Ya Allah Keep Our Hearts (Part 1)

ya Allah keep our hearts

 

Cast: Park Rynnie (OC)

Lee Donghae

Lee Raigil (OC)

Genre: Rori (Romance Religi)

Disclaimer: FF ini pemikiran saya, terinspirasi dari beberapa novel. Rynnie, tokoh fiktif saya. Rai tokoh fiktif saya. Lee Donghae milik kita bersama*hahaha*.

Ini FF perdana saya, banyak sekali kekurangan didalamnya dan typo yang bertebaran. Kemarin saya bilangkan kalu uri oppa jadi orang ketiga, tapi nanti saya pikirkan lagi yah, tidak tega rasanyaa. Oke cekidot yukk..

****

Ada derajat kehangatan

Ketika tanpa sengaja mendengar atau melihatmu

Layaknya aku yang terkadang mencicipi kafein kopi yang mengepul

Hangat. –Lee Donghae

****

Korsel, Januari 2014

Seorang laki-laki yang kira-kira berumur 26 tahunan itu tampak berjalan tergesa-gesa menuju suatu ruangan. Wajahnya kusut, dan tampak akan mengeluarkan api amarah yang meledak-ledak.

Brak. “Cho Kyuhyun!” laki-laki itu membuka kasar pintu salah satu ruangan.

Sementara seorang laki-laki yang sepertinya memiliki umur lebih muda dari laki-laki itu hanya menunjukkan ekspresi datar.

“Jelaskan ini padaku!” perintah laki-laki itu kepada seseorang yang dipanggil Cho Kyuhyun.

“..”

“Berita ini cukup jelas Tuan Cho, seorang manager pemasaran perusahaan Lee Corp yang ternama tertangkap kamera sedang mabuk dan membawa seorang wanita kedalam kamar hotel.” Kata laki-laki itu menjelaskan sambil menahan amarah yang memuncak.

“Aku hanya bersenang-senang hyung, santailah sedikit!” jawab Kyuhyun membela diri.

Pletak. Satu pukulan cukup keras mendarat dikepala laki-laki bernama Kyuhyun itu. Kyuhyun hanya meringis mendapat pukulan dari seorang yang dipanggilnya hyung. “Aih, bocah setan ini! Sampai kapan kau mau bermain-main?”

“Sesekali saja hyung. Selama ini kau terlalu serius dalam bekerja hyung, rilex sedikit tak mengapa kan?”

“YA! Tapi bukan dengan cara seperti ini bocah! Semua orang tau bahwa kau adalah sepupu dari CEO Lee Corp.”

“Kau seharusnya tau nilai saham kita turun, ketika berita ini merebak! Dan ini semua karena ulahmu. Aku jadi harus menghadapi appa yang tiba-tiba datang ke ruanganku, menyerahkan berita ini dan menyuruhku menjaga kelakuanmu itu bocah!” lanjut laki-lai itu.

“Hehe, mian hyung. Aku tidak akan mengulangi lagi.” Kyuhyun nyengir ketika mendengar penjelasan dari hyungnya itu.

“Aku tidak habis pikir, kenapa aku yang anak kandung appa sendiri disuruh menjaga bocah yang kelakuannya seperti setan ini. Padahal kau itu hanya sepupu jauhku!” tunjuk laki-laki itu pada kyuhyun.

“YA! Tuan Lee Donghae, itu berarti appa lebih menyayangiku ketimbang kau.” Kyuhyun tersenyum seraya menunjukkan evil smirknya.

“Berhenti menunjukkan smirkmu yang menakutkan itu, penjaga neraka!” sahut Donghae dengan geram.

Donghae menahan geram pada Kyuhyun yang sekarang tengah tertawa terbahak-bahak melihatnya. Tapi Donghae menyadari bahwa sepupunya itu yang membuat hidup Donghae lebih berwarna. Donghae lebih mengenal berbagai ekspresi lagi. Donghae mengenal tawa yang lepas, geram yang amat sangat kepada sepupunya tersebut. Kesal yang dapat berubah seketika menjadi senyum bila sudah bersama dengan sepupunya itu. Donghae menjadi lebih hidup, diantara rutinitasnya yang mengekang mengingat Donghae merupakan CEO Lee Corp sekarang ini. Ekspresi yang ditunjukkan selalu saja serius, senyum penuh kepalsuan diantara para relasi bisnisnya, selalu hati-hati bertindak dan melangkah, selalu berspekulasi buruk terhadap rekan bisnisnya, tidak dapat mempercayai orang dengan mudah. Tapi kehadiran sepupunya yang menyebalkan itu, membuat Donghae lebih ekspesif.

