welcome

Assalammualaikum.

hai, pemberitahuan. blog ini adalah wadah bagi tulisan-tulisan aku. terutama puisi. ada juga materi keperawatan disini yah.

aku sebenernya lebih suka menulis puisi-puisi ketimbang cerpen atau FF. kenapa? karena puisi itu simpel dan kita bisa bermain kata disana. oke lah, selamat membaca puisi-puisi atau cerita-cerita disini atau apapun yang bisa aku share. semoga bermanfaat ^^

Surat Terbuka Untuk Luhut B Panjaitan

KabarNet

YTH Bapak Jenderal (Purn) Luhut B Panjaitan, selaku Tokoh Batak

Awalnya berat bagi saya untuk menulis surat terbuka ini, beragam respons akan muncul tidak terkecuali bernada negative, apalagi Bang Luhut, (saya sapa Bang karena kebiasaan saya menyapa beliau) saat ini sedang begitu fokus dalam mendukung Calon Presiden Joko Widodo.

Surat ini saya tulis berawal dari sebuah pertemuan tokoh-tokoh Batak, (Tempat pertemuan sangaja tidak saya sebut). Dalam pertemuan tersebut Bang Luhut banyak menyampaikan mengenai konstelasi politik saat ini. Terutama peran Warga Kristen Batak dalam Pilpres.

View original post 627 more words

Tuhan, Allahurabbi

Duhai Allah. Harapku padaMu setinggi apapun. Aku taruh seluruh harapku dipangkuanMu.

Duhai Allah, rindukah Kau padaku berjibaku dengan pertaubatan penuh airmata. Allah, kali ini, kemana akan Kau damparkan seorang manusia yang rombeng ini.

Setelah kemarin baru aku kembali, kali ini akankah aku kembali karam, Allah. Kemana Kau akan melabuhkan aku kembali.

Allah, rindukah Kau terhadap sujud panjangku di sepertiga malam. Tuhanku, aku kuat, Engkau yang selalu menguatkan, berilah aku sebuah hati yang lapang. Sebuah penerimaan yang ikhlas. Aamiin

 

 

 

Memoar Tiga Tahun Lalu

4180085149_b3a29449d9_o

Sudah lama berlalu ya, sekitar tiga tahun lalu. Ketika sebuah album usang itu merekam sebuah memori pahit. Tentang dirimu yang terluka karena takdir.

Ketika itu, takdir dan waktu berkonspirasi mengenai sebuah skenario. Dia, mengatur segalanya.

Kau masih ingat ketika Dia menghempaskan mu dalam lubang pesakitan, menurut mu saat itu. Kau hancur. Selaksa cermin yang dilempari batu.

Kau merasa dipecundangi. Seketika itu, mengabur semua. Kau seperti zombie disana.

Salahkan hati nurani yang masih memiliki ‘angel’. Lalu kau merasa kecil. Terseok diantara sebuah rimba dunia.

Salahkan akal mu yang masih berfungsi normal. Ia mengetuk diri dan hati mu.

Kau luluh. Akhirnya, sebuah dinamika akal dan hati mu kembali mengambil peran. Kau kembali mendapatkan ruh mu yang hilang.

Kau kembali bergairah menjala takdir-takdir Nya. Mendengar, dan mencerna semua yang kau dapat dengan baik.

Lalu, kau menjadi pengagum sunset di ufuk barat sana. Dimana kau berteman dengan seluruh anggota hari. Berdamai dengan selorohan yang kadang kala membuat nyeri epigastrium.

Kau berteman dan berdamai dengan takdir mu sekarang. Sesuatu yang seharusnya kau lakukan sejak tiga tahun yang lalu.

Bojonggede, 26 September 2013

Ya Allah Keep Our Hearts (Part 3)

ya Allah keep our hearts

Cast: Park Rynnie (OC)

Lee Donghae

Lee Raigil (OC)

Genre: Rori (Romance Religi)

Disclaimer: FF ini pemikiran saya, terinspirasi dari beberapa novel. Rynnie, tokoh fiktif saya. Rai juga tokoh fiktif saya. Lee Donghae milik kita bersama*hahaha*.

Saya orang baru dalam tulis menulis FF, banyak sekali kekurangan didalamnya dan typo yang bertebaran. Kemarin saya bilangkan kalu uri oppa jadi orang ketiga, tapi nanti saya pikirkan lagi yah, tidak tega rasanyaa. Oke cekidot yukk..

****

Kembali, aku menemukannya

Dalam sebuah segel rapi yang lebih memancarkan keindahan

Dan skenario waktu  mempermainkan kami

Rasa yang sempat redup, berpendar kembali –Lee Raigil

****

Seorang laki-laki sedang memandang biru langit milik tanah kelahirannya. Rasa rindu terhadap tanah kelahiran, membuat dirinya betah berlama-lama memandang biru langit Korea disebuah bangku taman. Sesekali laki-laki itu tersenyum memandang langit.

“Sudah berapa lama aku meninggalkan negeri ini..” gumam laki-laki itu. Laki-laki itu memejamkan mata menikmati hembusan angin yang lembut menerpa tubuhnya.

“Negeri ini selalu membuatku rindu..” laki-laki itu kembali berkata pada dirinya.

Seuara dering handphone membuyarkan kesenangan yang tengah dinikmatinya.

“Yeobseyo eomma..” laki-laki itu mengangkat teleponnya.

“…”

“Ne, eomma.. aku akan segera pulang sekarang.” Laki-laki itu bangkit meninggalkan bangku taman dan berjalan menjauhinya.

“Welcome back, Lee Raigil.” Laki-laki itu bergumam sambil berjalan menuju istana, rumahnya tercinta.

