah lah Sungmin-ah, suster Eunjae silahkan perkenalkan teman-teman satu tim kita.” Kata Donghae akhirnya melerai perdebatan mereka.

Suster Eunjae mulai memperkenalkan teman-teman satu tim-nya dengan semangat, yang dijelaskan tersenyum hangat pada Donghae dan menyapa dokter baru itu dengan ramah.

“Nah, kalau yang ini Younha.” Kata suster Eunjae ketika Younha masuk ke nurse station.

“Dia cantik bukan?” kata suster Eunjae. Younha hanya tersenyum simpul menanggapi selorohan dari seniornya itu. Donghae yang melihatnya juga tersenyum senang melihatnya.

Younha POV

Apa yang terjadi sekarang? Dia ada disini.. menjadi bagian dari tim kami?! Aihh, kenapa dia tidak bercerita padaku ketika kita bertemu di reuni. Dasar! Kau menyebalkan Lee Donghae, cukup ketika itu kita bertemu. Tapi sekarang kau malah muncul disini, dan parahnya lagi kau menjadi bagian dari tim kami, batinku.

Aku belum menyapanya sama sekali ketika dia mulai bekerja hari ini. Entahlah aku merasa canggung dan sedikit tidak nyaman. Tapi aku tidak memungkiri kerinduan ini menguar begitu saja ketika bayangnya berada dalam jangkauan pandanganku. Dan sialnya aku tidak kuasa mengungkapkan rindu yang membumbung ini.

“Younha-ya, kau akan pulang sekarang?” Tanya Sungmin setelah kami menyelesaikan operan.

“Ah, ye.. aku akan pulang tapi aku harus menjelaskan prosedur pembayaran pada pasienku yang akan pulang sekarang. Minna masih baru disini jadi dia kurang mengerti.” Aku menjawab dan menyebutkan nama perawat yang baru saja bekerja disini.

“Eoh, begitu.. baiklah aku pulang dulu ya, jangan pulang terlalu sore ne?” kata Sungmin lembut menatapku dan membelai rambutku perlahan.

Aku menatapnya dengan tatapan yang tak percaya, tapi tak lebih dari sedetik aku mengalihkan pandanganku. Aku menunduk malu menerima perlakuannya kepadaku. Untung ruangan ini sedang sepi, batinku.

Sungmin oppa memegang kedua bahuku, mencoba untuk mengarahkan pandanganku kepadanya. Aku mengangkat kepalaku dengan malu dan akhirnya aku mengeluarkan kata-kata.

“Ne, hati-hati dijalan oppa.” Kataku tersenyum.

Sungmin oppa tersenyum lembut kepadaku dan dan berjalan meninggalkan ruangan ini, tapi dia berhenti sejenak.

“Dokter Lee, aku pulang duluan ya.” Kata Sungmin kepada Donghae.

Aku terkesiap mendengarnya memanggil Donghae, aku baru menyadari bahwa ada Donghae diruangan ini. Semoga saja Donghae tidak melihat, batinku. Tapi bukankah Donghae hanya ‘temanku’ saja, buat apa aku mengkhawatirkannya, aku kembali berkata dalam hati.

Aku melihat Donghae mengangguk tersenyum kepada Sungmin oppa dan kembali lagi terpekur dalam catatan rekam medic pasien-pasien yang sejak tadi dipelajarinya. Diam-diam aku mengamati wajahnya yang serius meneliti tiap huruf yang berada disana. Sungguh aku merindukan wajahnya yang terlihat serius seperti itu. Aku tersenyum tipis melihatnya.

“Dokter Lee, apakah kau tidak ingin pulang?” tanyaku sopan setelah selesai menjelaskan prosedur pembayaran pada pasien yang akan pulang hari ini. Inilah pertama kalinya aku memulai pembicaraan sesama tim kepadanya.

“Ye, aku akan pulang sekarang Younha-ya.” Jawabnya tersenyum sambil menaruh catatan rekam medic pada tempatnya semula.