Indonesia, Desember 2014

Rynnie mematut dirinya didepan sebuah kaca. Dia memandang dirinya yang ‘baru’. Dengan selembar kain senada yang sekarang menutupi rambutnya, baju lengan panjang dengan corak bunga-bunga merah kecil, dia tampak anggun dalam balutan yang menutupi tubuhnya itu. Rynie tersenyum. Tak terasa sudah sekitar tiga bulan ini Rynnie memutuskan untuk menutup rambutnya, menindak lanjuti pernyataannya kepada Nana dua tahun lalu. Hari ini Rynnie akan menemui Nana sebagai salam perpisahan, mengingat akhir desember ini dia akan kembali ke tempat asalnya.

“Assalammualaikum” sapa Nana yang telah berdiri dihapan Rynnie.

“Waalaikumsalam.” Rynnie membalasnya dengan senyum. Dan mempersilahkan Nana duduk pada salah satu kursi yang ada di café ini.

“Ada masala apa Ry sampai kau meminta kita bertemu? Apa masalah dengan orangtua mu?” tebak Nana.

“Bukan, bukan itu. Appa dan Umma tidak mempermasalahkan keyakinanku lagi. Mereka sekarang sudah mendukung keputusanku. Asal aku dapat bertanggung jawab terhadap apa yang aku yakini sekarang ini.” Elak Rynnie.

“Lalu?” Tanya Nana penasaran.

“Aku sekeluarga akan kembali ke Korea, Nana.” Kata Rynnie dengan menghembuskan napas.

“Lalu apa yang menjadi masalah?”

“Nana, aku masih belajar keyakinan baruku. Aku baru saja menjalankan kewajibanku sebagai muslimah dengan memakai jilbab, Nana. Mulai terbiasa dengan budaya islam disini.” Jelas Rynnie. Rynnie mengambil napas sejenak lalu melanjutkan kalimatnya kembali.

“Aku takut jika aku kembali ke Korea, aku tidak dapat menemui semua ini lagi. Aku takut aku akan kembali lagi pada kehidupan awalku. Apalagi tanpa kau Nana, tidak ada yang mengingatkanku sholat, mengingat tidak ada adzan yang mendengung ke seluruh wilayah di kota sana. Nana, aku takut..” jelas Rynnie dengan mata berkaca-kaca.

“Ry, walau aku tidak bersamamu lagi, kita terpisah jarak ribuan kilometer. Ketahuilah Dzat yang terus selalu bersamamu Ry. Allah Azza wa jala. Dia tidak akan meninggalkanmu sedetikpun. Kau hanya perlu yakin seyakin-yakinnya Dia ada untukmu. Dia akan selalu menjagamu dalam setiap doa yang kau panjatkan. Yakinkan dirimu bahwa kau bisa melangkah tanpaku. Kau hanya perlu Dia, yang menuntun langkahmu.” Nana mengambil jeda sejenak melihat ekspresi sahabatnya itu.

“Aku tahu Ry, nanti jalanmu pasti akan sulit. Sangat sulit untuk terus memegang keyakinanmu, tapi cobalah berjalan sebaik-baiknya. Kau sendiri yang mengatakan aku harus bertanggung jawab terhadap keputusan yang aku buat bukan?” Nana tersenyum mengakhiri kalimatnya.

“Iya aku harus yakin. Itulah kuncinya.” Rynnie balas tersenyum.

“Doakan aku selalu dalam setiap sujudmu, Nana.”

Korea Selatan, Januari 2014

Rynnie POV

Tanpa terasa sudah hampir tiga minggu aku kembali ke tempat lahirku, negaraku, kampung halamanku. Aku merasa sedikit sulit dengan keadaan disini, mengingat aku adalah orang yang ‘abnormal’ dengan keyakinan berbeda dari orang-orang disini pada umumnya. Kegiatanku tidak begitu padat disini, setelah lulus dari fakultas ekonomi di Indonesia aku memutuskan untuk mengelola café yang selama ini dikelola oleh ummaku. Café ini merupakan resto tempat makan, dengan makanan khas korea dan di desain dengan desain tradisional korea. Walaupun begitu, café ummaku ini tidak sepi pengunjung. Pengunjung yang biasa datang selain orang-orang tua yang senang menikmati suasana tempo dulu tetapi tidak tangung-tangung para CEO juga sering makan disini. Rekan-rekan appa di kantor kedutaan pun sering mengadakan pertemuan disini. Sangat bagus bukan prospek ke depannya.

