(Cerpen) Kotak Pandora Asmarandhana

pandora-box-1

 

Author            : Azurama

Cast                : Find them by yourself

Lengt              : Oneshoot

Disclaimer      : Asli pemikiran author terinspirasi dari banyak FF dan novel Tere Liye (Berjuta Rasanya). Ini bukan FF kawan, ini cerpen biasa yang mengakomodir kalimat-kalimat yang berkeliaran di otak author. Oke happy reading ^^

****

Senja hampir tiba diantara bibir pantai. Sinar putih itu terurai menjadi warna oranye diujung lautan sana. Ombak yang selalu saja datang dengan gelombang angin menapar setiap batuan karang.

Dipinggir pantai, seorang gadis duduk menikmati senja. Senja yang selalu saja terlihat menawan di mata gadis itu. Senja merupakan waktu terindah sebelum malam datang bagi gadis itu. Tapi gadis itu belum menyadari bahwa malam tak kalah indahnya dengan senja yang hanya sesaat.

Senja itu singkat. Ia hanya datang sepersekian jam sebelum malam yang panjang datang. Gadis itu tahu, sangat tahu. Tapi senja mengingatkan episode penting dalam kehidupan gadis itu. Sebuah portal waktu yang selalu bersemayam dalam memori jangka panjangnya.

Senja sudah habis. Semburat oranye diujung lautan sana meninggalkan garis tipis yang tertelan oleh hitam. Malam. Ya… malam menyelubungi sekarang. Waktu yang selalu dibencinya. Karena hitam selalu saja pekat, jika tidak ada yang menyinari.

Gadis itu menyeret tubuhnya meninggalkan bibir pantai, mempercepat langkahnya agar tidak kembali terjebak dalam malam. Gadis yang diketahui bernama Asmarandhana itu bergegas menjauhi pasir-pasir pantai itu ke jalan raya yang tidak terlalu padat.

Pikiran gadis itu bebas berkelindan. Memutar kembali kotak Pandora yang mulai dimilikinya setelah kepergian Senja, kotak yang selalu ia jaga keberadaannya. Ah, tapi terlalu sayang jika kotak Pandora yang begitu indah miliknya diputar diantara jalan dan gang-gang yang sempit. Akhirnya gadis itu memutuskan membuka kotak Pandora yang sudah menjadi miliknya selama tiga tahun itu di kamarnya di rumah.

Rumah yang dituju akhirnya nampak jua. Gadis itu sedikit berlari menghampiri rumah yang telah kusam cat-nya. Rumah itu miliknya. Senyumnya merekah ketika membuka pintu rumah bercat kusam itu dan ia mendapati sosok wanita paruh baya tengah merapikan meja makan tua untuk santap malam mereka.

“Ibu.”

Wanita yang dipanggil Ibu oleh gadis itu tersenyum, dan mempersilakan gadis itu untuk santap malam. Hanya berdua.

“Ibu, kapan terakhir kali Ibu melihat senja?” Gadis itu tiba-tiba bertanya. Si Ibu yang dipanggil reflex menghentikan suapan makanan ke dalam mulutnya.

“Mengapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu Asmara ku?”

Gadis itu tampak berpikir untuk menjawab pertanyaan si ibu. “Karena aku lihat, Ibu tidak pernah tertawa lepas semenjak kita terakhir melihat senja lima tahun yang lalu.”

Si Ibu diam dan tidak memberikan alasan lagi dari pernyataan si anak. Akhirnya santap malam Ibu dan anak itu berlangsung hening, tanpa ada yang berani memulai untuk bicara.

****

Malam semakin kelam. Lampu di salah satu ruangan rumah bercat kusam itu masih menyala, menandakan seseorang didalamnya belum mau untuk hanyut dalam buai mimpi. Gadis bernama Asmara itu telah siap tidur mengenakan piyama bercorak teddy bear. Namun gadis itu masih enggan menutup mata beristirahat.

Gadis itu berbaring diatas tempat tidurnya, dan ia akan membuka kotak Pandora miliknya. Ia akan menjadi penjelajah waktu, pengelana dimensi dan melihat kembali Senja terbaiknya. Gadis itu memejamkan mata, berusaha berkonsentrasi untuk membuka kunci kotak Pandora miliknya.

Sinar yang menyilaukan menjadi bagian awal episode pembukaan kotak Pandora tersebut. Lambat laun sinar itu menyusut dan menghilang. Gadis itu sudah berhasil membuka kotak Pandora itu dan menjadi penjelajah waktu.

