Ya Allah Keep Our Hearts (Part 2)

ya Allah keep our hearts

 

 

Cast: Park Rynnie (OC)

Lee Donghae

Lee Raigil (OC)

Genre: Rori (Romance Religi)

Disclaimer: FF ini pemikiran saya, terinspirasi dari beberapa novel. Rynnie, tokoh fiktif saya. Rai juga tokoh fiktif saya. Lee Donghae milik kita bersama*hahaha*.

Saya orang baru dalam tulis menulis FF, banyak sekali kekurangan didalamnya dan typo yang bertebaran. Kemarin saya bilangkan kalu uri oppa jadi orang ketiga, tapi nanti saya pikirkan lagi yah, tidak tega rasanyaa. Oke cekidot yukk..

****

Jika hari ini matahari riang datang

Aku akan membawa mu menerawangi setiap langkah

Menggenggam ragamu menuju ekosistem samudra

Menjadikanmu satu-satunya oasis padang pasir. –Lee Donghae

****

Semenjak pertemuan Donghae dengan Rynnie, ada ceceran bayang yang tertinggal dalam memori otak Donghae. Berkelebatan dalam setiap jarak pikirnya, mengacaukan seluruh pemerintahan konsentrasinya.  Meski matahari mulai muncul, kerinduan ini tetap memuncak. Tanpa Donghae sadari, kerinduan melihat wajahnya menjadi kafein layaknya kopi yang diminum pada pagi hari.

Author POV

“Huh.” Donghae menghembuskan napas. Donghae menyandarkan kepalanya pada kursi kerjanya. Dia tidak bisa begitu konsentrasi semenjak pertemuannya dengan gadis yang menggunakan penutup kepala itu. Gadis itu terlalu menarik dan membuatku penasaran, pikirnya. Suara dering handphone menyadarkannya dari alam pikirnya.

“Yeobseo, umma.” Kata Donghae. “Ye, memang kita mau kemana umma? Ne, aku akan pulang cepat.” Jawab Donghae patuh. Donghae dengan segera Donghae bangkit dari kursinya. Dia sedang membutuhkan hiburan yang menurutnya membantu menghibur.

Donghae melangkahkan kakinya menuju salah satu ruangan di area kantornya. Dengan cepat Donghae membuka pintu ruangan itu. BRAK.

“Ya! Hyung! Bisakah kau membuka pintu dengan sedikit lembut?” Tanya namja yang berada di dalam ruangan itu. “Mianhe Kyu, aku sedang ingin mendapat hiburan.” Jawab Donghae tanpa rasa bersalah.

“Memangnya aku ini namja penghibur, huh?!” cibir Kyuhyun. “Siapa yang sudi menyewamu Kyu! Aku hanya ingin membuatmu kesal. Itulah hiburanku. Hahaha.” Donghae berkata dengan senyum yang mengembang. “Ya! Kau itu seperti anak kecil Lee Donghae.” Kata Kyuhyun kesal. “Mwo? Kau bilang apa, bocah setan?” Donghae bertanya. “Kalau kau tidak ada perlu apa silahkan keluar dari ruanganku direktur Lee.” Kata Kyuhyun dengan nada yang dingin.

“Mwo? Kau memerintahku? Aku owner perusahaan ini, Devil.” Balas Donghae tak kalah seram. “Ya! Neo jinja!” kata Kyuhyun berteriak sambil melemparkan pulpen yang di pegangnya. “Ya! Cho Kyuhyun!”

“Kau menyebalkan, ikan!” sengit Kyuhyun. “Ya! Kau menyebalkan juga bocah, sesama menyebalkan dilarang saling mengejek!” kata Donghae melindungi diri dengan tangannya.

“Sudahlah Hyung, ada keperluan apa kau kesini?” Tanya Kyuhyun baik-baik. “Ahh, aku hanya perlu teman mengobrol Kyu.” Jawab Donghae polos. “Kau ada masalah Hyung?” Tanya Kyuhyun dengan nada khawatir. “Aniya.. aku baik-baik saja, hanya..” pernyataan Donghae menggantung.

“Hanya..” Tanya Kyuhyun menyelidik. “Hanya.. aku merasa terganggu kemarin-kemarin ini.” Kata Donghae membuat pengakuan. “Apa yang membuatmu terganggu hyung?” Tanya Kyuhyun lagi.