“Eo, ada pesanan di bilik no empat? Mari aku bantu membawanya.” Tawarku. Aku membawa satu nampan berisi sup kimchi dan banyak lagi. Aku memakai pakaian khas pelayan di café ini, hanbok berwarna pink dengan kerudung senada yang aku lilitkan sekeliling leher. Pada awalnya para pegawai disini menatapku heran, tapi setelah aku beri penjelasan dan pengertian tentang keyakinanku mereka mengerti dan tidak mengusik lagi walaupun aku tidak bisa mengenyahkan tatapan penuh selidik mereka.

Kami membawa masuk makanan secara beriringan, aku melihat pada pelangganku kali ini. Mereka tampaknya pengusaha sukses. Aku memasuki ruangan tersebut dengan senyum ramah. Mereka tampak bingung melihatku yang ‘aneh’ ini. Aku tetap tersenyum, sampai salah satu pelangganku angkat bicara.

“Apa kau pelayan baru disini? Apa yang kau pakai di kepalamu itu?” seorang namja menginterupsi.

“Ah, ini adalah jilbab.” Jawabku dengan senyum kecil. “Apa itu?” tanyanya lagi penasaran. “Kain untuk menutup rambutku, karena aku seorang muslim.” Kataku menjawab. “Eoh, kau orang korea?” tanyanya. “Tentu saja, aku lahir dan besar disini.” Kataku. “Ohh.” Namja itu ber-oh ria. “Kalau begitu saya permisi.” Aku menganggukkan kepala sopan. Ke dua laki-laki itu juga membalas mengangukkan kepala kepadaku.

Donghae POV

Aku melihat pelayan yang menyajikan makanan dihadapanku, sampai ketika seorang pelayan yang ‘aneh’ masuk. Aku mengernyitkan dahi bingung.

“Apa kau pelayan baru disini? Apa yang kau pakai di kepalamu itu?” seorang namja menginterupsi. Ah, ternyata bocah satu itu mendahuluiku bertanya. Lagi pula aku bukan tipe orang yang tiba-tiba bertanya kepada seseorang yang tidak aku kenal, apalagi hal itu bukan masalah yang penting.

“Ah, ini adalah jilbab.” Jawab perempuan itu dengan senyum kecil. Aku melihat dari sudut mataku. Hei! Dia manis dengan wajahnya yang terbalut kain itu, membingkai wajahnya yang oval dengan pipi chubbynya dan lekukakan disudut bibir ketika dia tersenyum.

“Apa itu?” Tanya Kyuhyun lagi penasaran. “Kain untuk menutup rambutku, karena aku seorang muslim.” Gadis itu menjawab. “Eoh, kau orang korea?” Tanya Kyuhyun mengerutkan keningnya. “Tentu saja, aku lahir dan besar disini.” Jawabnya masih dengan senyum. Tuhan, manis sekali!. “Ohh.” Namja itu ber-oh ria. “Kalau begitu saya permisi.” Perempuan itu mengangukkan kepala seraya tersenyum manis kearah kami. Aku terpaku menatapnya, tanpa bisa membalas senyumnya. Tuhan, ada apa dengan diriku. Diriku seakan beku melihat ke’anehan’nya sekaligus senyumnya.

“Hyung, kau kenapa?” Tanya Kyuhyun yang sudah memulai makan. Ruhku seakan kembali ke raga ketika Kyuhyun membuka suaranya. Aku tersadar. Ternyata pintu itu sudah tertutup kembali gumamku dalam hati.

“Hyung, kau kenapa?” Tanya Kyuhyun lagi. Aku mengerjapkan mata dan sedikit memukul kepalaku ini. Sepertinya ada yang salah denganku.

“Eoh, tidak.. tidak ada apa-apa” kataku. Akupun memulai makan, tapi bayangan gadis ‘aneh’ itu masih muncul. Wajahnya yang manis dan imut dibingkai oleh kain itu, serta lekukan disudut bibir ketika dia tersenyum. Membuatku menjadi linglung, dan wajahku terasa panas bila mengingat dia.

“Hei hyung, kau kenapa? Wajahmu merah, kau sakit?” Tanya Kyuhyun. Apa! Wajahku merah?! Tidak!

“Ah, a-aku tidak apa-apa.” Jawabku sesantai mungkin. “Eoh, aku kira kau sakit hyung. Kau tampak tidak semangat makan.” Katanya lagi. Aku menanggapi perkataan Kyuhyun dengan senyum. “Hyung, kau lihat tadi pelayan yang baru itu.” Kyuhyun menyendokkan makanan ke dalam mulutnya santai. Beberapa aliran volt istrik seakan menyengatku. Aku merasakan darah berdesir dengan cepat, dan sepertinya pacuan jatung ini membuat vasodilatasi pembuluh darah wajahku. Wajahku terasa panas.