Ruangan kamar itu masih sama ketika Asmara membuka mata. Tapi kali ini, sinar mentari menembus tirai jendela kamarnya. Pagi ini, gumam gadis itu. Ia segera berlari keluar kamar. Ia mendapati sang Ibu yang tengah menata meja makan untuk sarapan pagi. Persis ketika episode senja pergi.

“Kau ingin sarapan sekarang?” Sang Ibu bertanya dengan senyum kecil. Ya… tidak salah lagi ini adalah episode kepergian senja.

Gadis itu mengangguk. Lantas ia mendekati meja makan, dan makan dengan tenang.

“Hari ini hari pertama semester baru, kau harus lebih rajin lagi Asmara ku.”

Benar, ini adalah episode dimana Senja pergi. Kali ini Asmara benar-benar salah memasuki pintu. Ia tidak bisa keluar dan masuk lagi seenaknya ke dalam pintu episode yang lain. Mau tidak mau ia harus menyelesaikan episode ini. Itu adalah peraturan yang harus diikuti setiap pemilik kotak Pandora.

Asmara berkutat di depan cermin miliknya. Ia masih ingat ketika nanti di kelas ia baru mengenal Senja. Meneriaki kesalahan, atau apaun yang perlu mereka teriaki. Akhirnya Asmara berjalan menuju sekolahnya, menyapa ‘Hai’ teman-teman yang sekiranya ia kenal dengan baik.

Benar saja, tempat duduk baru di depan Senja. Memulai percakapan ringan dengan senyum Asmara yang merekah. Asmara tahu, setelah keharmonian ini ada luka yang tanpa sengaja Senja torehkan. Senja yang selalu nyaman berada di dekatnya, Asmara yang selalu bersemu ketika teman-teman mengejek mereka berdua.

Cupid juga menorehkan tinta kerjanya dalam hal ini. Senja yang menenangkan tapi manja. Asmara yang selalu manis tapi kuat dan selalu memanjakan Senja. Mereka adalah sebuah kesatuan yang lumayan bersemi diantara musim semi yang romantis.

****

Kali ini, Senja dan Asmara tengah menikmati suasana sore di taman belakang sekolah. Kesunyian seperti ini adalah kenikmatan tersendiri bagi mereka berdua. Mereka dapat menikmati waktu kebersamaan, tak lupa mereka dapat merasakan denyut jantung masing-masing yang berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Senja… kau tahu kenapa langit berwarna biru?” Asmara melontarkan pertanyaan kepada Senja. Senja terdiam sejenak.

“Karena langit terdiri dari awan yang berasal dari air, mungkin itu yang membuat langit biru.” Asmara menatap Senja lekat.

“Senja… kenapa senja berwarna oranye?” Asmara kembali lagi melontarkan pertanyaan. Senja menatap sejenak.

“Kau ini, kau tahu deviasi cahaya?” Senja balik bertanya. Asmara mengangguk.

“Mungkin itu yang membuat senja berwarna oranye.”

“Senja… kenapa kau diberi nama Senja?” Asmara kembali bertanya dan menatap Senja lekat.

“Kau… kenapa kau diberi nama Asmara?” Bukannya menjawab, Senja malah balik bertanya. Asmara tidak menjawab pertanyaan Senja, ia tersenyum ke arah Senja yang tengah menatapnya.

“Tanyakan saja pada Ibu ku.” Asmara menjawab dengan senyum merekah.

“Kau juga, tanyakan saja pada Ibu ku.” Senja mejawab persis dengan jawaban Asmara. Mereka tersenyum bahagia bersama sesorean ini. Asmara tahu, esok adalah hari kepergian Senja. Dimana mereka tidak pernah bertemu kembali. Dimana Senja tidak pernah datang lagi menemui Asmara. Dimana Asmara tidak pernah menemukan Senja kembali.

****

Hari ini akhirnya. Sebuah mimpi buruk yang tidak pernah mau Asmara rasakan. Hari ini Asmara tetap berangkat ke sekolah, mencoba menyelesaikan beberapa episode kepergian ini. Asmara mulai merasakan dadanya sesak, sebentar lagi… Senja akan pergi. Asmara melihat sosok Senja dipinggir jalan sana menatapnya. Senyum yang merekah terpantri dibibir Senja melihat Asmara diseberang sana.