Donghae diam, Donghae masih berpikir apakah dia akan melanjutkan cerita apa yang membuat dirinya terganggu. Bayang-bayangnya, senyumnya yang memabukkan, kecantikannya yang timbul dari kesederhanaannya. Tapi, Kyuhyun itu lebih berpengalaman dengan perempuan ketimbang dirinya. Jadi Donghae pikir tidak ada salahnya dia bertanya apa yang sedang dia rasakan kepada Kyuhyun.

“Hyung..” kata Kyuhyun menyadarkan Donghae dari lamunannya. “Ahh.. itu.. aku ingin bertanya Kyu, jika kau bertemu dengan seorang wanita.. lalu tiba-tiba dia selalu hadir dalam angan mu tanpa kau pikirkan-.” “Kau sedang jatuh cinta Hyung?” Tanya Kyuhyun memotong ucapan Donghae.

“A..a..aniya, aku tidak jatuh cinta Kyu!” bantah Donghae. “Itu gejala jatuh cinta hyung.” Kata Kyuhyun. “Cepat katakan padaku yeoja mana yang bisa membuatmu seperti ini hyung!” perintah Kyuhyun semena-mena.

“Ya! Aku tidak jatuh cinta Kyu.” Donghae masih saja menyanggahnya. “Akui saja kau jatuh cinta hyung. Dia selalu ada dalam bayang mu, lalu kau merinduinya padahal kau baru saja bertemu dengannya kemarin.” Kata Kyuhyun mencoba menyadarkan Donghae.

Donghae terkesiap. “Dari mana kau tahu itu semua Kyu?” Tanya Donghae mengerjap tak percaya. “Jadi benarkan kau jatuh cinta? Yang aku katakan itu adalah gejala jatuh cinta.” Kata Kyuhyun menjelaskan.

“Jadi.. aku jatuh cinta?” Tanya Donghae masih tidak percaya. “Yup! Sekarang katakan siapa yeoja yang telah membuatmu jatuh cinta?” desak Kyuhyun.

Donghae yang mendengar itu hanya diam bingung, sekaligus ada rasa malu yang terselip dalam lubuk hati. Semburat merah terlihat tipis pada ke dua pipinya yang mulus itu. “A..a..”. Donghae tergagap.

“Ya! Kenapa kau jadi gagap begitu hyung? Kau hanya tinggal menjawab siapa nama yeoja itu.” “Omo, ternyata seorang Lee Donghae tiba-tiba menjadi gagap hanya gara-gara jatuh cinta.” Lanjut Kyuhyun menggoda Donghae.

“Ya! Diam kau, aku akan bercerita tapi kau berhentilah menggodaku.” Kata Donghae kesal. “Ne..ne, aku akan berhenti menggoda mu Hyung. Sekarang.. cepat kau ceritakan padaku siapa yeoja itu.” Kata Kyuhyun sambil tersenyum menggoda.

“Huft, kau tau..” Donghae mengawali kalimatnya dengan menggembuskan napas berat. Kyuhyun serius menungu kelanjutan cerita dari Donghae mengingat ini merupakan moment yang sangat langka terjadi dalam hidupnya. Donghae jatuh cinta.

“Yeoja itu sangat berbeda dengan yang lain Kyu, perbedaan dia dengan yeoja-yeoja yang lain sangat mencolok sekali. Mungkin ketika kami berjalan bersama nanti, kami akan menjadi pusat perhatian semua orang.” Kata Donghae menerawang.

Kyuhyun mengernyit tidak mengerti dengan kata-kata dari Hyungnya itu. “A..apa yeoja yang kau sukai itu cacat Hyung?” Tanya Kyuhyun hati-hati. “YA! Apa yang kau bilang, dia itu sempurna. Terlalu sempurna sehingga dia menjadi berbeda.” Donghae merengut kesal mendengar pernyataan dari Kyuhyun.

“Kau bilang tadi yeoja yang kau sukai itu berbeda dengan yeoja-yeoja lainnya, kalimat mu itu seolah-olah mengatakan bahwa yeoja yang kau sukai itu cacat, hyung.” Kata Kyuhyun dengan polosnya.

“YA! Kau itu ternyata bodoh juga bocah!” cibir Donghae. “Kalimatmu itu ambigu hyung! Sudah cepat katakan siapa yeoja itu.” Sengit Kyuhyun.