Aku tersenyum menanggapinya. Aku pun juga membereskan barang-barangku dan perbendaharaan yang berceceran di meja ruangan, mengingat sekarang para perawat yang bertugas sore sedang mengobservasi keadaan pasien.

“Kau juga ingin pulang, Younha-ya?.” Tanyanya kepadaku.

“Ye aku akan pulang sekarang dokter Lee.” Jawabku sambil menyampirkan tas.

“Kalau begitu kita pulang bersama saja.” Katanya dengan senyum menggoda. “Aku akan mengantarmu pulang.” Lanjutnya lagi.

Aku terkesima mendengar pernyataanya itu. Sampai dia memanggilku.

“Younha-ya, ayo!” katanya menyadarkanku. Aku sadar, dan dengan bodohnya aku mengikuti langkahnya berjalan keluar dari ruangan.

Donghae POV

“Younha-ya, kau akan pulang sekarang?.” Aku mendengar seseorang bertanya pada Younha. Ah, ternyata Lee Sungmin.

“Ah, ye.. aku akan pulang tapi aku harus menjelaskan prosedur pembayaran pada pasienku yang akan pulang sekarang. Minna masih baru disini jadi dia kurang mengerti.” Jelas Younha.

Aku menatap catatan rekam medic didepanku ini, sambil mencoba menyimak pembicaraan mereka. Entah kenapa aku merasa tidak rela ketika Younha berbicara dengan laki-laki lain, walaupun ittu pembicaraan yang biasa tapi menurutku itu bukan hal yang biasa.

“Eoh, begitu.. baiklah aku pulang dulu ya, jangan pulang terlalu sore ne?” kata Sungmin perhatian.

Mendengar seorang laki-laki mengucapkan perhatiannya kepada Younha, aku merasa agak panas. Aku mencoba menoleh apa yang terjadi diantara dua insan itu. Mataku membulat melihat kelakuan mereka berdua. Tangan Lee Sungmin dengan lancangnya membelai rambut Younha perlahan. Napasku tercekat, dan dadaku sesak menahan marah melihat perlakuan Lee Sungmin pada Younha.

Dan aku kembali dikejutkan dengan sikap malu-malu yang ditunjukkan Younha. Younha menundukkan kepalanya malu dan terlihat semburat merah mengiasi kedua pipinya. Sungguh aku benci melihat ini semua. Cukup sudah dua orang ini menyiksaku dengan perlakuan mereka berdua.

Younha-ya apa kau benar-benar telah melupakanku, batinku miris. Ah, tidak.. Younha tidak melupakanku, dia tidak pernah melupakanku sebagai seorang sahabat, lanjut batinku. Selamanya aku hanya seorang sahabat bagi Younha, tidak pernah lebih.

“Ne, hati-hati dijalan oppa.” Kata Younha. Hatiku kembali berdenyut nyeri ketika dengan manjanya dia memanggi Lee Sungmin dengan sebutan oppa.

Younha-ya, ternyata kau telah membagi sikap manjamu dengan namja lain selain aku sekarang, lirihku.

“Dokter Lee, aku pulang duluan ya.” Lee Sungmin berpamitan kepadaku.

Aku mengangguk dan tersenyum ramah kepadanya. Aku sunggingkan senyum palsuku ini kepadanya. Sungguh aku iri padanya yang dapat dengan berinteraksi bebas dengan Younha, bahkan mungkin menjalin hubungan special dengan Younha.

Ah.. kau terlalu pengecut Lee Donghae. Kau tidak ingin melihatnya dengan laki-laki lain tapi kau juga tidak menjadikan dia milikmu, rutukku dalam hati.

“Dokter Lee, apakah kau tidak ingin pulang?” Tanya Younha tiba-tiba.

Padahal aku berniat akan menyapanya nanti setelah aku membereskan catatan rekam medic ini, tapi Younha mendahuluinya. Ya, hal ini juga menunjukkan tanda-tanda kepengecutanku.

