Toyor Al-Jannah

Sebuah langkah kecil terseok berjalan, ditengah debu gurun yang berterbangan bebas menampar wajah. Senyum kecil nan polos selalu menghiasi sudut bibirnya. Ketika bertatap dengan orang asing dalam sebuah perjalanan menimba ilmu.

Wajah lugu yang seputih awan-awan dilangit. Membingkainya menjadi seorang warga cilik dengan kecerdasan luar biasa. Berbahasa layaknya orang dewasa. Tetapi binar pada ke dua bola matanya tak bisa berbohong.

Aku mengumpulkan berbagai macam warna. Menerawangi setiap maknanya meski aku tidak pernah berjumpa secara nyata. Tapi aku menyaksikan dengan setiap panca indraku yang normal, mengumpulkan berbagai macam redaksi, fakta, dan menyelami kedalaman binarnya.

Warna itu berubah-ubah seakaan beriringan dengan sebuah dongeng fakta yang diceritakan. Sebuah kisah heroic yang sangat menyentuh hati. Iris warga cilik itu sempat berwarna oranye ketika bercerita tentang dirinya, cita-citanya.

Lalu sesaat kemudian irisnya menjadi hitam pekat ketika dongeng fakta terucap dari mulut mungilnya. Sebuah perjuangan, batu-batu kerikil, kehilangan yang berunut, pahit yang harus dinikmati tiap detiknya ketika sebuah agresi datang.

Sebuah kisah heroic dalam dongeng fakta. Ketika para pemilik wajah lugu ini berhadapan dengan besi-besi bermesin yang ratusan kali lebih besar dari mereka. Batu-batu dilemparkan bersama dengan kepak sayap dari toyor al-Jannah.

 

Dedicated for Pejuang Cilik Intifadhah, Gaza-Palestina

Sukabumi, 22 Januari 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s