Ya Allah Keep Our Hearts (Prolog)

ya Allah keep our hearts

Author: Azurama Rai

Cast: Park Rynnie (OC)

Lee Donghae

Lee Raigil (OC)

Genre: Rori (Romance Religi)

Disclaimer: FF ini pemikiran saya, terinspirasi dari beberapa novel. Rynnie, tokoh fiktif saya. Rai juga tokoh fiktif saya. Lee Donghae milik kita bersama*hahaha*.

Saya orang baru dalam tulis menulis FF, banyak sekali kekurangan didalamnya dan typo yang bertebaran. Mohon maaf disini uri Donghae saya jadikan orang ke tiga. Mohon maaf juga bila FF ini kurang berkenan di hati kalian. Oke cekidot yukk..

****

Aku mencoba mengenyahkanmu

Tapi entah kenapa..

Retina mataku selalu tanpa sengaja menangkap bayangmu

Tanpa ku sadari kau menjadi kokain edisi halal untukku –Park Rynnie

****

Korsel, Januari 2010

Kali ini diluar hujan gerimis, langit meneteskan milyaran uap air yang menyublim menjadi air. Disebuah ruang kelas, sekelompok siswa sedang tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Walau tanpa seorang guru yang mengajar, mereka tampak sibuk belajar. Yah, mereka adalah siswa tingkat akhir sekolah menengah atas yang sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional.

“ Ya!  Geser sedikit Rynnie-ah!” ujar seorang namja seraya menggeser badan seorang yeoja yang dipanggil Rynnie.

“Ya! Rai-ah kau ini– Ya! Sempit tau!” seru yeoja tersebut seraya mengerutkan keningnya.

“Aku hanya ingin kau mengajarkan ku soal matematika ini, Rynnie-ah” serunya dengan manja.

“Huh, soal yang mana memang?” Tanya yeoja tersebut. Sang namja hanya tersenyum manis sambil menunjukkan satu nomor soal matematika yang dibawanya.

“Soal seperti ini saja kau tidak bisa?” kata Rynnie mencibir. Sementara yang dicibir, hanya tersenyum manis dengan tatapan puppy eyes.

“Aku heran jadinya, kenapa seorang yang mendapat peringkat pertama  seperti kau tidak dapat mennyelesaikan soal yang begitu mudah ini!” sindir Rynnie

“YA! Kau tidak perlu mengungkit peringkat! Cepat kerjakan saja lalu jelaskan padaku” titah namja tersebut.

“Kau ini, selalu saja memerintah dengan seenaknya.” Kata Rynnie dengan kesal seraya mengerjakan soal tersebut. Sang namja hanya tersenyum penuh kemenangan melihat yeoja disampingnya menuruti titahnya.

Korsel, Februari 2010

Matahari dengan ramahnya bersinar pada pagi yang cerah ini. Langit tampak biru dengan hiasan awan putih disana. Bulan ini hujan jarang turun, menandakan musim kemarau akan datang menyapa selama beberapa bulan kedepan.

“Bisakah kau mengambil kursi lagi untuk dirimu, Tuan Rai?” seru Rynnie kesal.

“Ah, aku terlalu malas beranjak untuk mengambilnya, Nona Rynnie!” balas namja yang dipanggil Rai tersebut.

“Sekarang ajari aku menyelesaikan soal ini, nona.” Rai menunjukkan salah satu soal fisika pada buku yang dia pegang.

“Ya! Kau ini selalu saja seenaknya. Kursi ini hanya cukup untuk satu orang, tapi kau memaksa aku berbagi kursi denganmu.”

“Kau lihat, sekarang ini kita seperti dua orang bodoh yang menduduki satu kursi padahal banyak kursi kosong dikelas ini. Lalu sekarang kau seenaknya menyuruhku untuk menyelesaikan soal ini!” seru Rynnie panjang lebar mengungkapkan kekesalannya.

“Sudahlah, jangan terlalu banyak bicara. Cepat kerjakan soal ini”. Perintah namja tersebut dengan santainya.

Rynnie hanya mendengus mendengar perkataan namja itu yang notabene adalah teman dekatnya. Ralat yang benar adalah laki-laki yang selalu membuat Rynnie repot dengan sikapnya yang manja dan selalu seenaknya sendiri.

“Rynnie-ah” panggil namja itu.

“Hm” Rynnie hanya menanggapi alakadarnya karena sibuk menyelesaikan soal yang diberikan namja egois itu.

“Rynnie-ah.. kau menyukai namja seperti apa?” Tanya namja itu to do point

Rynnie berkerut dan berjengit seperti tersengat listrik puluhan volt mendengar pertanyaan ‘aneh’ dari temannya itu. Rynnie reflex memiringkan kepala dan mencoba mencari mata lawan bicaranya. Tapi Rynnie tidak menemukan retina pemilik mata sayu tersebut, karena ia terus menundukkan kepala dan menatap ujung-ujung pensil yang tengah ia mainkan.

“Yaa, aku hanya ingin tau seorang yeoja seperti mu menyukai laki-laki yang seperti apa”. Lanjut namja itu yang seolah mengetahui kebingungan Rynnie.