“Ye, aku akan pulang sekarang Younha-ya.” Jawabku tersenyum sambil menaruh catatan rekam medic pada tempatnya semula.

Aku melihatnya tersenyum dan segera dia membereskan barang-barangnya.

“Kau juga ingin pulang, Younha-ya?.” Tanyaku kepada Younha.

“Ye aku akan pulang sekarang dokter Lee.” Jawab Younha sambil menyampirkan tas.

“Kalau begitu kita pulang bersama saja.” Kataku  dengan senyum. “Aku akan mengantarmu pulang.” Lanjutku lagi.

Younha hanya terkesiap kaget mendengar pernyataanku. Dia hanya menunjukkan kebingungan diwajahnya, sampai aku memanggilnya.

“Younha-ya, ayo!” kataku. Dia mengerjapkan matanya dan mulai mengikuti langkahku.

****

Mobil yang dikendarai oleh Donghae berjalan dengan kecepatan sedang. Hening. Tak ada satupun yang berani mengeluarkan suara diantara mereka. Suasana yang sangat canggung membuat Donghae dan Younha sangat tidak nyaman.

“Younha-ya, bisakah kita mampir dulu ke rumah makan yang diujung jalan sana? Aku lapar.” Kata Donghae membuka percakapan.

“Ini bukan waktunya makan, dokter Lee.” Kata Younha aneh.

“Hei! Bisakah kau tidak memanggilku dengan embel-embel itu ketika kita berada diluar, aku tidak suka itu.” Gerutu Donghae. Younha tersenyum simpul melihat Donghae merengut kesal. Sudah lama sekali Younha tidak membuat lelaki disampingnya ini kesal, dan Younha sungguh menikmati ekspresi yang Donghae buat saat ini.

“Oke oke arraseo, aku tidak akan memanggilmu seperti itu lagi di luar ruangan, dokter Lee.” Younha terkikik geli melihat perubahan ekspresi Donghae yang kembali merengut.

“Ya!! Kau mengatakannya lagi Choi Younha!” Donghae mengeram kesal. Younha terkikik melihatnya.

“Habis sudah lama sekali aku tidak membuatmu kesal, Donghae-ah. Kau tidak melihat, jika ekspresimu itu lucu sekali ketika kau sedang kesal.” Jelas Younha tak henti tersenyum.

“Kau itu selalu saja bertingkah menyebalkan.” Sengit Donghae, senyum tipis tergambar dari bibirnya. Sungguh, Donghae senang sekali Younha masih seperti ketika mereka bersama membangun mimpi. Younha yang menyebalkan tapi membuat dirinya nyaman berlama-lama menghabiskan waktu dengannya. Donghae tersenyum tipis mengingat potongan memori mereka ketika masih bersekolah dulu.

“Kau mau pesan apa, Younha-ya?” Tanya Donghae setelah mereka sampai di sebuah tempat makan.

“Humm, aku tidak lapar. Aku pesan jus tomat saja.” Jawab Younha singkat.

“Jadi, kau hanya menontonku makan saja?” taya Donghae mengerling.

“Buat apa aku menontonmu makan, memangnya kau artis?!” balas Younha sengit.

“Tapi wajahku setara dengan artiskan?” Donghae tersenyum menggoda. Donghae tau Younha paling kesal jika dirinya sudah menunjukkan sisi narsis didepan gadis itu.

“Ya! Kau itu sama sekali tidak berubah, Lee Donghae! Kita baru bertemu dan kau sudah membuatku jengkel.” Sunggut Younha kesal. Donghae menatap intens dan tersenyum melihat gadis didepannya itu. Merasa diperhatikan, Younha mendelik ke arah Donghae dan melontarkan pertanyaan

“Kau ini kan dokter, apa kau tidak pernah belajar tentang gangguan kepribadian di kedokteran jiwa?” Tanya penuh selidik.