“I-iya, ada apa?” tanyaku hati-hati. Entah kenapa anak ini bertanya tentang pelayan itu tiba-tiba. Apa anak ini menyadari bahwa pelayan itu sangat manis. Oh, jangan-jangan anak ini akan mengencani pelayan tadi? Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Gadis itu sepertinya gadis baik-baik, terlalu baik malah jika Kyuhyun ingin mengencaninya. Tidak, ini tidak boleh terjadi! Pekikku dalam hati. Omo, apa yang aku katakan tadi. Memangnya aku ini siapanya, rutukku kemudian.

“Dia manis kan hyung!” Kyuhyun mengeluarkan pernyataannya. Rasanya aku jatuh dari ketinggian ratusan kaki mendengar pernyataannya. Cho Kyuhyun, kau tidak boleh mengencaninya!

“Lalu? Kau ingin mengencaninya?” tanyaku sinis. “Ehmm, mungkin.. tapi aku tidak ingin menjadi pusat perhatian ketika aku sedang jalan bersamanya. Jadi sepertinya tidak.” Jawabnya. Huft, aku lega mendengar pernyataannya itu. “Kalau kau mau, kau saja hyung yang mengencaninya! Kaukan tidak pernah berhubungan dengan gadis, aku pikir dia gadis yang cukup menarik, sekaligus menantang.” Kata Kyuhyun lagi sambil tersenyum jahil. Wajahku kembali memanas ketika Kyuhyun mengatakan hal itu. “Hem, aku kira juga seperti itu. Dia benar-benar berani tampil berbeda dengan keyakinan yang.. ah, apa itu namanya.” Seruku mengingat-ngingat. Kyuhyun menghendikkan bahu tanda diapun tidak mengetahuinya.

Normal POV

Rynnie berjalan menuju pagar rumahnya. Hari ini dia pulang lebih awal dari café, hari ini hari yang cukup melelahkan baginya. Banyak sekali pelanggan yang berkunjung dan menanyakan tentang kain yang menutupi rambutnya ini. Hari mulai petang, coretan kuas berwarnya orange tersaji di ufuk barat, mengantar sang raja siang menuju peristirahatannya dengan para pasukan burung-burung camar mengiringi langkah gagahnya pergi. Sudah mendekati maghrib ternyata, kata Rynnie dalam hati. Rynnie membuka pintu rumahnya, rumah terasa lengang. Umma belum pulang dari arisan, appa pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya di kedutaan dan mengurusi tamu-tamu asing. Nelangsanya menjadi anak tungggal, Rynnie berkata dalam hati dan merebahkan dirnya ke kasur. Sekiranya cukup, dia bangkit menuju kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya. Rynnie tampak segar sekarang dan mulai untuk beribadah, Rynnie menolehkan kepala ke kiri dan kanaan seraya mengucapkan kalimat assalammualaikumwarahmatullah, tanda Rynnie mengakhiri shalatnya. Dia menengadahkan tangan keatas dan mulai berdoa, dan mengambil sebuah kitab kecil dengan tulisan-tulisan arab didalamnya. Rynnie mulai membacanya walaupun dia masih belum bisa sempurna melafalkannya.

Deru mobil terdengar dipekarangan rumah, Rynnie bergegas menyambar jilbabnya dan melihat jendela ke arah luar. Oh umma ternyata, katanya dalam hati. Rynnie langsung turun kelantai bawah menyambut kedatangan ummanya. “Umma” kata Rynnie seraya membukakan pintu. Rynnie langsung mencium tangan ummanya seperti kebiasaan orang-orang di Indonesia pada umumnya untuk menghormati orang yang lebih tua. “Ry-ah, kau sudah pulang?” Tanya ummanya. “Ne, umma kajja kita masuk.” Rynnie menyadari adanya orang lain yang menyertai umma. “Annyeong Rynnie-ah.” Perempuan yang seumuran dengan ummanya itu menyapanya dan tersenyum hangat. “Annyeong bibi.” Kata Rynnie mengambil tangan perempuan itu dan menciumnya. “Ry-ah, ini teman umma. Nyonya Lee.” Kata umma memberitahu Rynnie.