****

Donghae POV

Sudah beberapa bulan ini aku dan Rynnie mengenal satu sama lain. Kami memang tidak bebas bepergian bersama, karena selalu ada ‘setan’ diantara kami. Rynnie selalu enggan apabila kami harus pergi berdua. Apalagi ketika dimobil, dia bilang jika ada dua orang seperti kami yang bukan mahram berjalan berdua atau berada dalam satu mobil maka ada orang ketiga diantara kami.. yaitu setan.

Aku cukup memahami bagaimana keyakinan yang dianutnya selama ini. Aku paham dengan kenapa dia menggunakan penutup kepala itu. Ternyata ajaran agama yang dianut Rynnie benar-benar menghormati wanita. Kau tahu kenapa? Karena penutup kepala itu bertujuan untuk melindungi mereka dari pria iseng yang kerjaannya menggoda wanita.

Sejujurnya aku mulai tertarik dengan ajaran-ajaran keyakinan Rynnie. Sepertinya membuat hidup lebih tenang dan mulia. Aku paham tentang waktu-waktu dia beribadah. Dan.. aku juga paham dengan ketidak mauan dia hanya berdua dengan ku saja.

Ya seperti itulah dia, jadi selalu ada orang ketiga diantara kita. ‘setan’ itu selalu saja ada. Cho Kyuhyun. Yup, dialah setan diantara kami. Entah kenapa dia selalu mau saja menemani kami bila ada keperluan untuk keluar.

Seperti saat ini, aku dan Kyuhyun tengah duduk manis di Village café menunggu Rynnie datang untuk makan siang bersama kami. Huft, setan yang satu ini pasti selalu semangat bila berkaitan dengan makan.

SREK.

“Annyeong.. mianhe membuat menunggu.” Kata Rynnie setelah tiba. “Gwenchana, apa hari ini ramai?” Tanya ku.

“Ne oppa.. hari ini sangat ramai pengunjung. Jadi kami agak sibuk.”

“Nan gwenchana.” Kataku tersenyum.

“Cha, sudahlah.. aku sudah lapar, sekarang waktunya makan. Mari makan.” Namja setan yang berada disampingku dengan seenaknya mencomot berbagai makanan yang tersedia.

“Ya! Kau tidak makan berapa hari?” sungutku keras. “Hyung aku lapar sekali, kita lumayan lama menunggu.” Kata Kyuhyun dengan mulut penuh makanan.

“Mianhe, Kyuhyun-ah. Sekarang makanlah yang banyak.” Kata Rynnie dengan lembut. “Hehe, gomawo.. aku akan makan banyak sekarang.” Kyuhyun tersenyum senang mendengar perkataan Rynnie.

“Ya! Cho Kyuhyun!” Kataku kesal. “Sudahlah oppa, jangan marah-marah lagi. Lebih baik sekarang oppa makan saja.” Rynnie mengambilkan beberapa potong daging ke atas mangkuk ku.

“Tidak baik marah-marah sebelum makan oppa.” Rynnie mengingatkan dengan tersenyum. Kyuhyun memandang ku seakan-akan dia menang kali ini.

“Huh, habis bocah itu selalu saja mengesalkan.” Kataku memandang Kyuhyun yang sedang lahap makan.

“Biarkan saja oppa, pantas saja dia seperti itu, dia kan masih bocah.” Kata Rynnie tersenyum ke arah Kyuhyun. Kyuhyun mendelik dan langsung menghentikan makannya mendengar pernyataan Rynnie.

“Ya! Berani-beraninya kau mengatakan aku bocah, yeodongsaeng! Aku masih lebih tua dari mu dua tahun!” kata Kyuhyun berang.

Aku tertawa geli melihatnya kesal seperti ini. Rasanya puas sekali melihatnya berang. Rynnie pun demikian, dia tampak memandang Kyuhyun jenaka.

“Kalau kau sekali lagi mengatakan aku bocah, aku tidak akan menemani kencan kalian lagi!” ancam Kyuhyun.

“Mwo? Kau tidak bisa seperti itu.. kita sudah buat kesepakatan kan..” kata Rynnie kaget.

Apa tadi? Kesepakatan? Omo.. apa yang direncanakannya dengan bocah evil ini. Sepertinya aku harus meminta penjelasan dari nya.

“Tidak mau!” jawan Kyuhyun mengerucutkan bibirnya. Aku tersenyum geli melihat kelakuannya yang sangat kekanak-kanakan.

“Oke oke, aku tidak memanggilmu bocah lagi.” Kata Rynnie mengalah. Kyuhyun tersenyum senang.

“Good girl.. kalau gitu panggil aku oppa.” Kata Kyuhyun mengeluarkan smirk andalannya. Kyuhyun melihatku sekilas, aku mendelik kesal.

“Kau tidak mau?” kata Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun” Kata ku mendesis. Kyuhyun melirik ku sekilas. “Kalau kau tidak mau.. aku tidak akan menjadi setan lagi diantara kalian.. bagaimana?”

“Cho Kyuhyun..” aku melihatnya tajam. “Ne.. oppa.” Akhirnya Rynnie mengeluarkan suara.

“Ya! Cho Kyuhyun! Panggilan oppa bagi Ry-ah hanya untukku!” kataku kesal. “Hahaha.. kau cemburu hyung?” Tanya Kyuhyun dengan tatapan menjengkelkan.

Aku merasa tertohok mendengar perkataan bocah itu. Aku diam. “Akui saja kau cemburu.” Katanya menggoda.

Aku merasa wajahku memanas. Sepertinya semburat merah tampak sudah.

“Cho Kyuhyun.. Neo jinja!” kata ku kesal.

“Sudahlah oppa.. jangan marah-marah terus. Kyuhyun-ah jangan terus menggoda hyung mu.” Kata Rynnie bijak.

Kyuhyun tersenyum rubah.

“Menyebalkan.” Aku mendesis seraya menatap Kyuhyun dengan tatapan membunuh

“Sudah oppa… lagi pula panggilan oppa pada Kyuhyun, berbeda dengan panggilan oppa pada.. mu…” kata Rynnie membekap mulut, menyadari apa yang dia katakan.