“Huft, kau pernah bertemu dengannya Kyu.” Kata Donghae meggantung. “Siapa?” Tanya Kyuhyun menyahut perkataan Donghae, dia tidak melanjutkan kalimatnya, dia diam menunggu hyungnya itu melanjutkan kalimatnya.

“Kau ingat dengan yeoja dengan penutup kepala yang kita temui di restoran tradisional di daerah Gangnam? Village café.” Tanya Donghae. Kyuhyun mengangguk dengan tatapan tidak mengerti, tapi setelah itu.. Kyuhyun terbelak. “Jangan-jangan.. kau.. yeoja itu..” kata Kyuhyun gagap.

“Ne, yeoja itulah yang akhir-akhir ini memenuhi kepalaku.” Kata Donghae malu. “Mwo? Jadi benar.. akhirnya Hyungku ini menyukai yeoja. Seleramu tidak buruk juga hyung, dia sangat anggun dan manis dibalik penutup kepalanya itu.”

“Tapi.. dia terlalu ekstrim hyung.” Lanjut Kyuhyun dengan nada rendah. Kyuhyun sangat senang mendengar Donghae menyukai seorang yeoja, tapi Kyuhyun sedikit kecewa, karena Donghae menyukai yeoja yang ‘berbeda’ keyakinan dengan mereka.

“Kau tahu Kyu? Dia itu putri dari Tuan Park yang seorang staf duta besar Korea. Kemarin aku ke rumah yeoja itu..”

“Mwo? Tuan Park? Kau ke rumahnya?” Tanya Kyuhyun tak percaya. “Ne, aku menjemput eomma ku di rumah temannya, ternyata rumah itu adalah rumah Tuan Park, dan dia ternyata sudah mengenal eommaku sejak lama.” Seulas senyum tipis terukir dari bibir Donghae.

“Siapa nama yeoja itu hyung?” Tanya Kyuhyun penasaran. “Park Rynnie.” Kata Donghae singkat.

Kediaman Keluarga Lee

19.00 KST

Donghae memarkirkan mobilnya cepat ke dalam garasi dan berjalan masuk ke dalam rumah. “Donghae-ah? Kau menepati janjimu sayang, sekarang cepat kau mandi dan bergabunglah makan malam. Appa mu sudah menunggu sejak tadi.” Kata Eomma Donghae dengan penuh senyum.

“Nde?” kata Donghae tidak mengerti. “Sudahlah cepat mandi, kau akan tau setelah ini.” Titah Eomma Donghae dengan senyum penuh arti. Donghae mengangguk patuh, walaupun dirinya masih bertanya-tanya dalam arti.

“Donghae-ah, besok bisakah kau mengambil libur?” Tanya Appa Donghae. Donghae heran mendengar pertanyaan appanya. “Kalau kau tidak bisa mengambil libur, bisakah kau cepat pulang ke rumah besok?” tawar Eomma Donghae bijaksana melihat raut wajah Donghae yang keheranan.

“Akan aku usahakan eomma. Tapi memangnya ada acara apa?” Tanya Donghae sambil menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. “Aniyo, kita hanya akan makan malam bersama keluarga Tuan Park, sahabat appa.” Kata appa Donghae menjelaskan.

“Tuan Park?!” Donghae mengernyitkan kening. “Nde, kita di undang makan malam di rumahnya.” Kata eomma Donghae menambahkan. “Dan kau harus ikut!” titah Eomma Donghae. “Arraseo eomma appa, aku akan pulang cepat besok.” Kata Donghae patuh. “Tapi.. kalau boleh aku tahu.. Tuan Park itu”. “Kau pernah ke rumahnya Donghae-ah, ketika kau menjemput eomma sepulang arisan.. kau menjemput umma di kediaman Tuan Park.” Pertanyaan Donghae terpotong oleh ummanya yang panjang lebar menjelaskan.

Donghae terbeliak, sungguh ini adalah sebuah kekagetan yang menyenangkan sekaligus mendebarkan. Donghae merasakan dentuman di jantungnya semakin keras, tapi ada rasa hangat yang merayapi setiap dentuman jantungnya. Dan Donghae menikmatinya, ketika nama Tuan Park disebut.. pastilah dia juga berada disana, seketika itu horomon feromon berhembus dari tubuhnya dan akan tercium oleh Vomerosonal Organ yang akan dihantarkan ke hipotalamus yang mengatur segala gerak-gerik manusia. Otak pun berespon menimbulkan dentuman jantung yang bertalu-talu, napas menjadi tidak beraturan, serta tiba-tiba keringat bercucuran meski hanya disebut nama keluarga Tuan Park.