“Oh.” Rynnie mengangguk mengerti. Jeda diantara mereka cukup panjang, hingga Rynnie membuka suara kembali.

“Hmmmm” Rynnie memulai untuk berbicara. Sementara seorang namja disampingnya, siap menyimak jawaban Rynnie dengan tangan kiri dilipat ke perut dan jari-jari tangan kanan ia taruh diantara hidung dan atas bibirnya, khas sikapnya yang sedang serius berpikir.

“Namja itu harus baik, bertanggung jawab, dan tegas” Jawab Rynnie dengan senyum. Namja itu hanya mengangguk mendengar jawaban dari teman yeojanya itu.

Korsel, Juli 2010

Hari ini sangat cerah, semesta seakan tau dengan keriangan yang membumbung diantara para siswa yang akan diwisuda pada hari ini. Senyum selalu menghiasi wajah mereka, termasuk Rynnie yang tampak berbeda dari biasanya.

“Rynnie-ah?!” seorang namja mengernyitkan kening seraya menatap Rynnie serius. Tak lama berselang namja itu terkikik. “Bwahahahaha”.

“Ya! Jangan tertawakan aku, menyebalkan.” Rynnie mempoutkan bibirnya. “Hahaha, aku baru pertama kali melihat kau bermake up seperti ini, kau tampak err can— ehm, berbeda.” Kata Rai meralat ucapannya.

Rynnie melengos sebal menanggapinya. “Hei, ayo kita berfoto bersama dulu.” Teriak sang leader kelas kepada Rynnie dan Rai. Mereka menghampiri dan ikut bergabung dengan sekumpulan orang yang sudah berjajar rapi didepan aula sekolah mereka.

Rynnie POV

Sekolah ini, aku akan meninggalkannya dalam hitungan hari. Kelas yang berjajar rapi dengan teras dan halaman depan kelas yang penuh dengan pohon. Ah, aku pasti merindukan sekolah ini. Ini adalah gerbang kehidupanku, setelah ini aku akan terbang tinggi melanglang buana menjelajahi dunia. Ya, tembok-tembok sekolah ini akan menjadi saksi bisu perjalananku selama disini, jadi biarkan aku menghirup udara sekolah ini yang segar sekaligus menenangkan sekarang.

Rai POV

Sekolah ini, terlalu banyak lembaran manis yang aku torehkan disini. Huft, tanpa terasa aku harus meninggalkan sekolah ini. Ah, setiap sudut sekolah ini terlalu banyak kenangan tentangnya. Ketika aku melihatnya makan di kantin, mengobrol bersama sehabat-sahabatnya di teras kelas, melihatnya marah, mengantuk, tertawa dikelas kami. Sungguh apakah aku sanggup hidup dengan normal tanpa melihatnya, mendengar omelan dan ceritanya?. Dalam hitungan hari aku akan meninggalkan sekolah ini dan tentunya kami berpisah. Apakah aku harus mengutarakannya. Mengikatnya agar dia selalu dalam jangkauanku. Tapi, aku adalah pecundang. Aku perlu waktu untuk menyiapkan diri untuk itu. Bagiku cukup mencintainya dalam diam, dalam perhatianku, dan dalam setiap sikap ku. Biarlah sekarang ini dia terbang bebas menggapai mimpinya, suatu saat aku akan menemuinya dengan keberanian yang cukup sebagai seorang yang pantas untukknya. Selamat mengejar mimpi gadisku, selamat menempuh gerbang kehidupan, Rynnie-ah.

Indonesia, Desember 2012

Rynnie POV

Sudah sekitar dua tahun aku berada disini, sebuah negara tropis dengan keramahan penduduknya. Ya, aku sekarang tinggal di Indonesia mengikuti appa yang ditugaskan bekerja di Indonesia. Aku kuliah di salah satu perguruan tinggi favorit disini. Tentunya dengan teman-teman yang berkulit kuning langsat dan mata yang besar. Sungguh manis dan eksotiknya gadis-gadis di Indonesia ini. Aku pun sedikit banyak mampu berbahasa Indonesia dengan lancar.

“Rynnie, ayo cepat. Kelas sebentar lagi masuk.” Seru Nana, teman satu kelasku sambil menggeretku menuju kelas. “Sabar Nana, kita tidak akan terlambat. Kelas juga akan mulai 15 menit lagi.” Kataku tidak setuju dengannya. “Iya, tapi aku mau duduk di depan biar lebih konsentrasi.” Imbuhnya semangat.

Nana, temanku ini selalu saja seperti ini. Selalu semangat belajar disaat yang lain malas. Sangat memegang teguh keyakinannya, santun bila berbicara, pengertian dan lemah lembut. Nana, dengan segala idealismenya yang cerdas serta aktivitas sosialnya yang mengagumkan. Aku mengaguminya, sangat.

“Rynnie, besok kau ada acara? Aku ingin mengajakmu baksos di panti asuhan di daerah rumahku” tawar Nana kepadaku.

“Hmm, tidak ada. Oke aku ikut, ada yang kurang tidak? Aku kira, aku dapat membantu menyumbang.” Tawarku. “Kalau kau ingin menyumbang silahkan saja, minta juga sekalian ke ayahmu itu yang banyak ya, hahaha.” Usul Nana. Aku hanya tersenyum mendengar pernyataannya.