Asmara, gadis itu merasakan dentuman yang sangat keras di jantungnya melihat dengan antusias Senja mencoba menyebrang jalan memangkas jarak dengannya. Gadis itu menahan napasnya, ia tercekat. Sebuah mobil menghempaskan tubuh Senja belasan meter. Buliran air mata berebut keluar, napas yang sesak, serta denyut jantung yang tidak beraturan mengcover ekspresi gadis itu.

Gadis itu sudah tahu. Senja sudah pergi sekarang. Gadis itu jatuh terduduk menatap nanar tubuh yang tergeletak bersimbah darah. Walaupun sudah beberapa kali gadis itu mengulang episode kepergian Senja, tapi tetap saja pertahanan ia selalu jebol ketika Senja benar-benar pergi. Episode adalah takdir yang tidak bisa dirubah, pemilik kotak Pandora hanya bisa bermain sesuai dengan ketentuan episode. Tidak ada campur tangan atau simpangan naskah. Mereka hanya bisa bermain, dan menikmati kebersamaan bersama ‘dia yang dirindukan’. Tidak ada perubahan sama sekali.

****

Hari baru setelah kepergian Senja.

Gadis itu memiliki kebiasaan baru sekarang, menunggu senja datang sampai terbenam di pinggir pantai. Hari ini adalah hari terakhir episode kepergian Senja. Gadis itu sedang menanti datangnya senja yang sebentar. Ia menyukainya. Datangnya. Keindahannya. Oranyenya. Singkatnya. Ia sangat menyukai senja. Ah, beberapa menit lagi senja datang.

“Kau masih setia menanti senja?”

Gadis itu menoleh ke arah sumber suara itu. “I-Ibu…” Gadis itu tersentak.

“Kau kaget kenapa Ibu bisa ada dalam episode terakhir kepergian Senja?” Wanita paruh baya itu tersenyum lembut. Gadis itu masih menatap tak percaya pada Sang Ibu.

“Aku memiliki kotak Pandora seperti milik mu.” Gadis itu kaget.

“Aku memiliki kotak itu setelah kepergian Ayah mu.” Gadis itu akhirnya menyimak penuturan Sang Ibu.

“Kau kaget mengapa aku bisa muncul dalam episode terakhir ini?” Tanya Ibu gadis itu. Gadis itu mengangguk.

“Aku lebih dahulu memiliki kotak itu. Kau tahu… aku memiliki daftar nama beserta kunci para pemilik kotak Pandora.” Wanita paruh baya itu menjeda perkataannya.

“Aku tahu kau memiliki kotak Pandora setelah kepergian Senja. Aku juga tahu kau senantiasa berkeliling dimensi waktu. Aku hanya tidak ingin kau seperti aku, maka kali ini aku masuk dengan paksa dalam episode mu. Walau aku tahu resikonya.”

Gadis itu menatap Sang Ibu dengan cemas. “Resiko? Apa itu bu?”

“Kotak pandora milikku akan hancur, dan aku tidak akan pernah mengingat bahwa aku pernah menjadi penjelajah waktu. Itu artinya aku tidak bisa benar-benar menikmati kebersamaan ku dengan Pras lagi.” Wanita paruh baya itu menghela napas.

“Tapi tidak apa… aku masih sangat mengingat Pras dengan jelas, bagaimana cara ia berjalan, minum sampai cara tidurnya.” Wanita paruh baya itu terkekeh pelan.

“Aku tidak ingin kau seperti aku yang selalu ingin bersama Pras. Semua yang bernyawa pasti akan mati. Pras, Senja, Kau, dan Aku juga. Kau masih sangat muda, Asmara ku. Kau tidak boleh terus terpaku pada Senja. Kau harus belajar menyukai pagi, siang dan malam yang pekat.”

Wanita paruh baya itu menatap sejenak gadisnya yang mulai beranjak dewasa. “Jika kau mau melihat malam lebih jauh, malam sama indahnya dengan senja Asmara ku.”

“Senja itu hanya sebentar anakku. Kenapa kau terus terpantri pada senja yang sebentar. Kenapa kau tidak mencoba melihat hari yang panjang, yang di dalamnya pasti ada pagi, siang, malam, berikut senja yang pasti datang. Bukankah itu lebih indah?”

Gadis itu mencerna perkataan wanita paruh baya disampingnya. “Aku hanya ingin melihat kau berjalan lagi. Kau tidak harus melupakan Senja. Tidak boleh malah. Cukup kenang saja ia dalam setiap memori mu. Karena masih banyak benda dan kawanan lain yang harus kau temui di luar sana, Asmara ku.”