Aku dan Kyuhyun sama-sama tercengung mendengar perkataannya. Rynnie pun terlambat menyadari perkataan yang seharusnya tidak dia ucapkan. Getar hangat merambati setiap denyut jantung ku kali ini. Bahagia. Tentu, karena perasaan ku tidak bertepuk sebelah tangan.

Semburat merah tampak jelas di wajah nya. “Aku permisi ke belakang dulu.” Kata Rynnie tergesa-gesa

Rynnie POV

Aku berlari memasuki toilet café. Aku baru menyadari bahwa aku telah mengucapkan sesuatu yang tidak seharusnya aku ucapkan. Kali ini, jantungku berdetak keras sekali. Aliran darah berdesir cepat, dan aku terengah-engah seolah aku habis berlari berkilo-kilo meter.

“Astagfirullah.. apa yang aku katakan tadi?” aku bergumam. Bagaimana aku menemui Donghae oppa nanti, aku sangat malu sekarang. Berbagai macam pertanyaan berkelindan dalam benak ku saat ini.

Aku membasuh wajah di westafel toilet. Sedikit menghilangkan gugup ku. Perlahan aku mengatur napas. Tenang Rynnie, batinku.

Tapi nanti aku harus bagaimana.. Ah, Ya Allah.. tolong hamba Mu yang bodoh ini..

Lama aku menghabiskan waktu di toilet ini, rasanya malu sekali untuk kembali makan bersama Donghae oppa dan Kyuhyun. Tuhan, aku harus bagaimana? Aku belum mengakui bahwa aku sebenarnya jatuh cinta pada laki-laki bermata coklat itu. Yah, munafik memang.. tapi ada sepotong hati yang tercecer dan sudah tidak berbentuk lagi. Ditambah dengan perbedaan yang menawarkan jurang tanpa dasar.

Sehingga aku belum bisa menetapkan hati. Aku belum bisa menerima laki-laki beriris coklat itu sepenuhnya. Tapi aku juga tidak bisa membohongi diri lagi, bahwa aku sudah ikut bersama rotasinya, meskipun masih dalam tahap awal. Jadi bisakah kalian menunjukkan bagaimana cara aku harus bersikap kepadanya nanti?

Aku harus segera memutuskan dengan segera. Yah.. mungkin aku harus kembali melanjutkan makan. Aku masih lapar. Biarkan saja Donghae oppa berpikir apa, yang jelas aku ingin makan, mengingat tadi aku baru makan beberapa sendok. Perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.

Bismillah, aku langkahkan kaki ini keluar toilet. Bersikap biasa saja Rynnie.. seolah-olah semua baik-baik saja. Langkahku mantap menuju bilik yang kami tempati. Jujur, walaupun aku berusaha tenang, tapi jantungku terus bertalu-talu. Semakin dekat ke pintu, jantungku semakin keras berdetak.

SREK.

Donghae oppa dan Kyuhyun menoleh ke arahku. Aku tersenyum kikuk. Kyuhyun berdehem dan tersenyum kecil. Donghae oppa memalingkan wajahnya yang merah.

Oppa.. jangan buat suasana menjadi canggung seperti ini. Aku kembali duduk, melanjutkan makan dengan diam.

“Aku sudah selesai, aku akan cari udara segar dulu.. disini panas sekali.” Kata Kyuhyun sambil berdiri dan sesaat kemudian keluar.

Alhasil tinggallah aku dan Donghae oppa. Suasana semakin canggung diantara kami berdua. Dan aku sangat tidak suka dengan suasana seperti ini.

Donghae oppa berdehem, reflex aku menoleh ke arahnya. “Kau lama sekali tadi di toilet.” Kata Donghae memecah kecanggungan.

“Mianhe oppa.. aku hanya…” aku kehabisan kata-kata. Aku mengobrak-abrik kosa kata untuk menjawab pertanyaanya. Huft, aku menggigit bibir bingung, harus menjawab apa.

“Apa yang tadi kau katakan benar?” Tanya Donghae lagi.

“Yang aku katakan?” Tanya ku tidak mengerti. Tuhan, apa Donghae oppa ingin membahas tentang hal itu lagi. Oh.. tidak.

“Ketika kau bilang panggilan oppa pada Kyuhyun, berbeda dengan panggilan oppa padaku?” Tanya Donghae oppa. Skak mat. Aku mendongakkan kepala. Pandangan mata kami bertumbukan. Donghae oppa menatap  ku menuntut. Aku memalingkan pandangku darinya.

Aku seperti di interogasi sekarang ini. Dan aku tidak suka. Kenapa pula aku harus mengakui semuanya tapi dia tidak pernah mengatakan apapu. Huft… oppa, tolong jangan tanya aku mengenai hal itu dan jangan menatapku dengan tatapan menuntut…

Aku masih diam. Aku masih ragu dengan apa yang aku rasakan, sekalipun benar aku merasakan perasaan itu… aku sangat malu bila harus mengakuinya.

“Emm, maksudku jelas saja berbeda oppa… aku menghormati kau seperti oppa, sedangkan Kyu, aku hanya menganggapnya sebagai teman saja, oppa.” Jelas ku. Aku mengakhiri kalimatku dengan gugup.

Ampuni aku Tuhan bila aku berbohong.. aku tidak tahu harus bagaimana sekarang ini.

Aku melihat Donghae oppa, hei.. ada yang salah dengan kata-kataku tadi? Sorot matanya perlahan meredup. Tak ada lagi antusias dalam sinar matanya. Sinar kekecewaan yang tampak didalamnya sekarang.

“Oppa… ada apa?” tanyaku hati-hati.

“Gwencahana… aku harus kembali ke kantor sekarang, Ry-ah” Donghae berkata dengan senyum kecutnya. Aku bisa melihat kegetiran pada perkataannya.

