Sketsa Rindu

Malam ini penuh dengan rayuan. Setiap jengkal tanah menawarkan emas. Bulan ini juga penuh degan air mata. Ketika ribuan sakura gugur, pertanda musim semi akan berakhir.

Biarkan semua larut bersama poros waktu. Hilang bersama rotasi bumi. Membeku dalam musim dingin. Karena, besok pagi akan kembali datang. Matahari akan menghangatkan bumi, menghapus kabut-kabut di daratan.

Meski matahari mulai muncul, kerinduan ini tetap memuncak. Mengepul layaknya nasi yang tanak pagi hari. Mengembara masuk sistem pengindraan. Meninggalkan aroma khas yang menguar.

Aku butuh air. Sebagai media evaporasi rasa rinduku. Menyalurkan kerinduan yang membumbung pada tenangnya air. Berharap kedamaian menjalari setiap sel dalam jantungku.

Bulan ini, hujan mengguyur. Langit jarang membiarkan tanah kering. Aku suka! Karena tembang rindu ini akan berevaporasi bersama air yang jatuh.

Melarutkannya dalam setiap jengkl tanah yang becek. Aku suka! Karena itu membuat rasa rindu yang menguar berkurang. Menunggu saatnya tiba.

Meski nanti, aku tidak pernah menemukan sosok rindu. Tak mengapa, karena itu adalah pilihanku. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s