“Ne, tentu saja aku belajar. Memangnya ada apa?” Tanya Donghae dengan tampang polosnya. Younha frustasi dan menghela napas berat mendengar pertanyaan balik dari laki-laki dihadapannya itu.

“Kau!! Apa kau tidak belajar bahwa narsisme itu adalah salah satu gangguan kepribadian, dokter?!” Younha menekan kata ‘dokter’ pada ucapannya itu.

“Benarkah?” Tanya Donghae innoncent.

“Ya! Kau kemanakan otak mu yang pintar itu dokter Lee? Atau dosenmu itu terlalu pintar sehingga tidak menyampaikannya?” kata Younha frustasi.

Donghae mengerutkan keningnya, tanda dia sedang berpikir keras. Younha kesal sekaligus frustasi melihat tampang baby face yang seperti malaikat itu. Younha tidak habis pikir, Donghae tidak mengingat salah satu materi mata kuliahnya. Seingat Younha, Donghae selalu mengingat baik setiap pelajaran yang diberikan oleh guru mereka ketika mereka masih bersekolah dulu.

Younha merengut melihat tampang baby face yang tersenyum tanpa dosa ke arahnya. Younha mendengus kesal dan menengokkan kepalanya ke arah jendela yang ada disampingnya.

NYUT..

Sebuah tangan kekar memencet hidungnya dengan kekuatan yang lumayan. Younha menjerit kesal. “Ya!! Neo!!”

Kekesalan Younha harus terpotong sebentar karena makanan dan minuman pesanan mereka datang.

“Silahkan di nikmati makanannya.” Seru pramuniaga sopan. Younha masih memegang hidungnya yang berdenyut-denyut itu dan memandang bengis ke arah laki-laki disebrangnya itu.

“Awww.” Jerit Donghae ketika tangan mungil gadis dihadapanya itu menarik sedikit kulit tangannya ke atas.

“Rasakan, itu pembalasan ku.” Younha berkata dengan ketus sambil mnyeruput jus tomat di depannya.

“Baiklah kita impas, Choi Younha.” Kata Donghae sambil mencondongkan badannya kearah Younha. Younha masih menatap Donghae dengan tajam.

“Kau itu aneh sekali, aku hanya berpura-pura tidak mengingatnya. Mana mungkin aku tidak bisa mengingat etiologi yang dapat menimbulkan penyakit skizofren. Aku hanya ingin melihat ekspresi kesalmu itu Younha.” Donghae terkekeh.

Younha membulatkan matanya kesal.

“Lagi pula kenapa kau sampai bisa sekesal ini, hanya gara-gara aku tidak mengingat materi ini?” lanjut Donghae penasaran.

“Ya! Aku hanya kesal ketika jiwa narsis mu itu keluar, dan yang membuatku tidak habis pikir kau bisa lupa dengan salah satu materi kuliahmu.” Kata Younha.

“Padahal ketika kita masih sekolah kau selalu mengingat dengan baik setiap pelajaran yang guru berikan kepada kita.” Pandangan Younha menerawang kembali pada kehidupannya dan Donghae ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atas.

“Tapi sekarang, kau hanya ingin melihat ekspresi kesalku?! Pengakuanmu  sungguh membuatku jengkel.” Semprot Younha.

“Oke, aku minta maaf karena membuatmu kesal. Tapi sepertinya kau sangat mengingat ku dengan baik ya?” Tanya Donghae dengan mata menyelidik.

“Ne..” Younha mengernyit bingung mendengar pernyataan Donghae.

“Ne, buktinya kau masih mengingat ku ketika kita kita masih sekolah.” Kata Donghae tersenyum dan menyendokkan makanan ke mulutnya.

“Tentu saja aku mengingatnya dengan baik, kita adalah sahabat karib yang selalu bersama. Wajar saja kalau aku tahu semua sifatmu, Lee Donghae.” Younha tersenyum menjelaskan.