Donghae pun bangkit, dan aku mengikutinya berdiri. “Nanti aku akan lembur, Ry-ah. Jadi aku tidak bisa menjemput mu malam ini.” Katanya sambil berjalan keluar.

“Tidak apa oppa, aku bisa pulang sendiri.” Jawabku memberikan senyum.

“Baiklah… aku akan pergi sekarang, annyeong Ry-ah.” Kata Donghae masih dengan sinar mata yang meredup.

“Annyeong oppa.” Kataku membalas.

Aku mengantar Donghae ke depan café, disana Kyuhyun sudah menunggu. Tak lama kemudian mobil yang dikendari oleh Donghae oppa mulai meninggalkan parkiran café.

Aku masih termenung mengingat ucapanku tadi dengan Donghae oppa. Aku bukan anak ABG lagi sekarang, aku cukup bisa menerjemahkan bahasa tubuh Donghae oppa dengan baik. Donghae oppa kecewa dengan ucapanku yang mengatakan hanya menganggapnya sebagai oppa.

Oppa… aku belum bisa menetapkan hati ini, banyak sekali yang harus aku pikirkan oppa. Apalagi banyak sekali perbedaan diantara kita. Mengenai keyakinan kita. Terlalu dalam jurang yang ada diantara kita oppa. Tapi aku juga tidak bisa menampik bahwa aku sudah terbawa dalam rotasi mu.

Rasa sesak menjalari setiap rongga dadaku sekarang. Secara spontan kelenjar air mata mulai bekerja memproduksi buliran air mata. Astagfirullahaladzim, aku beristigfar seraya mengusap buliran yang jatuh dengan punggung tanganku.

*****

Seorang pemuda tampak tengah sibuk dengan tumpukan kertas di mejanya, sesekali pemuda itu menatap layar laptop yang berada di depannya. Dia mendesah perlahan, merenggangkan sedikit otot punggungnya yang mulai terasa kaku.

Dia menatap layar laptopnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Sebuah e-mail dari teman sekolahnya dulu, sedikit mengganggu konsenterasinya. Pemuda itu kembali membaca ulang e-mail itu. Terlihat tulisan ‘Reuni Senior High School’. Dua minggu lagi, di Village café.

“Hm, aku ingin datang melihatmu… tapi aku juga tidak ingin datang karena segalanya terasa menyesakkan bagiku, karena aku takut semakin tidak bisa membunuh perasaan ini.” Pemuda itu bergumam sendiri.

“Rai-ssi, Direktur Lee memanggil anda ke ruangannya.” Seorang memanggil pemuda yang dipanggil Rai itu.

“Ne, aku akan segera kesana. Khamsahamnida.” Jawab pemuda bernama Rai itu.

Pemuda itu berjalan ke ruangan Direktur yang bermarga Lee itu dengan cepat. Dia adalah tipe orang yang tidak ingin membuat orang lain menunggu. Dia mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Direktur…” sapanya sambil membungkukkan badan.

“Silahkan duduk, bagaimana keadaanmu?” Direktur yang kira-kira usianya sudah setengah abad itu bertanya dengan seringai disudut bibirnya.

“Sangat baik, Direktur.” Jawab pemuda itu.

“Bagaimana rasanya menjadi ‘pesuruh’, Lee Raigil? Menyenangkan? Menantang?” tanya Direktur Lee dengan seringaian yang melebar.

“Rasanya menantang sekaligus menyenangkan, Direktur.” Jawab pemuda itu dengan sopan.

“Huft, sampai kapan kau akan terus begini Rai-ah… Appa bisa saja langsung berbicara kepada Kepala Departemen Keuangan ini untuk menempatkan mu menjadi kepala bagian perpajakan.” Direktur itu menghela napas.

“Tidak perlu Appa. Aku akan memulai karir ku dari bawah, seperti Appa ketika dulu meniti karir menjadi pelaksana muda terlebih dahulu.” Kata pemuda itu beralibi.

“Keras kepala. Terserah apa mau mu saja. Tapi kau tidak boleh menyesal menolak penawaran Appa ini.”

“Tidak Appa, aku tidak akan menyesal. Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, saya pamit.” Pemuda itu bangkit lalu membungkukkan badannya hormat.

“Tunggu…” kata Direktur Lee. “Ada apa lagi, Direktur?” tanya Rai.

“Kau sudah makan siang dan melaksanakan ibadah mu, Rai-ah?” tanya sang Appa.

“Belum Appa, setelah ini aku akan melaksanakan semuanya.” Jawab Rai patuh.

“Bagus, walau Appa dan Eomma sedih dengan keputusan mu… tapi buatlah kami senang dengan rasa tanggung jawab mu terhadap apa yang kau putuskan untuk diri mu sendiri.” Kata Appa bijak.

“Ne Appa, aku akan melaksanakan kewajiban ku sebaik-baik nya. Karena ini adalah janji ku dengan Tuhan.” Kata Rai mantap.

Pemuda itu membungkuk kembali dan akhirnya pergi meninggalkan Direktur paruh baya yang notabene adalah Appa dari pemuda itu.

“Anak itu.” Direktur itu mendesis tajam setelah pemuda dihadapannya mengundurkan diri.

*****

Rynnie tampak sibuk menata ruangan di salah satu bilik café nya. Bilik yang berukuran besar itu tampaknya dapat menampung sekitar 25-30 orang. Ya, bilik café nya ini akan dijadikan tempat reuni sekolah nya besok.

Berbagai macam makanan sudah Rynnie serahkan sepenuhnya kepada bagian dapur. Café nya mungkin akan menyediakan makanan khas serta modern esok. Sekarang Rynnie dengan beberapa pelayan di café, melanjutkan pekerjaan mereka yang tinggal sedikit.

“Alhamdulillah, selesai juga.” Rynnie menatap puas hasil dekorasi dadakannya bersama beberapa pelayan café.