Rynnie POV

Aku mematut diriku di depan kaca besar kamarku. Hari ini keluarga sahabat appa akan datang berkunjung. Dan kau tahu? Aku menjadi korban dari semua ini. Kenapa? Karena eomma memintaku berdandan secantik mungkin untuk menemui keluarga sahabat appa itu.

Huft. Sungguh aku kesal sekali. Memangnya mereka siapa sampai-sampai aku harus bermake up seperti ini. Appa hanya berteman baik dengan keluarga.. ah, keluarga Lee kalau tidak salah. Jadi apa untungnya bagiku. Aish! Buang pikiran egois mu Rynnie. Kau harus bersikap baik kepada setiap orang dan mematuhi perintah orang tuamu selama itu baik.

Aku beralih melihat wajahku, walaupun make up ini tipis tapi aku tidak suka. Argh!. “Ry-ah, apa kau sudah siap?” Tanya eomma sambil masuk ke dalam kamar ku. “Nde eomma.” Aku menyahut sambil terus menatap kaca dihadapan ku ini. “Ah, kau tampak cantik dan manis sayang.” Puji eomma. “Terimakasih eomma.” Kata ku tersenyum. “Kajja, kita turun kebawah. Keluarga Lee sudah datang.” Kata eomma. Aku mengikuti langkah eomma turun. Jujur aku penasaran sekali dengan keluarga yang membuat aku harus bermake up seperti ini.

Aku menuruni tangga perlahan dan menoleh ingin tahu pembicaraan yang sangat akrab. Pandangan ku bersirobok dengan seorang wanita paruh baya seumuran eomma yang sedang tersenyum kepadaku. Nyonya Lee. Aku tersenyum senang mengetahui bahwa yang datang adalah Nyonya Lee dan keluarganya.

Aku sudah mengenal Nyonya Lee ketika beliau mampir ke rumah ku waktu lalu dan satu lagi anak semata wayang mereka. Eum, Lee Donghae kalau tidak salah namanya. Laki-laki bermata lembut. Irisnya berwarna hitam kecoklatan itu menawarkan perlindungan bagi siapa saja yang menatapnya. DEG. Apa yang terjadi padaku. Kenapa aku malah memikirkan laki-laki itu.

Aku duduk di samping eomma, aku tersenyum membalas senyuman Nyonya dan Tuan Lee. Lalu aku mencoba mengalihkan pandangku ke samping.. pandangan mata ku bertumbukan dengan iris hitam kecoklatan itu. Rasanya ada sedikit yang menggelitik di dadaku kini. Dia tersenyum tipis, aku membalasnya dengan sedikit kikuk.

Donghae POV

Aku melihatnya turun. Dia melemparkan senyum kepada eomma. Aku tertegun memandangnya. Dia memakai sejenis gaun panjang berwarna biru lembut tapi menutupi seluruh tubuhnya, serta kain penutup kepala yang senada. Dia juga memakai sedikit make up, tapi kenapa justru aku terpukau dengan segala kesederhanaan yang berada dalam dirinya.

Kembali, setelah dia duduk, dia melemparkan senyum pada eomma dan appa. Kemudian dia menoleh ke arah ku, aku tersenyum tipis. Saat ini aku tidak bisa mengontrol denyut aritmia jantung ku saat ini. Dia membalas senyum ku. Omo, rasanya aku terbang ke antariksa menembus pintu langit.

Makan malam bersama keluarga Park sungguh sangat menyenangkan sekaligus mendebarkan. Tuan dan Nyonya Park sangat hangat menyambut keluargaku. Mereka bertanya tentang pekerjaan ku sebagai CEO, dan sesekali kami bersenda gurau. Aku merasa nyaman berada diantara dua keluarga ini.

“Ehm.” Appa berdehem singkat. Aku menolehkan pandanganku ke arah beliau. “Sebenarnya ada yang ingin kami bicarakan dengan kalian berdua, Donghae-ah.” Kata Appa. Aku memandangnya dengan heran. Eomma tersenyum lembut, begitu juga dengan Tuan dan Nyonya Park. Apa maksudnya ‘berdua’? Aku dan siapa maksud appa ini. “Berdua? Maksud appa?” tanyaku kemudian.