“Ahh, ye.. kita sahabat baik bukan..” Donghae mengakhiri perkataannya dengan ucapan yang terdengar lirih.

“Ye, kita sahabat.” Younha bergumam. Hening. Tidak ada lagi yang berencana untuk melanjutkan percakapan mereka. Hanya terdengar suara denting sendok yang bersentuhan dengan piring sehingga menimbulkan bunti ting.

****

“Younha-ya..” kata Donghae mengakhiri keheningan. Younha menatap sumber suara itu.

“Aku ingin bertanya sesuatu.” Kata Donghae dengan nada yang serius.

“Ada apa?” Tanya Younha penasaran. “Ehmm, a-apa hubunganmu dengan Sungmin-ssi?” Tanya Donghae hati-hati.

“Nde..” Younha tidak percaya dengan pertanyaan laki-laki berwajah baby face ini.

“Ye, apa hubunganmu dengan Sungmin-ssi? Kau memanggilnya dengan sebutan oppa.” Donghae memperjelas pertanyaanya.

“Aku hanya teman biasa saja dengannya, lalu kenapa aku memanggilnya oppa.. itu karena dia seperi kakakku dan umur Sungmin oppa satu tahun diatasku.. memangnya ada apa?”

“Aniya.. tapi benarkah kau hanya menganggapnya sebagai kakak?” Tanya Donghae belum puas.

“Ne, hanya sebagai kakak.. Donghae-ah, kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti ini?” Younha bertanya dengan tatapan menyelidik.

“Aniya, aku hanya melihat sinar yang berbeda dari matanya ketika menatapmu.. tatapan itu seperti c-cinta.” Donghae tergagap melafalkan kata akhir dari kalimatnya.

“Hahaha, kau lucu sekali. Tidak mungkin Sungmin oppa mencintaiku.” Sanggah Younha.

“Mungkin sajakan Younha-ya.” Donghae berucap dengan sendu.

“Tapi kalaupun Sungmin oppa benar mencintaiku.. aku tidak akan bisa membalasnya, karena kau telah menyandera seluruh cintaku.” Batin Younha.

“Ja.. ayo kita pulang Younha-ya.” Ajak Donghae berdiri dan mulai melangkahkan kakinya. Younha berjalan, menyejajarkan langkahnya dengan Donghae.

****

Younha POV

Terjebak dalam keadaan hening seperti ini sungguh tidak nyaman, apalagi hanya berdua dengan Donghae di dalam mobil ini. Huft, aku menghela napas. Teringat percakapan kami tadi, Donghae menanyakan tentang hubunganku dengan Sungmin oppa. Apa maksudnya? Sejak kapan dia peduli dengan urusan pribadiku.. tapi aku senang dengan pertanyaan yang diberikannya kepada ku. Apakah Donghae mempunyai perasaan yang sama denganku.. ah, aku bingung memikirkannya. Donghae-ah.. bisakah kau perjelas perasaanmu padaku, bisakah kau meyakinkanku bahwa kau memang benar-benar mencintaiku.. bisakah..

Aku memejamkan mata, berharap kegalauan ini lenyap dengan sendirinya.

“Younha-ya..” sebuah suara memanggilku.

Aku membuka mataku. “Ada apa?” tanyaku.

“Ehmmmm, benarkah kau dan Sungmin-ssi hanya sebatas teman?” Tanya Donghae dengan ragu tapi terdengar tidak suka.

Aku menghela napas mendengar pertanyaannya, lelaki ini kenapa membahas masalah itu lagi. Aku sudah mengatakan berapa kali agar dia mengerti dan untuk apa dia menayakan ini padaku. Ayolah Lee Donghae, kau cemburu bukan.. tidak tahukah engkau, bahwa wanita itu butuh suatu peryataan dari mulut untuk meyakinkan hatinya tentang cinta itu.