Para pelayan café yang membantunya sudah meninggalkan ruangan ini beberapa menit yang lalu. Rynnie tampak tersenyum puas melihat dekorasi sederhana tetapi cantik itu. Pada bagian depan bilik terdapat sebuah panggung kecil dengan taman buatan yang mengelilinginya, serta rumput jepang yang membuat taman itu terlihat hidup. Bintang-bintang buatan dengan warna kuning keemasan menjuntai dengan indahnya.

Rynnie dengan senyum mengembang melihat hasil karya dadakannya bersama dengan para pelayan café. Rynnie memikirkan bagaimana reuninya besok, pastilah sebuah moment yang menyenangkan. Bercengkrama dengan kawan lama mu, bercerita tentang kehidupan masing-masing, ohh… itu sungguh menyenangkan, pikir Rynnie.

Tapi seketika wajahnya menegang. Sosok itu… apakah dia akan hadir kali ini? Rynnie meringis kecil mengingat bayangnya yang sama sekali belum pernah ia temui selepas sekolah menengah atas. Rynnie tersenyum kecut membayangkan, bagaimana pendapat orang itu terhadap dirinya sekarang ini.

Sejujurnya Rynnie masih mengharapkan sosok itu datang kembali mengisi lembar harinya, tapi itu suatu yang mustahil karena ada sosok lain yang harus ia jaga perasaannya saat ini. Donghae. Sosoknya terlampau baik untuk Rynnie. Walau Rynnie masih belum bisa menetapkan hati, tapi Rynnie tidak bisa menampik bahwa dirinya terbawa dalam arus dunia Donghae.

Rynnie memutuskan untuk bergegas pulang, hari ini Donghae dan Kyuhyun akan pulang larut malam, sehingga mereka tidak bisa menjemput dirinya sekarang.

*****

Village Café

Rynnie POV

“Annyeong oppa.” Aku tersenyum melihat nama penelpon yang terpampang dilayar handphone ku.

“Nde… oppa… hari ini ada reuni sekolah menengah ku, aku akan pulang larut malam.” Kataku meminta ijin darinya.

“Sekitar pukul 11 malam oppa.” Kataku sedikit merajuk.

“Oppa… boleh ya? Ya?” Akhirnya aku merajuk, entah kenapa aku harus mendapatkan ijin pulang larut malam dari dirinya.

“…”

“Tempatnya di café ku, oppa tidak usah khawatir. Aku nanti bisa pulang dengan Yeon-ah, teman dekat sekolahku dulu.”

“…”

“Gomawo oppa.” Ujarku tersenyum menutup telepon.

Aku menunggu kedatangan mereka dengan mendengarkan musik dari handphone nya.

“Ry-ah?!” Seru sesorang memasuki café ku.

“Yeo-ah!” Aku terkejut melihat dirinya yang makin anggun saja.

Kami berpelukan satu sama lain. Melepas rindu yang membumbung.

“Hei, ada apa dengan mu? Apa yang kau pakai ini?” Soo Yeon memberondong ku dengan pertanyaan.

“A-aku muslim sekarang, Yeo-ah.” Jawab ku sambil tersenyum. Yeon mengernyit tak mengerti.

“Ayolah, tidak perlu menatap ku seperti itu.”

“Ry-ah, katakan pada ku bahwa kau tidak berubah sedikitpun.” Ancam Yeon.

“Aku tidak pernah berubah sedikitpun.”

Matahari telah lama tenggelam diujung laut sana. Satu persatu teman-teman senior high school ku mulai berdatangan. Kami terus bercengkrama. Sesekali kami berteriak senang, atau melempar banyolan ketika masa senior high school dulu.

“Anyeong.” Sebuah suara menginterupsi percakapan kami.

“Aigoo, Rai-ah… kenapa baru datang sekarang. Kami telah menunggu mu lama sekali.” Ucap salah satu teman laki-laki ku, Min Joo.

“Mian, aku menyelesaikan tugas dari kantor dulu.” Rai tersenyum kalem.

Omo… Ya Allah, dia datang. Raigil. Sosok yang mengisi hari-hari ku ketika senior high school dulu. Seseorang yang telah lama aku nantikan kehadirannya. Dan sekarang sosok itu nyata. Ada dihadapan ku.

“Apa kabar semuanya?” Sapa Raigil seraya membungkukkan badannya.

“Aigoo, tidak usah terlalu formal Rai-ah. Kajja duduk disini.” Min Joo berkata sambil menepuk kursi kosong disebelahnya.

Aku bergerak gelisah serta gugup. Apa yang dia pikirkan tentang aku sekarang. Menurutnya apa aku aneh. Ah, sudahlah. Kenapa harus memikirkan pendapatnya. Toh, aku sudah mengikhlaskan semuanya. Tapi benarkah aku sudah ikhlas.

Raigil berada diseberang tempat duduk ku. Dia menatapku dengan sedikit terkejut. Aku memakluminya. Semua orang yang pertama kali bertemu dengan ku pasti menunjukkan reaksi demikian.

“Ehmm, apa kabar Ry-ah?” Sapa Raigil sopan. Aku tidak memungkiri, dia terlihat tambah dewasa sekarang. Guratan garis wajahnya terlihat kukuh, dengan alis yang membingkai garis wajahnya.

Aku menatapnya dengan senyum. “Aku baik, sangat baik.”

“Hari ini, pertama kalinya kita berkumpul setelah sekian lama. Nah, mari kita minum. Cheers!” Seru Min Joo.

Teman-teman ku menyatukan gelas-gelas soju mereka, dan menenggaknya dengan bahagia. Ya, café keluarga kami memang seperti café pada umumnya. Menyediakan soju atau anggur dengan berbagai merk.

Aku tidak setuju. Tentu, karena itu minuman haram. Tapi aku tidak berdaya, soju sudah menjadi budaya di negeri ini. Dan aku orang aneh yang berada di tengah-tengahnya. Tanpa ada teman yang bisa aku ajak berdiskusi atau sekedar mencurahkan perasaan tentang hal itu.