Nana, seorang muslim taat. Hanya dengannya aku dapat melupakan kesepianku, aku dapat melupakan sesaknya merindu. Kalian tau, bagaimana rasanya perasaan cinta yang datang tanpa kau sadari, lalu pergi begitu saja tanpa dapat kau cegah. Ya, aku mencintainya. Setelah kami berpisah, aku sadar. Aku mencintainya. Aku terlalu terbiasa dengan hadirnya, dengan gayanya yang manja dan seenaknya. Dia selalu seenaknya, membuat ku jatuh cinta kemudian seenaknya saja pergi menghilang setelah kami lulus. Terakhir aku mendengar keberadaannya, dia tengah kuliah di Turki. Sebuah negara perpaduan antara eropa dan timur tengah. Dengan banyak bangunan khas eropa yang klasik dipadukan dengan gaya gurun pasir yang menawan. Ah, rasanya sesak dan seperti diiris sebuah sebilu ketika aku membuka memori tentangnya. Cintaku memang sudah gagal pada awalnya.

“Nana, apakah kau pernah mencintai?” tanyaku suatu hari, ketika Nana selesai beribadah dikamarku.

“Pernah, sampai sekarang aku mencintai. Mencintai Tuhanku, Nabiku, orangtuaku, adik-adikku, keluargaku, sahabat-sahabatku, dan kau, Rynnie.” Jelas Nana.

“Aigo, bukan itu maksudku. Maksudku laki-laki Nana, pernahkah? Selama ini kita selalu bersama dan kau tidak pernah menceritakan apapun mengenai laki-laki.” Tanyaku dengan intonasi yang sangat rendah dan hati-hati.

“Oh itu, bagiku mencintai lawan jenis itu anugrah, kita bisa senang sekaligus sedih pada waktu yang bersamaan. Aku pernah mencintai laki-laki Rynnie, aku mencintainya dalam diam. Biarlah cinta ini terhijab dalam etalase hati, tanpa seorangpun tahu kecuali Allah. Kenapa? Karena aku tidak bisa berspekulasi bahwa dia adalah jodohku, suamiku nanti. Aku yakin Allah akan memberikanku jodoh yang terbaik, entah dia atau orang lain.” Jelas Nana.

“Jadi kau tidak memperjuangkannya, Nana?” tanyaku penasaran.

“Aku memperjuangkannya dalam setiap doa-doaku, tanpa perlu dia ketahui. Karena bagiku, itu akan sangat indah pada waktu yang Allah tentukan nanti, terlepas aku dapat bersamanya atau tidak.” Jawab Nana dengan mata yang menerawang dan menularkan kesejukkan pada setiap sudut ruangan ini.

“Jadi, apa ini yang kau sering kau sebut-sebut dengan ikhlas Nana?” tanyaku dengan parau.

“Ya Rynnie. Hei ada apa?” Tanya Nana khawatir. “Nana..” panggilku dengan parau. Dan mengalirlah cerita masa laluku. Kerinduan yang menyesakkan dada, keterlambatanku menyadari cinta yang begitu dekat, serta usahaku mengenyahkan namanya dari setiap dinding hatiku, hatiku yang telah tertutup oleh satu nama, Rai.

Nana, dalam dirinya aku menemukan ketenangan, aku belajar apa itu  ikhlas. “Nana..” panggilku dengan tersendat. “Setiap aku melihatmu kau selalu tenang, apa karena ibadahmu yang banyak itu setiap harinya?” tanyaku. Nana tersenyum, “Ini bukan karena banyaknya ibadahku, tapi karena keyakinan terhadap ibadahku dan Tuhanku.” Jelas Nana.

“Benarkah? Aku yakin dengan agamaku tapi aku tidak bisa mendapatkan aura ketenangan yang terpancar darimu.”

“Aura ketenangan?” Tanya Nana heran. “Iya, aku tenang. Tapi tidak damai Nana. Seakan-akan ketenangan ini menjadi bom waktu yang siap meledak. Nana..” kataku menggantung.

“Aku ingin belajar agamamu.” Kataku dengan mantap. Nana terhenyak mendengarnya, tapi sedetik kemudian tersenyum dengan hangat. Tuhan -entah Tuhan mana yang aku sebut ini- kataku dalam hati. Keyakinanku, Dia yang selalu Nana sebut itu –Allah. Aku ingin sebuah kedamaian yang dapat mengontrol hati, agar dapat tersenyum dengan tulus kepada setiap makhlukMu.

*TBC*

Yup, gimana readers? Aneh, ngebosenin karena castnya kaga dikenal ya. Part ini sebenernya pengen aku buat jadi part 1 tapi kayanya terlalu pendek, jadi aku buat saja ini jadi prolog. Tapi kalo jadi prolog juga kepanjangan, yasudahlah orang sudah jadi ko. Part selanjutnya kita keluarin Donghae oppa. Tenang saja, aku ga akan lupa ko ama uri oppa. Okelah, ditunggu masukkannya ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s