“Nde, kau dan Rynnie-ah.” Jawab appa. Aku terkejut, memangnya ada apa dengan aku dan Rynnie. Aku melihat Rynnie yang menunjukkan ekspresi yang sama denganku. Aku melihat kedua orang tua ku dan orang tua Rynnie malah tersenyum mencurigakan. Apa yang sebenarnya mereka rencanakan. Omo, jangan-jangan..

“Kami ingin kalian menikah.” Kata appa tersenyum. “Mwo? Apa..” aku terkejut, tergagap. Bingung bagaimana aku harus menjawab pernyataan ini. “Jangan memotong pembicaraan dulu, Donghae-ah. Kalian tidak harus cepat-cepat menikah, bagaimana jika kalian bertunangan dulu untuk saling mengenal.” Kata appa.

Pikiranku mendadak kosong, aku bingung. Entah apa yang aku rasakan, aku senang sekaligus kaget. Aku mencuri pandang ke arah Rynnie, dia tampak pias. Terkejut mungkin. Sejujurnya yang aku takutkan adalah penolakan dari dirinya. Dia tampak shock sekaligus tergurat keraguan yang sangat dalam raut wajahnya.

“Bagaimana Donghae-ah? Kau setuju?” Tanya appa kepadaku. “A..aku tidak tahu harus bagaimana appa. Kenapa appa tidak membicarakan semua ini padaku dulu?” tanyaku balik. “Begini Donghae-ah..” kata Tuan Park menyela. “Kami memiliki alasan sendiri mengapa kami tidak memberitahu kalian sebelumnya, kami tahu bahwa kalian pasti akan menolak sebelum kalian bertemu seperti ini. Lagi pula kau dan Rynnie sudah cukup dewasa, tapi baik kau dan Rynnie tidak pernah mengenalkan seorang perempuan atau laki-laki kepada orang tua masing-masing..” Tuan Park memberikan jeda pada ucapannya.

Aku membenarkan ucapan Tuan Park, aku memang terlalu sibuk dengan pekerjaan, bagiku tidak ada waktu untuk bermain-main dengan perempuan. Lebih baik aku langsung menikah saja dengan perempuan itu, lebih indah sepertinya. Dan sekarang anganku hampir terlaksana akibat ulah kedua orang tuaku, tapi justru aku menjadi shock. Apalagi perempuan itu Rynnie.

“Jadi.. kami memutuskan untuk menjodohkan kalian, karena Rynnie juga selalu saja mengelak bila diajak bicara laki-laki. Kami sebenarnya tidak memaksa kalian bertunangan, lalu menikah. Tapi cobalah untuk sering bertemu dan berinteraksi, kalau ada kecocokan dan kalian memutuskan untuk menikah, kami akan sangat senang sekali.” Jelas Tuan Park panjang lebar.

Rynnie POV

Aku menghempaskan tubuhku diatas ranjang. Pikiran ku masih asyik berkelindan mengumpulkan kepingan memori ketika makan malam tadi. Apakah aku harus membuka diri kepada Lee Donghae, si laki-laki bermata coklat itu.. bagaimana aku harus bersikap sekarang. Besok pagi, eomma memaksaku untuk berangkat ke café dengan laki-laki bermata coklat itu. Alasannya karena jalan ke café dan kantor Donghae searah. Dan si laki-laki bermata coklat itu juga menyetujui untuk menjemputku dirumah. Ah.. sepertinya dia juga dipaksa oleh Nyonya Lee.

Akhirnya aku bangkit menuju kamar mandi, aku membasuh wajah, tangan dan kaki. Berwudhu. Itu yang aku lakukan. Walaupun jam menunjukkan waktu awal dini hari, tak mengapa. Aku ingin melepas penat dan galau ku kepada Nya. Qiyamul lail. Tempatku mencurahkan segala gundah gulana. Apalagi masalah ini. Aku sadar sesadar-sadarnya, aku adalah seorang muallaf. Aku muslim. Dan laki-laki bemata coklat itu..

Aku tengadahkan kedua tangan ini, memohon kepada Dzat yang paling berkuasa. Allah Azza Wa Jala. Memohon agar aku tidak salah dalam melangkah. Agar aku tidak salah dalam memutuskan perkara ini. Aku pun lega, paling tidak aku sudah menumpahkan segala beban yang menghimpit di dada ini.