“Kau tidak minum Ry-ah?” Tanya Raigil.

“Aku tidak minum minuman beralkohol. Tidak baik untuk kesehatan.” Kata ku berkilah.

“Benar. Aku juga tidak minum minuman beralkohol.”

Aku hanya tersenyum menanggapi. Aku bingung harus membicarakan topik apa kepadanya. Hal ini tidak baik menurut ku, karena jauh sebelumnya kami sangat dekat.

Aku melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan ku. Astagfirullah. Aku belum menunaikan kewajiban ku sholat Isya.

“Ry-ah, dimana letak toilet nya?” Tanya Raigil tiba-tiba.

“Kau mau ke toilet? Mari aku antar. Aku juga mau ke toilet.”

Kami berpamitan dahulu sebentar kepada teman-teman. Alhasil, kami mendapat pandangan curiga dari mereka. Terutama Soo Yeon.

“Ini toilet pria.” Aku menunjukkan toilet pria yang memang berada persis di samping toilet wanita.

Akupun segera masuk. Menguruti rangkaian cara wudhu. Setelah merapikan jilbab ku, aku bergegas keluar menuju tempat yang memang sengaja aku buat untuk ibadah.

Aku bertemu Raigil di pintu luar toilet. Wajah dan rambutnya yang agak basah, sepertinya dia habis mencuci muka.

“Ry-ah… apakah ada tempat yang bisa aku gunakan untuk ibadah sholat disini?” Raigil bertanya.

Aku terlonjak kaget mendengar pertanyaannya.

“E..Eh?”

“Perlu aku ulangi lagi pertanyaan ku?”

“Ta.. Tapi benarkah Rai-ah?” Raigil mengangguk.

“Adakah? Aku belum menunaikan sholat Isya.”

“A.. Ada. Aku juga mau sholat Isya.” Aku diam, masih susah mencerna kata-kata Raigil. Jadi, Raigil seorang muslim sekarang? Sama seperti ku.

“Tunjukkan Ry-ah, kita sholat berjamaah. Dan nanti aku akan menceritakan banyak hal kepada mu.”

“Ah, iya. Ayo.” Aku berjalan. Masih dalam kondisi linglung.

*****

Author POV

Di ruang itu, tengah khusyuk dua orang yang terlihat beribadah. Ruangan dengan luas tiga kali tiga meter itu hanya dilengkapi selembar karpet dan lemari yang berisi dokumen-dokumen pemasaran tiap bulannya.

Imam telah mengucapkan salam sebagai tanda berakhirnya ibadah. Rynnie telah selesai melaksanakan kewajibannya sebagai hamba. Sampai satu orang di depannya –sebagai imam yang duduk membelakangi, membalikkan badan.

“Kau juga berhutang banyak cerita kepada ku, Ry-ah.” Ucap Raigil.

“Kau juga Tuan.” Jawab Rynnie jahil.

“Oke, kita selesaikan segera.”

“Jangan disini, teman-teman masih menunggu disana. Lebih baik kita bicara diluar saja.” Usul Rynnie.

“Oke. Kita temui mereka sekarang.” Mereka keluar menemui teman-teman mereka kembali.

“Kalian berdua dari mana saja, eoh?” Tanya Soo Yeon lagi.

“Kami dari toilet.” Jawab Rynnie. Mata mereka menyelidik ke arah dua orang tersangka itu. Menyadari ucapannya salah, Rynnie menutup mulutnya dengan wajah yang tertunduk malu.

“Kalian bersama di toilet? Omo… apa yang kalian lakukan!” Soo Yeon memekik.

“Yak! Apa yang kau pikirkan Soo Yeon! Pabo!” Rynnie berkata dengan menaikkan setengah oktaf.

“Ketika aku keluar dari toilet, aku bertemu Rynnie dan kami kemari bersama.” Raigil menjelaskan dengan kalem.

“Aku harap memang seperti itu.” Soo Yeon berkata lirih. “Memang kejadiannya seperti itu Soo Yeon. Tidak kurang, tidak lebih!” Rynnie menggembungkan pipinya kesal.

“Sudahlah, memang dia terlalu cakap berbahasa. Jadilah bahasa yang dipakainya selalu ambigu.” Raigil menatap Rynnie dengan senyum jahilnya. Rynnie hanya mengerucutkan bibirnya kesal.

Raigil tertawa melihat Rynnie jengkel dengan ucapannya tadi. Rynnie melihatnya dengan tatapan lembut karena sudah sekian lama Rynnie tidak melihat Raigil tertawa. Ada pendar lain yang muncul ketika Rynnie melihat tawa Raigil.

Suatu kerinduan yang sekian lama muncul kembali, menjejakkan kakinya pada lahan kosong yang dahulu pernah di singgahi seorang Raigil.

Rynnie mendesah pelan, ia tahu ini tidak boleh terjadi. Keadaan sudah berubah sekarang. Ada seseorang yang mungkin menunggu dia. Seseorang yang belakangan ini menjadi pengisi hari-harinya.

Lee Donghae.

“Nah jadi kapan kau akan menikah Ry-ah?” Soo Yeon bertanya.

Raigil menatap Soo Yeon sesaat dan kemudian menatap Rynnie penuh tanya.

“Eumm, aku tidak bisa memastikan…” Rynnie bergerak gelisah menghindari tatapan penuh tanya Raigil. Raigil masih menunggu Rynnie untuk berbicara.

“Donghae oppa belum mengatakan apa-apa kepada ku.”

“Aigoo, apa lagi yang kalian tunggu… Kalian berdua sudah cukup umur, Donghae oppa mu tersayang sudah mapan. See, alasan apalagi yang bisa kalian buat.” Soo Yeon menyerocos panjang lebar.