“Huft, bukankah tadi aku sudah mengatakannya kepadamu. Aku dan Sungmin oppa hanya teman. Walaupun Sungmin oppa mencintaiku, aku takkan bisa membalasnya. Karena aku sudah mencintai orang lain.” Jelasku.

“Siapa?” Tanya Donghae kemudian. Aku menoleh kearahnya dengan tatapan bingung.

“Ya.. siapa yang kau cintai?” Tanya Donghae yang mengetahui kebingunganku.

“Kenapa kau ingin tahu?” tanyaku dengan kesal. Sungguh aku sangat kesal dengan tingkah lakunya kali ini. Dia membuatku bingung, dia terus bertanya hubunganku dengan Sungmin oppa dan menunjukkan ketidak sukaannya. Sungguh, dia membuatku bingung dengan semua ini.

Ayolah, kau bukan seorang pengecut kan Lee Donghae. Katakan padaku bahwa kau juga mencintaiku. Katakan.. agar aku tak punya alasan untuk mencari cinta yang lain.. Lee Donghae, aku mohon.. katakanlah bahwa kau mencintaiku.

Aku tak menyadari jika mata ini telah mengeluarkan cairan bening tanpa bisa aku cegah. Sial. Tapi ini sungguh menyesakkan dan membingungkan. Apalagi aku menyadari bahwa aku sangat mencintai dan merindukan pria bodoh disampingku ini.

“Younha-ya.. kau kenapa?” Tanya Donghae yang menangkap ku mengusap lelehan air mata dengan pungung tangan.

“Ahh, aku tidak apa-apa.. hanya sedikit lelah.” Jawabku berdusta.

“Lelah? Kau menangis, Younha-ya?” tanyanya khawatir. Aku tidak menjawab pertanyaannya, aku menatap jalan pada jendela sampingku.

“Ada hal yang membebanimu Younha-ya?” tanyanya kembali.

“Aku tidak apa-apa, Donghae-ah.” Kataku sambil terus menatap jalan disampingku.

“Bohong! Kau pasti mempunyai masalah. Ceritakan kepadaku.” Suruhnya tegas. Ya. Masalahku adalah kau.

“Aku baik-baik saja. Sudahlah aku lelah.” Kataku sambil merendahkan kursi yang sedang aku duduki, dan aku kembali menatap jendela, sesekali aku memejamkan mata. Donghae sudah tidak bertanya apa-apa lagi padaku. Baguslah.

Donghae menepikan mobilnya. Aku tersadar. Aku melepas seatbelt yang melekat ditubuhku. Membuka pintu mobilnya dan keluar tanpa berkata apapun. Terdengar suara pintu mobil dari seberang sana tertutup. Donghae mengikutiku keluar mobil.

“Younha-ya..” panggilnya. Aku diam. Donghae mendekat ke arahku, sehingga kami sekarang berhadap-hadapan.

“Ceritakan padaku, kenapa kau menangis.” Katanya menuntut. Aku diam dan menunduk. Donghae menaruh ke dua tangannya dibahuku. Menyuruh ku untuk menatapnya. Aku tak kuasa untuk mendongakkan kepala ini. Aku sibuk menahan butiran-butiran air yang siap meluncur.

Donghae akhirnya mengangkat daguku, memaksaku untuk menata manic matanya. Air mata ini dengan bebas jatuh mengalir. Aku menatapnya dengan perasaan kacau, bingung, sesak, rindu.

“Sudahlah Lee Donghae, biarkan aku masuk.” Aku menghempaskan tangannya, dan berbalik. Tangisku makin menjadi. Donghae membalikkan badanku. Dan..

GREP.

Dia merengkuhku dalam pelukannya, dia mendekapku erat. Dia menjatuhkan kepalanya dibahuku. Tuhan, mimpikah aku?!

“Younha-ya, aku sangat merindukanmu.” Katanya.