Pukul empat tigapuluh, aku bangun. Menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim, suasana rumah masih lengang ketika aku turun mengambil minum. Eomma dan appa terbiasa bangun sekitar pukul setengah enam. Aku kembali lagi kekamar, melanjutkan tilawah Al-qur’an. Aku ingin mengawali hari ini dengan bijak, mengingat aku harus memutuskan kehidupan masa depanku nanti.

Bel pintu berbunyi, sesaat kami sekeluarga menyelesaikan sarapan. “Ry-ah.. kau sudah siap? Donghae sudah menjemput.” Teriak eomma. Deg. Secepat itukah.. apa yang harus aku lakukan sekarang. Huft, aku menghembuskan napas. “Ne eomma, sebentar!” aku membalas. Yang penting kau harus bersikap baik pada setiap orang Rynnie, siapapun itu. Bismillah. Aku melangkahkan kaki ke ruang depan. Eomma dan Donghae tampak bercengkrama akrab.

Donghae yang menyadari keberadaanku lebih dahulu, memberikan senyum bersahabat kepadaku. Aku membalasnya dengan tidak kalah ramah. “Eoh, Ry-ah.. kajja Donghae sudah menunggu. Ayo kalian berangkat, nanti terlambat. Dan Donghae-ah, tolong nanti jemput Rynnnie pulang, eomma khawatir.. dia selalu pulang diatas jam 8 malam. Bagaimana.. kau bisa Doanghae-ah?” Tanya eomma. Aku benar-benar tersentak mendengar permintaan eomma pada Donnghae. Aku mendelik kearah eomma, dan eomma hanya tersenyum polos menanggapinya. Eomma..

Donghae membukakan pintu mobilnya untukku. Aku memandangnya heran, dan si laki-laki bermata coklat ini malah melempar senyum ke arahku. Omo.. perlakuan dan senyumnya begitu manis. Ups, Astagfirullah. Aku menggelengkan kepala, mencoba membenarkan posisi otakku yang beberapa saat tadi agak sedikit miring.

Mobil yang dikendarainya berjalan dengan kecepatan sedang. “Kau biasa pulang jam berapa?” Tanya Donghae mengawali percakapan. “Sekitar jam delapan sampai setengah Sembilan malam.” Jawabku kikuk. Sungguh telah lama sekali aku tidak merasakan berada dalam mobil hanya berdua dengan laki-laki.

Ini pertama kalinya bagiku setelah sekian lama aku tidak berinteraksi dengan yang namanya kaum adam, tepatnya Lee Donghae adalah laki-laki ke dua yang pernah bersamaku dalam satu mobil selain appa. Laki-laki kedua, karena pertama kali aku berada dalam satu mobil adalah dengan Rai. Hem, Rai. Aku sedikit getir mengingatnya. Sekarang, bagaimanana kabarnya.. ah, sudahlah. Lebih baik aku memikirkan sesuatu yang membuatku penasaran saat ini.

“Emm, aku ingin bertanya padamu..” kataku nervous. “Mau bertanya apa?” Donghae berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan di depan. “Ehm, kenapa kau mau menjemputku?” aku menggigit bibir bawahku setelah menyelesaikan pertanyaan itu. “Nde?” Donghae menoleh kearahku. Mata kami bertumbukan, dan.. “Apa kau menanyakan alasanku?” Tanya Donghae. Aku mengangguk. “Tidak perlu alasan yang jelas bukan untuk melakukan sesuatu.” Donghae melemparkan senyum.

Aku mengernyit tidak mengerti. “Hah, kau ini.. aku hanya ingin menyenangkan eomma dan appa ku saja, itu alasanku. Bagiku kebahagiaan eomma dan appa adalah hal yang utama.” Katanya menjelaskan. “Jadi kau menerima apa yang orangtua kita rencanakan?” tanyaku penasaran.

“Aku tidak bilang menerima, lagi pula orangtua kita memberikan kebebasan untuk kita memilih. Jadi menurutku kenapa kita tidak menjalaninya saja, setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.. hah, anggaplah ini sebagai wujud cinta kepada orangtuamu.” Donghae menjelaskan. Aku terdiam merenungi setiap rangkaian kata yang diucapkannya. Laki-laki bermata coklat ini sangat mencintai kedua orangtuanya, aku bisa menangkap dari uraian kata-kata serta tatapan matanya ketika dia berbicara.