“Ah lihat… senja datang. Setelah senja ini, aku akan kembali mencoba tertawa lepas, Asmara ku.”

Anak dan Ibu itu terdiam menikmati senja pada episode ini. Sesuatu yang seharusnya tidak boleh ada. Sesuatu yang telah terlanggar dan pasti akan melahirkan sebuah konsekuensi. Senja masih bersisa sedikit. Semburat oranye hanya tinggal segaris di ujung lautan sana. Malam menjemput.

“I-Ibu.” Gadis itu memanggil. Wanita paruh baya disampingnya menoleh dan tersenyum lembut.

“Aku akan mencoba tertawa lepas setelah ini.” Wanita paruh baya itu berkata sembari mengulum senyum. Ia bangkit membersihkan pasir pantai yang menempel diantara celananya.

“Aku hanya ingin kau tidak menjadi orang yang menyedihkan seperti Ibu mu ini. Pikirkan baik-baik, Asmara ku.” Wanita paruh baya itu pergi meninggalkan tempat duduknya bersama gadis kecilnya.

Gadis itu memejamkan mata. Kata-kata Ibunya berkelindan dengan lincah merasuki gendang telinganya. “Ibu, aku mengerti.” Gadis itu membuka matanya dan menatap langit yang telah hitam. Hei, siapa yang sangka diatas sana ada banyak benda kecil seperti titik yang berkelip-kelip serta sebuah bulatan putih yang bersinar. Indah.

Gadis itu tersenyum merekah. Akhirnya ia tahu, malam tidak sepekat yang ia pikirkan. Masih ada keindahan yang dipancarkan olehnya. Karena segala sesuatu pasti memiliki keindahan tersendiri. Ia tersenyum lebar dan menengadahkan kepalanya ke atas sambil memejamkan mata.

****

Epilog

Gadis itu terbangun. Kamarnya masih tak berubah. Ketukan halus dari Ibu sang gadis terdengar. Gadis itu beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju meja makan. Ibunya telah menunggu dirinya untuk sarapan bersama.

“Hari ini hari pertama semester baru, kau harus lebih rajin lagi Asmara ku.”

Kata-kata itu. Bukan, ini bukan episode kepergian Senja lagi. Ini sudah ada dalam dunia nyata. Ia tidak lagi menjelajah waktu. Ia sudah kembali

“Ya, aku akan berusaha bu.” Gadis itu tersenyum menatap sang Ibu yang juga tengah tersenyum lembut.

Gadis itu berjalan menuju kampus hari ini dengan senyum riang. Ia tahu sekarang, setiap sesuatu pasti memiliki keindahan sendiri. Ia masih ingin bersama Senja yang ia tahu itu hanya sekejap. Tapi ia kembali berpikir, kalau ia bisa mencoba mengenal hari kenapa hal itu tidak ia lakukan. Bukankah ada keindahan tersendiri dari hari. Walaupun Senja tetap menempati tempat yang tidak pernah tergantikan oleh siapapun.

“Aku pulang.”

“Kau pulang cepat hari ini?” Gadis itu mengangguk.

“Kau tidak melihat senja dulu?” Gadis itu tersenyum dan menggeleng.

“Aku akan melihatnya ketika rindu ini menggunung.”

Wanita paruh baya itu tersenyum. “Jadi kau akan menumpuk rindu?”

“Ya, karena pasti ada rindu yang akan aku temukan dalam setiap perjalananku nanti.” Anak dan Ibu itu tersenyum bersamaan.

Ibu, aku paham sekarang.

 

END ^^

****

 

Ketangkep ga sih maknanya? Ngerti dengan bahasa aku yang… yah… aneh… Ga tau kenapa yaa, pas aku baca lagi bahasanya kaya njlimet gitu ya… tapi entah kenapa aku suka. Aku suka bahasa yang artinya susah ditebak. Ambigu, yeah! Aku juga suka sama pemborosan kata, haha padahal itu ga boleh kata anak-anak bahasa. Hoho, aku bukan anak bahasa ini. Oya, Asmarandhana itu dari bahasa Jawa lho yang artinya cinta yang menggebu. Aku juga tahu itu dari novel De Liefde-Afifah Afra. Buku ke dua Tetralogi De Winst. Kyaa! Aku ngefans banget sama tokoh Rangga Puruhita di novel itu. Yah, tambah ngaco lama-lama, yasudah kita akhiri saja ya karena aku sudah terlalu banyak berkicau. The last, Okelah… semoga paham sama ceritaku. See you, Dadah ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s