Aku menengang, dan mengerjapkan mataku. Mungkinkah pendengaranku yang salah, atau saraf pusatku yang salah menerjemahkan suara atau ini adalah suatu kenyataan? Aku memukul dadanya pelan. Kenapa.. kenapa dia baru mengatakannya sekarang bahwa dia merindukanku.

“Younha-ya.. bogoshippo.” Ulangnya dengan suara yang sungguh-sungguh.

Aku masih belum bisa berespon apapun sekarang ini, hanya tangis yang bisa aku keluarkan saat ini, saraf pusatku tiba-tiba menjadi lumpuh menyadari perlakuan dari orang yang lancang sekali memelukku.

“Jangan pernah hilang lagi dari hidupku, ayo kita mulai semuanya dari awal lagi. Saranghae, Younha-ya.” Imbuhnya lagi.

Aku semakin shock dengan pernyataannya lagi, benarkah? Aku akhirnya membalas pelukannya dan menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.

“Pabo Donghae!” rutukku memukul pelan dadanya.

“Kau membuatku menunggu untuk pernyataan ini!” lanjutku tersedu menumpahkan setumpuk cinta dan rindu yang membumbung tinggi, menumpahkan segala ketakutanku kepada sang waktu dan takdir yang nanti akan memisahkan kami lagi, menumpahkan segala gundah gulana serta kebingungan yang selama enam tahun ini mengendap dan berkarat dalam dasar hati.

Aku merasakan tangannya mengusap pucuk kepalaku dengan lembut dan kembali mengeratkan tangannya untuk merengkuhku. Tuhan, jangan bangunkan aku jika ini hanya sebuah mimpi. Biarkan aku mengecap manisnya kebersamaan kami, kali ini bukan dengan status ‘sahabat’ tapi sebagai seorang pria adan wanita.

****

Donghae POV

Aku menangkap penglihatan Younha yang sedang mengusap air matanya dengan pungung tangan. Ya Tuhan.. ada apa dengan Younha. Padahal ketika tadi kami bersama, Younha terlihat baik-baik saja, sampai aku menanyakan hubungannya dengan Lee Sungmin. Younha sepertinya tidak senang, aku bertanya mengenai hubungannya dengan Sungmin.

Tapi aku sedikit lega ketika Younha mengatakan dia dan Sungmin hanyalah teman biasa. Dan sekarang, Younha menangis. Aku bukan pria yang berpengalaman untuk menghadapi wanita yang sedang menangis. Ohh..

“Younha-ya.. kau kenapa?” Tanya ku.

“Ahh, aku tidak apa-apa.. hanya sedikit lelah.” Jawabnya berdusta. Aku tahu dia berbohong padaku. Ayolah Younha, aku tidak sanggup melihatmu menangis. Rasanya ingin sekali membawamu dalan dekapanku.

“Lelah? Kau menangis, Younha-ya?”. Younha tidak menjawab dan tetap memandang pada jendela disampingnya.

“Ada hal yang membebanimu Younha-ya?” tanyaku kembali.

“Aku tidak apa-apa, Donghae-ah.” Katanya.

“Bohong! Kau pasti mempunyai masalah. Ceritakan kepadaku.” Aku menyuruhnya. Sungguh, aku bingung dengan sikapmu.

“Aku baik-baik saja. Sudahlah aku lelah.” Kata Younha sambil merendahkan kursi yang sedang dia duduki. Aku menatapnya sendu dan tidak bertanya apa-apa lagi. Aku tahu Younha sedang tidak ingin diganggu saat ini.

Aku menepikan mobilku di depan rumah Younha. Aku kembali menatap Younha yang mulai melepas seatbeltnya dan keluar tanpa mengatakan apapun. Aku segera menyusulnya keluar.

“Younha-ya..” panggilku. Dia diam. Aku mendekatinya, sehingga kami sekarang berhadap-hadapan.

“Ceritakan padaku, kenapa kau menangis.” Kataku menuntut penjelasannya. Dia masih diam dan menundukkan kepalanya. Aku menaruh ke dua tanganku dibahunya. Tapi Younha tetap diam dan menundukkan kepalanya.