Rynnie tersenyum simpul. “Jangan mengurusi aku Yeon-ah, kau sendiri kapan?”

Soo Yeon hanya nyengir tersipu. “Aku sedang membahas kau Ry-ah, kenapa jadi bertanya kepada ku…”

Rynnie tertawa renyah. Rynnie mengarahkan pandangannya ke arah Raigil. Raigil balas menatapnya dengan tatapan penuh tanya, Rynnie menanggapi dengan senyum kecil.

“Jadi, kau akan menikah dengan siapa… Ry-ah?” Raigil bertanya.

“Aku tidak tahu akan menikah dengan siapa, entah dengan Donghae oppa atau dengan siapa… Rai-ah, kita tidak pernah tahu dengan siapa kita berjodoh bukan?”

“Ya! Apa yang kau katakana Ry-ah, kau akan menikah dengan Donghae oppa!” Soo Yeon memprotes.

“Kita tidak pernah tahu apa yang ada di kehidupan besok Yeon-ah.”

“Kau kan sudah bertunangan dengan Donghae oppa.” Soo Yeon berargumen.

“Tidak pasti aku akan menikah dengannya kan…”

“Jadi kau berencana meninggalkannya?”

“Aniyoo, aish sudahlah Yeon jangan bahas ini.” Rynnie mendengus jengkel.

Raigil memperhatikan percakapan Rynnie dan Soo Yeon. Raigil paham sekarang, Rynnie telah bertunangan dengan seorang laki-laki bernama Donghae.

Awal mereka bertemu Raigil sempat schock melihat Rynnie dengan keadaan berbeda. Raigil yakin penutup kepala yang dipakai Rynnie adalah jilbab. Identitas dirinya sebagai seorang muslimah. Dan benar saja, mereka berdua melaksanakan ibadah yang sama. Harapan terbuka lebar. Namun kini, rasanya semakin menyempit.

Acara telah usai, café kini kembali lengang. Rynnie masih membantu beberapa pelayan membersihkan ruangan. Soo Yeon dengan terpaksa pulang terlebih dahulu karena adiknya mendadak sakit.

Raigil. Sosok itu masih berada diruangan ini bersama Rynnie walaupun teman-teman mereka telah lama pamit.

Rynnie mendekati Raigil yang sedang duduk memainkan ponselnya disalah satu meja.

“Kau belum pulang?”

“Aku ingin bicara dengan mu.” Raigil menatap Rynnie. Rynnie menunggu Raigil berbicara.

“Sebenarnya aku bingung harus mulai darimana.” Raigil menghela napas.

“Kau ingin tahu kenapa aku bisa menjadi muslim?” Tebak Rynnie. Ragil mengangguk.

Rynnie menceritakan pengalamannya kuliah di Indonesia. Mengenal budayanya, memiliki teman-teman muslim, sampai akhirnya memutuskan menjadi seorang muslim.

“Nah bagaimana dengan mu, aku dengar kau pergi kuliah di Turki. Aku kira cerita kita hampir sama.” Rynnie tersenyum.

“Ya benar, lalu bagaimana dengan orangtua mu?”

“Awalnya mereka menentang, tapi Alhamdulillah mereka akhirnya bisa menerima ku. Apakah kau dibuang Rai-ah?” Rynnie bertanya dengan ekspresi khawatir.

“Ne, aku dibuang.” Raigil menunduk.

“Omo, dimana kau tinggal? Kau bekerja? Bagaimana mungkin kau di..” Perkataan Rynnie terpotong.

“Kenapa kau masih cerewet Ry-ah…”

“Apa yang kau katakan, aku hanya mengkhawatirkan mu. Memangnya salah aku mengkhawatirkan mu?” Rynnie bersungut-sungut sebal.

Raigil menatap Rynnie dengan tatapan jahil. Tak lama kemudian, Raigil tertawa.

“Apa yang kau tertawakan? Kau pikir aku lucu!”

“Menyenangkan melihat mu marah Ry-ah. Faktanya aku hanya ingin menjahilimu. Aku masih hidup dengan orangtuaku, dan sekarang aku bekerja di kantor keuangan milik pemerintah.”

“…”

“Awalnya mereka juga tidak menerima ku, tapi persis dengan yang kau bilang… mereka menerimaku sekarang.” Raigil melanjutkan ceritanya.

“Apa yang kau lakukan Rai-ah, aku benar-benar mencemaskan mu tadi.”

“Mian, tapi aku suka sekali mengerjai mu. Hah, ini pertama kalinya aku melakukannya lagi selepas senior high school.” Raigil tertawa senang.

“Kau sama sekali tidak berubah Rai-ah.”

“Kau juga.” Hening menyergap mereka.

“Eum… jadi benar kau akan menikah dengan Donghae?” Rynnie hanya menghendikkan bahu.

“Sudah ku bilang, Dia yang nanti menentukan. Ya, aku akan menikah dengan Donghae oppa tapi baru akan. Kita hanya bisa berencana tapi Dia yang memutuskan.”

“Apakah dia seorang muslim?” Raigil bertanya hati-hati.

“Bukan, atau mugkin belum.” Rynnie tersenyum kecut.

“Apakah dia bersedia menjadi muslim?”

“Entahlah, Donghae oppa sangat menghargai keyakinan ku, yah dia pernah mengatakan tertarik dengan islam tapi entahlah.”

“Apa kau tetap akan menikah dengannya meski dia bukan seorang muslim?”

“Rai-ah berhenti bertanya mengenai hal itu. Aku terlalu pusing menjawabnya!” Rynnie mendadak kacau. Ini terlalu rumit bagi Rynnie. Perbedaan dengan Donghae, rasa yang lamat-lamat hadir, ditambah dengan kemunculan Raigil kembali dengan banyak persamaan, terutama prinsip.

