Sebuah Senyawa Baru

Waktu ku berawal dari episode perpindahan biloks. Ketika aku tidak lagi bersama unsur yang sebelumnya melekat bersama ku. Sebuah reaksi pengenceran yang menimbulkan senyawa baru. Yah, itulah aku…

Sebuah komposisi baru dalam setiap atom ku. Inilah aku sekarang, si senyawa baru. Masih berupaya untuk menyempurnakan setiap sisi sel ku. Ketika aku mulai mencari. Berkelindan dalam setiap episode senja, aku menikmatinya…

Puluhan rhapsodi penantian yang tersaji, tidak akan pernah kering dengan air mata. Aku, si senyawa baru… terpasung kaku melihat efek cahaya yang ditimbulkan. Aku, senyawa baru… menyadari bahwa aku juga ingin melakonkan sebuah rhapsodi penantian.

Bukan… sebenarnya ini bukan lagi sebuah rhapsodi penantian. Melainkan sebuah rhapsodi pertemuan yang agung. Ketika mega dibuka, aku terisak perih. Penyesalan terhujam menyayat setiap dinding hati.

Ribuan pisau menguliti setiap inci kulit ku. Aku terngungu. Seperti orang dengan halusinasi hebat. Setiap sel di lobus otak ku memutar seluruh kesalahanku, berkelindan dalam tiap jengkal penglihatanku.

Sudah, aku sudah tersungkur malu… dalam waktu yang lama, aku tidak bisa untuk sekedar mengangkat kepala. Aku, menjatuhkan seluruh egoku dalam genangan pertemuan. Sebuah rasa yang pernah dipaksakan kepada ku. Sebuah rasa yang sempat aku abaikan.

Campuran tangan itu berhasil, biloks itu berpindah… membawa seluruh DNA ku di dalamnya. Kini, aku hidup dalam senyawa baru itu. Waktu ku sekarang adalah berawal dari sini, sebuah senyawa baru.

 

Sukabumi, 24 April 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s