Aku sangat mencintai orangtuaku, sangat. Satu-satunya batu yang mengganjal adalah keyakinanku. Aku tidak mungkin menggadaikan keyakinan yang membuatku tenang dan damai. Jadi apa yang harusnya aku lakukan sekarang, memberikan pengertian kepada orangtuaku? Entahlah.

“Kau suka ikut membantu menjadi pelayan di Village Café?” Tanya Donghae menyebutkan café keluargaku. “Ne, aku sering menjadi pelayan di café kami.” Jawabku tersenyum. “Eoh, berarti kau pelayan yang waktu itu.” Kata Donghae lagi. Aku kembali mengernyit tidak mengerti.

“Aku lumayan sering ke Village café dengan sepupuku untuk makan siang, sampai ketika itu seorang pelayan ‘aneh’ datang menyajikan makanan kami.” Donghae menjeda perkataannnya. “Sampai-sampai sepupuku itu bertanya padamu tentang penutup kepala mu itu.” Donghae melanjutkan kalimatnya. Aku masih berusaha mengumpulkan kepingan memori lalu, pantas saja aku merasa bahwa sebelumnya aku pernah bertemu dengan laki-laki ini selain ketika dia menjemput Nyonya Lee dirumahku.

Ya, aku ingat.. ketika dua orang pengusaha muda yang menurutku sukses, berkunjung ke café dan salah satunya menanyakan tentang jilbabku ini. Aku ingat sekarang. “Ne, kita pernah bertemu sebelumnya, aku ingat. Pantas saja aku merasa bahwa aku pernah bertemu dengan mu sebelumnya.” Kataku.

“Sudah sampai.” Donghae memarkirkan mobilnya di halaman depan café. Aku melepas seatbelt dan membuka pintu. Donghae mengikutiku keluar dari mobil. “Terimakasih telah mengantarku, Donghae-ssi.” Aku membungkukkan badan. Donghae hanya tersenyum menanggapi ucapanku. “Rynnie-ah..” Donghae memanggilku.

Aku menajamkan pendengaranku, mendengar dia memanggilku Rynnie-ah. Laki-laki itu.. aku menggeleng perlahan. “Boleh aku meminjam handphone mu sebentar?” Tanya Donghae kemudian. “Nde? Eoh.. iya ini silahkan.” Aku menyerahkan handphone ku kepadanya dengan bingung. Dia mengetik sesuatu di handphone ku, lalu tak lama kemudian handphonenya berbunyi.

Kenapa dia harus meminjam handphone ku, padahal dia juga membawa handphone, batinku. “Jja, itu adalah nomor ku.” Tertulis digit-digit angka ketika Donghae menyerahkan kembali handphone ku. “Dan, ini nomor mu bukan? Aku akan menghubungimu ketika jadwalmu pulang.” Donghae memperlihatkan nomor panggilan yang ada di handphone nya. Ya, itu nomor ku. “Ne, sekali lagi gamsahamnida Donghae-ssi.” Aku tersenyum. “Ah, satu lagi Rynnie-ah.. jangan panggil aku dengan –ssi. Panggil aku oppa, kau sekarang berumur 23 tahun bukan? Aku lebih tua darimu beberapa tahun.” Dia mengakhiri kalimatnya dengan senyum. Aku masih diam terhenyak dengan semua ini. Laki-laki ini.. darimana dia tahu umurku. Dia masih terus tersenyum kepadaku, dia menunggu.

Kesadaran akhirnya hinggap kembali dalam raga ku. Aku mengangguk mengerti seraya berkata “Ne, op..oppa.” Aku terbata mengucapkan kata terakhir tadi. Aku tidak pernah memanggil laki-laki lain dengan sebutan oppa, selain sepupuku. Laki-laki ini benar-benar…

 

*TBC*

Yup, bagaimana readers? Aku bingung buat adegan yang so sweet gitu. Tapi mungkin part selanjutnya aku buat yang so sweet tapi elegan gitu (maksudnya apa sih). Dan aku pengen ngeluarin Raigil nih, gimana ya? Jadi bingung sendiri mikirin kelanjutannya.. yaudah sekian dulu yah, mohon kritik dan sarannya.. syukron, gamsahamnida ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s