Meski Rynnie masih awal belajar, namun jauh di dasar hati gadis itu. Dia menginginkan seorang pemimpin yang benar-benar memimpinnya. Menjadi qawwamnya. Menjadi qarinya yang membacakan ayat-ayat suci itu.

“Kau mencintainya?” Raigil sudah tidak mendengarkan lagi perkataan gadis di hadapannya itu. Raigil pertama kalinya menjadi egois untuk saat ini.

“Apa yang disebut cinta itu…” Mata Rynnie datar  mendengar Raigil bertanya. Cinta. Cinta itu masih untuk Raigil. Walau ada rasa lamat-lamat yang muncul ketika Rynnie bersama Donghae, tapi keseluruhan rasa itu milik Raigil.

“Apa kau mencintaiku?” Tanya Raigil sendu tapi memancarkan rasa yang lain. Cukup bagi mereka melihat orang dihadapannya itu. Itu cukup menerjemahkan isi hati mereka.

Rynnie bergeming, mencoba menerjemahkan apa yang tengah terjadi sekarang. Rasanya bercampur aduk, ingin rasanya menghambur ke pelukkan Raigil dan mengakatakan aku sangat mencintaimu. Tapi sekali lagi, ada benteng pembatas itu.

“Apa yang kau katakan…”Rynnie berkata dengan suara bergetar.

“Menikahlah dengan ku.” Raigil berkata mantap.

****

TBC

Gerimis

27880_124196814283327_100000790283993_121694_106653_n

 

Teruntuk jiwa-jiwa yang masih dalam genggaman damba, karena suatu keadaan. Karena cinta adalah hal yang rasional. Tidak terhingga selaksa lipatan lingkaran, namun dapat dihitung kadarnya.

Karena cinta adalah sebuah kosa kata ‘lamar’ dengan memakai konsep peluang. Seperti berjudi di salah satu meja kasino. Kau mencoba bertaruh. Ya atau tidak.

Tetapi bukan dadu dengan mata sama yang keluar menjadi tolak ukur kemenangan. Kau tidak sedang berjudi dengan media dadu. Kau sedang berjudi dengan Tuhan mu. Dengan media amalan-amalan baik mu.

***

Gerimis. Rangkaian cara untuk menikmati hujan. Dia lebih tahu bagaimana caranya. Tanpa ada benci yang harus dilepaskan kepada tanah yang menjadikannya tiada.

Lumat seluruh rasa haram yang terlalu lama bersemayam di dasar hati. Menghadirkan aroma syahwat yang sering kali menggebu.

Sampai sekarangpun itu masih abu-abu. Selaksa kayu yang termakan dalam lapuk.

Gerimis. Idealnya dia melumat seluruh rasa haram yang ada. Sampai kayu-kayu itu habis karena lapuk.

Bersilat alibi mungkin menjadi opsi yang dipilih. Ketika nurani menentang hati.

Rasa ngilu yang ada pasti mengganggu. Mungkin sekaligus nikmat secara bersamaan.

Harapan. Kau berlindung dalam benteng kata itu. Tapi apa daya, riak itu kadang menampakkan diri dalam wujud yang berbeda.

Mungil sekali dirimu. Tangan harapan juga tidak bisa diremehkan. Namun banyak pintu syaitan terbuka.

Opsi terakhir dari ini semua, kembalikan segalanya pada pemilik Nya. Lalu akhiri seluruh rasa yang terlalu lama bersemayam di dasar sana. Kikis habis atau secara berani bertanggungjawab.

***

 

Sukabumi, 26 Agustus 2013

Sebuah Kudeta

BR57vrxCUAArvxA

Jubah keadilan dilepas dari tempatnya. Jerit nyeri dan perlawanan terus bergulir. Bau anyir darah terus tercium diantara mencekamnya jalan.

Dengung peluru dan senapan bersahutan merentet berbunyi. Gerakan persatuan tergalang semakin kuat. Membuat jengah serigala berbulu domba yang berkeliaran dijalan-jalan protocol.

Ribuan tubuh yang sudah tak bernyawa lagi tergeletak, wajah sejuk layaknya bayi yang tengah tidur. Mereka menjemput syahid di jalan dan gang-gang yang menjadi arena pertempuran.

Mereka sudah tenang disana. Jelas. Mereka telah mengorbankan segalanya. Termasuk satu-satunya nyawa yang mereka punya.

Ya. Serigala berbulu domba itu pantas jengah, pantas bergidik takut dengan hanya melihat perlawanan sederhana mereka.

Mereka dengan setianya terjun langsung di arena pertempuran. Dengan senjata sederhana atau mungkin tanpa senjata.

Merekalah aktor dan aktris utama dalam laga itu. Dengan segala totalitas, mereka mengembalikan jubah keadilan yang direngut paksa dari tempatnya.

Merekalah saudara kita. Meski jarak ribuan mil memisahkan, meski kita tidak pernah berjumpa wajah, dan meski kita tidak ada jalinan silsilah kerabat. Tapi hati-hati kita terkait satu dengan lainnya karena Nya. Selaksana kartu domino. Satu jatuh, jatuh semua.

Kita disini, saudara yang ribuan mil jauhnya dari mereka. Kondisi kita disini yang tidak memungkinkan menengok mereka disana. Keaadaan gemetar takut yang mendominasi ketika harus terjun langsung dalam laga.

Keadaan apapun yang tidak memungkinkan kita berada disana. Tidak berlebihan bukan jika kita terus mengingat mereka yang tengah berjuang disana dalam doa-doa kita? Hal terkecil yang dapat kita lakukan disini sebagai saudara.

Sukabumi, 25 Agustus 2013

***

Berkaca-kaca saya nulis ini, mengingat saudara-saudara kita yang di Mesir sana. Semoga Allah memenangkan Islam disana, begitu juga Palestina, Suriah, Rohingya. Allah pasti memenangkan Islam. InsaAllah. Karena Allah pembuat skenario segala hal yang terjadi. Selagi kita berusaha maksimal.