Akhirnya aku mengangkat dagunya, memaksa dirinya untuk menata manic mataku. Air mata meluncur jatuh dari kedua bola matanya. Aku menatapnya dengan sedih.

“Sudahlah Lee Donghae, biarkan aku masuk.” Dia menghempaskan tanganku, dan berbalik. Aku melihat bahunya bergetar. Rasa ngilu ini menjalar dalam setiap rongga dadaku melihat dia begitu tersiksa. Dengan nekat aku membalikkan badannya. Dan dengan lancang aku merengkuh tubuh mungilnya dalam dekapanku.

GREP.

Aku merengkuhnya dalam pelukanku, aku mendekapnya erat. Aku tidak ingin gadis ini sedih dan aku tidak ingin gadis dalam dekapanku ini mejauh dari radiusku. Aku menjatuhkan kepalaku dibahunya. Membaui wangi tubuhnya dan mencoba merasakan kehangatan dari gadis remajaku yang pernah hilang dan selama ini selalu menghantui hari-hariku.

“Younha-ya, aku sangat merindukanmu.” Kataku. Aku merasakan tubuhnya menengang. Aku kembali merekatkan tubuhnya dalam pelukanku.

“Younha-ya.. bogoshippo.” Ulangku dengan suara yang sungguh-sungguh. Aku menunggu responnya, mungkin dia masih shock dengan perlakuanku sekarang ini.

“Jangan pernah hilang lagi dari hidupku, ayo kita mulai semuanya dari awal lagi. Saranghae, Younha-ya.” Kataku lagi dengan lembut.

Akhirnya beban yang selama ini aku bawa lenyap sudah ketika aku mengatakan Saranghae.

“Pabo Donghae!” rutuk Younha memukul pelan dadaku.

“Kau membuatku menunggu kau menyakatannya selama ini!” Dia terisak mengatakannya. Ya, aku akui aku adalah seorang pengecut yang membuat gadis yang aku cintai menunggu ku sekian lama. Aku masih menunggu responnya.. lalu sepasang tangan kecil membalas memelukku, dan suara isak tangis semakin menjadi-jadi sebagai latar pelukan kami.

Younha menangis tersedu-sedu dan memelukku tak kalah erat, seolah dia juga tidak ingin kehilanganku juga. Akhirnya aku tahu bahwa akulah penyebab dia menangis dan sekarang tanpa harus dia ucapkan, aku tahu jawabannya.

“Bogoshippo, Donghae-ah. Saranghae.” Ucap Younha dengan tersedu.

Rasanya aku sedang melihat ribuan meteor yang sedang berjatuhan menghiasi langit. Indah sekali. Aku tidak bisa mengungkapkan perasaan yang aku alami sekarang ini. Aku biarkan feromon ini menguasai tubuhku saat ini, membiarkan aku terbawa dalam nyamannya tubuh gadis ini.

Waktu, takdir, dan ego pernah mempermainkan kami. Tapi semua itu pula yang menunjukkan jalan untuk kami. Younha-ya, kau tahu.. kau adalah heroin edisi halal untukku.. baik lalu, sekarang ataupun masa depan.

*****

Finish. Alhamdulillah akhirnya ini FF selesai, setelah sekian lama saya nulis ini FF. Sumpah, ternyata nulis FF itu ga gampang. Lebih gampang menulis puluhan puisi dari pada nulis satu FF *curcol gue*. Harus cari kata-kata yang pas lah, nentuin karakter, alur, trus finishingnya. Pusing saya.. tapi menyenangkan juga..

Oke deh, Terimakasih yang udah baca FF ini ^^, Bagaimana akhirnya? Jujur finishing di FF ini ga banget kayanya dah.. Pada ngertikah dengan bahasaku yang aneh ini.. dan tidak konsisten *hehehe* kalau mau komen, aku berharap itu adalah kritik yang membangun otte ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s