Sandiwara Birokrasi

Apakah ini pantas jika disebut sebagai peperangan? Mungkin ya. Aku yakin ya. Tanpa kontak senjata diantara kami. Hanya rentetan janji menarik simpati untuk meraup masa terbanyak.

Sebuah janji. Terlalu banyak prasangka yang timbul akibat itu. Perang dengan kondisi lain kini. Perang di negeri dua musim yang tengah merangsek mencari jalan. Negeri ini telah lama mendapat kedaulatannya. Secara de facto, de jure.

Lantas indicator apa yang menyatakan suatu bangsa berdaulat? Hanya karena ada batas wilayah yang jelas, pemerintahan yang dipilih oleh rakyat, dan penghuni bangsa itu?

Sebuah prasangka yang sebenarnya tidak boleh ada, selalu membayangi langkah. Serentetan program telah di susun, slogan-slogan telah di publikasikan. Rangkaian janji terucap. Lobi-lobi tingkat tinggi terus dilakukan dengan menyelipkan beratus-ratus lembar rupiah.

Tatanan birokrasi negeri dua musim, mungkin masih kabur. Jalannya berkelok layaknya labirin yang berputar-putar dan tidak berujung. Konspirasi politik dengan segala macam kontrak. Mengaburkan warna dunia, serta hati. Terlalu banyak prasangka bermain disana. Ketika sumpah setia tidak lagi menjadi tolak ukur kesetiaan, dan pengkhianatan menjadi bumbu pemanis.

Dan.. ketika pemerintahan mulai goyah, legitimasinya tergerus oleh borok para petinggi. Akankan rakyat ini masih menaruh kepalan kepercayaan kepada mereka?

Aku adalah anak kemarin sore. Yang baru saja mengenal dunia. Tapi aku mendapat berbagai paparan kimia. Segala paradigma birokrasi seolah menapar nurani ku. Kembali.. koleksi warna dunia ku bertambah.

Meski sebuah lakon birokrasi yang tersaji menyayat nurani, karena banyak actor yang berperan antagonis disana. Sehingga actor protagonis tertutupi oleh mereka dalam panggung birokrasi itu. Dan anak kemarin sore ini mencoba mengkaji berbagai sisi.

Meski intuisi ku tidak begitu tajam, pengetahuan ku jauh dari kata sempurna. Tolong ijinkanlah aku, si anak kemarin sore ini berspekulasi. Bahwa masih ada actor protagonis yang tetap memainkan lakon dalam sandiwara birokrasi, dan aku yakin suatu saat nanti akan begitu banyak actor protagonis yang memainkan lakon dalam sandiwara ini.

Dedicated for Momen Pilgub Jabar dan Pilkada Kota Sukabumi

Sukabumi, 27 Januari 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s