Kisah Air dan Lembayung Senja

Ini cerita tentang pengembaraan air menuju samudra biru. Bergerak dari hulu ke hilir, dari tempat yang tinggi menuju tempat yang rendah. Sebuah cerita dengan latar belakang yang berwarna, coklat lumpur, jernih berlian, keruh air payau.

Masih dengan cerita air yang selalu berubah warna ketika ekosistem disekitarnya meracuni. Beradaptasi dengan segala macam bentuk zat yang mungkin akan melukainya. Tapi demi melabuhkan diri dalam luasnya samudra biru, dia terus bergerak.

Sembari terus beradaptasi dengan ekosistem dalam radiusnya. Menjadikan dirinya sebagai makhluk lunak yang dapat menempatkan diri. Ketika sosok hangat mentari dan lembayung senja menginterupsi untuk naik menjadi awan, air bereinkarnasi menjadi uap.

Mengubah dirinya menjadi molekul-molekul yang lebih ringan, sehingga tiupan angin mampu mengantarnya pada sosok itu. Disinilah dirinya sekarang, bergerilya menghiasi birunya langit dan sosok hangat mentari.

Berada dalam daerah teritori sang mentari.. merupakan sebuah keindahan tersendiri. Berada dalam radius mentari, menghangatkan suhu dingin yang berada didalam dirinya. Air menjadi lebih hangat dalam setiap gerakannya. Sampai ketika beban yang ditangung air menjadi lebih.

Angin menghempaskan ribuan sel dalam dirinya ke daratan lepas. Langit seolah membuang dirinya yang telah terlalu tua berada disisi mentari. Air terhempas jatuh ke tanah, membasahi tiap sudut kota yang dilanda kemarau.

Air tidak mungkin sakit hati, karena langit membuangnya.. dan secara tidak langsung memisahkan air dengan mentari. Air terlalu bening hingga air tidak pernah tau rasanya membenci. Tapi jauh dalam molekul nya, air meringis nyeri karena hempasan ribuan kaki dari langit.

Air kembali lagi bergerak, kali ini.. air sampai pada labuhan akhirnya. Biru laut selat sunda. Air kembali merubah warna jernihnya, menjadi biru karena ekosistem samudra ini. Di samudra ini, air kembali merasakan terpaan hangat dari mentari yang bersinar diatasnya.

Air kembali tersenyum merekah, molekulnya mendadak riang gembira. Meski langit telah menghempaskannya, air tidak pernah mendendam. Justru karena langit menghempaskannya, air dapat sepenuhnya menatap mentari dan merasakan hangatnya.

Dan ketika bumi berotasi, serta menginterupsi mentari untuk segera turun. Air juga yang mengawalnya. Mentari bereinkarnasi menjadi lembayung senja, dan tenggelam diantara air dalam samudra selat sunda. Kali ini, air mengantar dan menjemput mentari setiap saat.. langit memiliki rencana sendiri, membebaskan renjana yang melilit dengan menghempaskannya.

Saat ini, bukan air yang bereinkarnasi menemani.. tapi mentari yang bereinkarnasi menjadi lembayung senja. Sebuah rhapsodi air dan mentari yang saling mengisi. Entah bagaimana awal drama yang memilin banyak rhapsodi ini. Entah kapan mereka bersua dalam tiap pekerjaannya.

Mungkin bahasa tubuh yang berperan disini. Atmosfir hangat yang dipancarkan, mungkin sebuah isyarat. Ini bukan hanya tentang cinta yang menggebu, tapi sebuah cinta yang terangkum dalam sebuah isyarat tanpa berlebihan.. cukup atmosfir yang berada disekelilingmu yang berpendar hangat tanpa pernah bersentuhan. Hanya pendaran-pendaran hangat yang membuat molekul air menjadi berbeda.

Air dan mentari atau lembayung senja.. entah bagaimana mereka menyimpan rhapsodi penantian, sampai ketika langit menghempaskan air ribuan kaki. Tapi sekali lagi, langit memiliki cara lain.. kini air tidak perlu merasakan sebuah rhapsodi. Karena langit telah mengijinkan air mengantar dan menjemput mentari dalam peluk rindunya.

 

*Apa ini? Yah.. sebenernya pengen buat puisi, tapi panjang gini.. masuknya kemana tuh, yowes lah aku kategorikan jadi essai saja ya. Entah makhluk apa yang tengah merasuki diriku, sampai-sampai membuat tulisan mello gini. Hadeh, efek baca percintaan yang tanpa pengungkapan, hanya seperlunya saja berinteraksi, menikmati kediaman satu sama lain. Memandang hanya seperlunya, tanpa ada sentuhan atau kata-kata romantic, karena terbenteng dengan iman tapi menikah belum menjadi solusi.. hanya bait kagum saja yang terucap diantara doa-doa mereka.. sumpah bener-bener buat saya meleleh, dan jadilah essai lebeh ini, hahaha*

Sukabumi, 09 Februari 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s