Dahsyat ku Vs Dahsyat mu

Ini kisah tentang kau dan aku, cerita diantara kita. Sebuah curahan hati seorang sahabat yang pernah mengecap manisnya tawa dan duka bersama mu.
Ini kisah tentang pemikiran kau dan aku, tsaqofah kita. Sebuah pandangan hidup yang terpola diantara lobus-lobus otak kita.

Dasar kita hampir sama, kenapa aku mengatakan hampir? Karena konsep yang kita anut sama. Birrul Walidain. Aku sudah tahu sebelum kau menjelaskan. Aku paham konsep itu, kawan. Bagaimana peran ku sebagai anak, berusaha menjadi anak yang membanggakan, sehingga ke dua orangtua ku dapat tersenyum bahagia.

Ke dua orangtua.. amat sangat mulia mereka. Kau tahu sahabat.. ada pepatah yang mengatakan bahwa kasih sayang orangtua sepanjang jalan, kasih sayang anak sepanjang galah. Kau pasti tahu sahabat..
Setiap anak baik yang memiliki orangtua dan tidak memiliki orangtua, pastilah sangat ingin membuat kedua orangtua mereka tersenyum bahagia, bangga dengan segala prestasi mereka. Pasti sahabat, tidak ada yang mau melihat ke dua orangtuanya bersedih hati, apalagi menangis.

Tapi, seorang anak memiliki jalan masing-masing untuk mewujudkan kebahagian orangtua mereka, sahabat..
Setiap anak memiliki cara pandang dan pemikiran tersendiri untuk membuat ke dua orangtuanya tersenyum.
Sahabat.. aku ingin kau mengerti, apa arti kata ‘dashyat’ dan ‘meledak’ versi ku..

Dahsyat ku.. bukan tentang apa yang berada di dunia. Bukan pula tentang tumpukan uang serta mobil-mobil yang berjajar rapi di garasi.
Dahsyat ku.. bukan tentang training puncak kesuksesan materi. Mungkin sekarang aku masih miskin.. ketika kau secara implisit menyarankan ku menggadaikan harta yang ada. Aku tidak bisa.. karena ini adalah amanah orangtua. Sekali lagi aku tegaskan, ini adalah amanah orangtua! Lantas dimana konsep birrul walidain yang selalu kau gembar-gemborkan, bila amanah dari orangtua mu tidak bisa kau jaga?

Dahsyat ku.. mungkin pemikiran yang terlalu sederhana, sampai kau terus mendoktrin ku. Tapi justru pemikiran yang sederhana itulah aku dapat belajar dari mu. Aku bukan seorang stalker, tapi aku adalah observer. Banyak hal yang membuat bijak yang dapat aku ambil dari mu, sahabat..
Dahsyat ku.. adalah training ruhiyah. Teori kalkulasi yang sederhana, sahabat. Melembutkan hati, dan menenangkan hati. Dengan cinta tanpa obsesi berlebihan. Mensyukuri apa yang aku dapatkan. Walau itu mungkin jauh dari apa yang kau dapatkan.
Dahsyat ku.. adalah penyeimbang jiwa ditengah gempuran kapitalis, sahabat. Memberi warna baru dalam kehidupan banyak orang yang telah merasakannya. Dahsyat ku.. tidak pernah membenci dashyat mu. Tidak.. tidak akan pernah.

Meledak ku.. bukan tentang konvoi pemuda-pemudi diatas kendaraan roda empat. Bukan tentang pemuda-pemudi yang berburu Blackberry, Apple, Canon SLR, dan apapun itu.
Meledak ku.. hanya sederhana, sahabat. Meledak ku.. adalah ketika pemuda-pemudi santun berakhlaqul karimah.
Karena dahsyat dan meledak ku telah mewakili semua item yang ada di dunia dan akhirat, sahabat. Karena dahsyat dan meledak ku adalah penyeimbang dahsyat dan meledak mu.

Setiap pilihan pasti memiliki dua sisi yang berbeda. Ini mungkin hanya teori salah satu sisi. Sekarang aku akan menulis tentang dahsyat dan meledak mu, sahabat.. dengan observasi dan diskusi yang selama ini kita lakukan.
Dahyat mu.. aku salut dengan segala sepak terjang yang kau lakukan, sahabat. Training yang kau ikuti, sharing yang kau lakukan. Jujur aku iri, dengan semua kegiatan heroic mu itu, sahabat.

Dahsyat mu.. tidak ada yang dipersalahkan disini. Niat dan tujuan mulia yang kau emban. Aku tahu itu.. aku pun tergiur dengan segala hal berbau dunia, sahabat.
Dahsyat mu.. adalah ketika kau bisa membeli barang dengan hasil keringat mu. Bangga. Pasti kau sangat bangga, sahabat. Aku juga turut senang dengan keberhasilan mu..
Lalu, haruskah aku menceritakan tentang meledak mu.. aku kira penjabaran diatas cukup memberikan gambaran seperti apa meledak mu.

Tidak ada yang salah diantara kita, sahabat.. tapi haruskah aku menuliskan setiap sembilu yang secara tidak sengaja kau torehkan?
Dahsyat mu, dan dashyat ku.. aku tidak pernah memandang dahsyat mu sebelah mata, aku sangat menaruh hormat pada dashyat mu, sahabat..
Disini aku berdiri sebagai sahabat mu, kawan.. kau sangat membanggakan dashyat mu, aku paham itu. Sangat. Kau pantas berbangga diri dengan apa yang kau peroleh.

Tapi ketika itu semua kau dapatkan, aku tersisihkan. Kau sibuk dengan komunitas serta kekasih mu sendiri. Jangan salahkan bila aku setapak demi setapak mundur dalam semua ini. Mulai mencari komunitas ku yang dahulu pernah hilang.
Lidah itu tidak bertulang kawan, aku menyukai diskusi mengenai hot topik yang sekarang terjadi. Mimpi mu, hampir sama dengan mimpi ku.

Kau meyakini mimpi mu akan terwujud dengan komunitas mu, aku pun demikian. Tetapi jika perbuatan yang terlihat seolah menomor sekiankan hal yang selama ini larut bersama darah. Apakah itu pantas?

Satu hal yang harus kau ingat, sahabat. Ada Dzat yang Maha Kuasa, kita hanya diperintahkan untuk berusaha dan berdo’a. Hasil akhir.. biarkan Dia yang menentukan. Tidak perlu mengambil alih apa yang menjadi hak-hak Dia. Tidak perlu memaksakan diri dengan apa yang kita ingin capai.
Dia Maha Adil dan Maha Kaya. Tak perlu risau akan rezeki. Karena Dia akan selalu menebar rezeki Nya di muka bumi ini. Selagi kita berusaha, berdoa, serta senantiasa bersyukur dengan apa yang Dia berikan, Dia tidak akan pernah lupa untuk menebar rezeki Nya.

Teruntuk Sahabat-sahabat ku yang aku cintai karena Allah. Aku akan tetap mencintai kalian selamanya. :’)

 

Sukabumi, 16 Februari 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s