Surat Untuk Senja

Aku mengeja satu persatu huruf dalam buku cinta. Mencoba meresapi setiap makna yang tersimpan secara implisit. Rentetan kalimat bersambung menjadi satu nasihat tentang cinta.

Bertanya pada diri sendiri tentang cinta yang bertahan… Karena di dalam buku cinta, hanya ada dua pilihan. Mengambil kesempatan yang berarti keberanian, atau mempersilakan yang berarti pengorbanan.

Kalian tahu kenapa demikian? Karena cinta tidak pernah meminta untuk menanti.

Kau tahu senja… pilihanku hanya ada dua. Mengambil kesempatan atau mempersilakan. Aku akan memilih sekarang senja.

Pada tulisan ini, kau akan tahu pilihanku. Aku akan memilih senja. Setelah aku sadar apa kesalahan ku.

Kesalahan ku adalah membiarkan perasaan ini merasa memiliki kau, senja… maka, kali ini dengan kesadaran yang tinggi aku memilih.

Pilihan pertama adalah mengambil kesempatan. Senja… kau tahu aku. Aku tidak seberani itu. Masih banyak hal yang harus aku pikirkan ke depannya. Dan aku tidak sampai hati meletakkan diri meminta pada mu. Senja… Aku tidak mungkin untuk memilih pilihan pertama.

Senja… seharusnya kau sudah bisa menebak jawaban ku. Karena hanya ada dua pilihan, dan ini adalah pilihan terakhir. Sudah pasti aku memilih pilihan terakhir ini.

Mempersilakan. Itu berarti pengorbanan. Karena menurut buku cinta yang aku baca, mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk orang yang kita cintai.

Aku ingin meletakkan kebahagian pada tempat yang tepat. Aku ingin lebih realistik dengan semuanya. Tanpa ada yang mengawang-awang. Aku tidak ingin menjadi lemah karena mencintai, aku tidak ingin menjadi kalah karena mencintai.

Dalam serial cintanya, Anis Matta menulis, kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Kita mencintai seseorang lalu kita menggantungkan kebahagiaan kita pada sebuah kehidupan bersamanya. Maka ketika ia menolak atau tidak berkesempatan untuk hidup bersama kita, itu menjadi sumber kesengsaraan.

Kita menderita, bukan karena kita mencintai. Dan mungkin juga bukan cinta itu sendiri. Tapi karena kita meletakkan kebahagiaan kita pada cinta yang diterjemahkan sebagai kebersamaan.

Bagiku, senja… mencintaimu sudah cukup membahagiakan ku. Aku tak akan risau lagi bila nanti kita tidak bertemu atau mungkin tak dicintai oleh mu.

Karena bagi ku sekarang, cinta adalah pengorbanan. Layaknya pengorbanan orangtua kepada anaknya. Tulus, tanpa pamrih sedikitpun. Selalu tersenyum bila anak mereka bahagia.

Aku pun juga akan seperti itu, aku akan selalu tersenyum saat kau bahagia. Aku berharap kau disana selalu diberi kebahagiaan yang berlimpah.

Senja… sekarang aku tahu apa itu cinta. Selain pengorbanan, cinta itu memberi, tanpa rasa ingin menerima. Jika dia membalas pemberian kita, anggap saja itu bonus dari Dia.

Dan disinilah aku sekarang, senja… di jalan cinta para pejuang. An Empty love, sebuah komitmen. Komitmen-lah yang akan menjadi tapak langkah pertama cinta ku dan dia yang masih terasing di pulau antah berantah.

Terimakasih telah hadir dalam hidup ku, senja… Aku bahagia bisa mengenalmu.

Au revoir ^^

 

*Sangat terinspirasi dari buku Jalan Cinta Para Pejuang karya Salim A. Fillah*

 

 

Sukabumi, 10 Juni 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s