“Rynnie-ah, kau berbeda sekali.” Kata Nyonya Lee setelah duduk di ruang tamu dan menyeruput tehnya. “Ne, Nyonya Lee. Anak ini memang berani membuat keputusan untuk meninggalkan keyakinan yang selama ini keluarga kami anut.” Kata umma Rynnie. “Nde?” nyonya Lee agak tersentak. “Ne, bibi. Aku memang menganut keyakinan yang lain dari kalian sejak aku tinggal di Indonesia.” Jelas Rynnie. “Oh, begitu. Tapi kau tampak manis dan imut memakai penutup kepala itu Rynnie-ah.” Kata Nyonya Lee tersenyum lembut. “Terimakasih Nyonya Lee.” Jawab Rynnie. Tiga orang permpuan berbeda usia itu larut dalam perbincangan menarik dan sesekali mereka tertawa.

Ponsel Nyonya Lee berdering menandakan sebuah panggilan masuk.

“Yeobseo.” Sahut Nyonya Lee. “Umma sedang menunggumu menjemput umma di rumah Nyonya Park. Kau kan keberatan menjemput umma di rumah Nyonya Shin, jadi umma menumpang dulu di rumah Nyonya Park.” Lanjut Nyonya Lee. “Ne, cepatlah.” Sambungan teleponpun diputus oleh perempuan paruh baya tersebut.

“Sudah sampai mana anakmu yang tampan itu?” Tanya umma Rynni kepada Nyonya Lee seraya tersenyum. “Sudah dekat sepertinya.” Jawab Nyonya Lee dengan senyum penuh arti.

Suara deru mobil terdengar di depan rumah Nyonya Park.

Donghae POV

Aku sedang mengendarai mobilku menuju rumah teman umma. Umma memintaku menjemputnya dari arisan. Untung saja pekerjaanku cepat selesai hari ini. Aku memasang earphoneku dan menelepon umma untuk meminta kejelasan keberadaannya. “Yeobseo, umma.” Terdengar sahutan diseberang sana. “Umma sekarang sedang dimana?” tanyaku. “Oh, Nyonya Park istri seorang staf kedutaan itu?” tanyaku lagi. “Ne, tunggu disana umma.” Kataku mengakhiri pembicaraan dengan umma. Huh, untung saja rumah Nyonya Park itu tidak terlalu jauh, cukup sekitar sepuluh menit aku sampai dirumah yang minimalis tapi elegan itu. Aku memarkirkan mobil didepan rumah kediaman keluarga Park dan berjalan memasuki pekarangan yang penuh dengan bunga itu. “Annyeonghaseo.” Sapaku.

“Oh, Donghae-ah. Kajja masuk, ummamu sudah menunggu.” Ajak ahjumma Park. “Ry-ah, buatkan minum satu lagi untuk Donghae.” Teriak ahjumma Park dari depan pintu. “Ne umma.” Sahut seseorang dari dalam.

“Umma.” Panggilku seraya duduk. Umma menoleh kearahku dan tersenyum. Aku memposisikan diriku duduk disamping umma, dan ahjumma Park di depanku sekarang.

Aku mendengar suara derap langkah mendekat. Aku mengangkat kepala untuk mengetahui orang yang datang itu. DEG. Seketika itu aku menjadi gamang. Tuli. Aku terpaku menatap sebuah pahatan sempurna dari Yang Maha Kuasa.

“Silahkan diminum.” Katanya, menyodorkan secangkir teh hangat kepadaku. Aku masih diam menatapnya tak percaya. Sementara jantungku, mendapat aritmia mendadak. Denyut yang sangat tidak beraturan. Sampai aku merasa sesak menembus dada bagian kiriku dan lenganku menjadi sakit. Tuhan! Apakah ini semua..

“Donghae-ah, kenalkan ini Rynnie-ah, anak tungggal Nyonya Park.” Ujar umma menyadarkanku dari kekakuan ini.

“A..ah, Ye.” Jawabku singkat. Aku masih belum bisa berpikir sercara normal, selain mengganggu kerja jantungku, perempuan dengan penutup kain dikepala ini juga membuat sistem saraf pusatku lumpuh. Sampai aku susah sekali mengeluarkan kata-kata. A..aku tergagap, ketika alunan gelombang laut bernyanyi. Ribuan milliliter lidokain membiusku, aku kaku. Gelap. Rantai ini semakin membelengku. Ratusan kata tidak bisa mengukir rasa limbungku, dan kini.. dengan apatisnya aku berperan dalam moment sejarah waktu.

 

*TBC*

Donghae oppa sudah saya keluarkan yah. Oke bagaimana? Masih semangat? Kalu begitu ditunggu kritik dan sarannya, gamsahamnida yang udah baca dan bersedia comment ^^..

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s